Sesion 2 : 9. Semanis Vanila

1670 Kata

Aku menoleh kearah Fiqa, raut mukanya memerah ketika melihat Elang dan Ayana berpelukan. Dia seperti ingin meremukkan sesuatu. Apa dia seperti aku, merasa ... cemburu. Oh tidak. Fiqa juga tampak menggeleng-gelengkan kepalanya. "Kamu cemburu?" lirihku. "Enggak." Fiqa memalingkan mukanya terlihat sebal. "Kamu kok disini? Eyang Aditya nyari-nyari kamu terus loh. Sampai sakit juga." Kudengar Elang mulai bicara. "Habis Eyang nyebelin, main jodohin aku segala. Mana calonnya buaya cap kadal buntung juga," sungut Ayana. "Tapi gak maen kabur gini juga kali Ayana." "Tau ah. Kok Mas El disini?" "Kamu lupa ya, Purwokerto itu tanah kelahiranku, Papahku, sama Eyang kamu." "Ooo. Apa?!" pekik Ayana. "Jadi?" Ayana melihat ke arah Elang dengan tatapan tak percaya. "Jadi kamu itu punya darah Purw

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN