"Ayo kembali!" titah Rafiqa. Namun sebelum mereka kembali mereka sudah dihadang oleh seseorang yang berjalan secara terpincang-pincang bersama beberapa anak buah yang mengarahkan senjatanya ke tiga sekawan. "Gak mungkin. Kamu?!" lirih Sasa tak percaya. Fiqa tak kalah kaget, sedangkan Aldo seperti sudah tahu sehingga ekspresinya datar. Nampaknya justru momen ini yang sedang ditunggu oleh Aldo. Fiqa mengepalkan tangannya dan hendak menerjang Pandu. Namun, sebuah remasan pada lengan kanannya membuat niatnya tertunda. Fiqa menoleh ke arah Aldo. Aldo menggelengkan kepalanya sebagai isyarat agar Fiqa jangan gegabah karena percuma saja. Mereka kalah jumlah dan musuh pun memiliki senjata. Fiqa membenarkan isyarat Aldo. Iya, mereka kalah jumlah dan hampir semuanya membawa senjata. "Ini maksud

