"Dek..." seru Mas Rayyan. "Dalem," ucapku sambil memakaikan baju pada si bungsu, Rafina. "Mana dompet Mas?" Aku menghembuskan nafasku kasar. Duh suamiku ini gak pernah berubah. Sikap pelupanya itu loh. Untung cinta. "Di meja kerja coba cari!" Hening. "Gak ada," teriaknya. "Coba di meja rias Mas, kalau enggak di lacinya kalau enggak di kasur. Tadi malam kayaknya Mas ngambil uang buat beli bakso dech." Aku melanjutkan mendandani putri kecilku. "Gak ada Dekkkkk." Huft... Setelah selesai dengan putri bungsuku, aku segera masuk ke kamar melewati Mas Rayyan yang sibuk memporak-porandakan kamar. Lalu langsung mencari dompet Mas Rayyan yang ngumpet di sela-sela tumpukan bantal. "Ini apa Mas?" aku menyerahkan dompet kepadanya. Dia cuma menampilkan senyum pepsodentnya. Duh, manis. "Mas..

