POV Ayana Aku tengah menangis di depan sebuah pusara ditemani para eyang, Pakdhe Wisnu dan suamiku, Mas Royyan. Suaraku sampai sesenggukan rasanya. Ya Allah, umur manusia memang tidak ada yang tahu. Mas Royyan menghampiriku lalu mengelus kepalaku penuh kasih sayang. "Setiap yang bernyawa pasti akan mati, sudah jangan ditangisi lagi. Bukankah lebih baik didoakan agar diterangi alam kuburnya." "Iya Mas." "Udah ayok balik." "Iya." Kami akhirnya memutuskan pulang, sedangkan Pakdhe Wisnu masih ingin menemani pusara orang terkasihnya. Kami akhirnya meninggalkannya dengan ditemani oleh Bon dan Bin yang berada tak jauh dari makam tentu dengan menyamar. Setelah melalui berbagai masalah dan cobaan akhirnya kami sedikit merasa tenang. Berita penggrebegan di rumah elit di daerah Purwojati

