4. Sikap Diam

1115 Kata
"Aku akan membantu calon tunanganmu, Mas," ucapnya melangkah pergi. Seketika Bagas mengurut pelipisnya sendiri yang mendadak pusing. Dia benar-benar tidak tahu jika Luna bekerja di butik ini. Tak lama Alysa dan Luna kembali. Kekasihnya itu tampak cantik menggunakan salah satu gaun putih dengan look yang simpel dan elegant. "Sayang, lihat. Bagus, ya?" ucap Alysa memutar tubuhnya seraya memamerkan gaun indah itu. Bagas mengangguk. Sesekali dia melirik Luna yang sejak tadi tampak diam. Sejujurnya Bagas khawatir jika tiba-tiba Luna keceplosan soal hubungan mereka. Tapi sepertinya perempuan itu paham, Luna betul-betul tutup mulut dan terlihat sangat profesional dalam bekerja. "Ini lebih bagus dibanding yang tadi," ucap Bagas. Alysa mengangguk setuju. "Luna yang memilihkan. Seleranya sangat tinggi." Sontak Bagas melirik istrinya, begitupun dengan Luna yang membalas tatapan itu dengan raut datar. "Aku ambil yang ini. Tolong bungkuskan untukku," ucap Alysa. "Apa ada tambahan lagi, Nona?" "Tidak, itu saja." Luna mengangguk. "Baiklah." Dia bergegas membuatkan nota pembelian untuk Alysa. Selesai membeli gaun, Bagas dan Alysa beranjak pergi. Sepanjang jalan pria itu lebih banyak diam, dia seperti tidak mempedulikan Alysa yang sejak tadi mengajaknya berbicara. "Apa kau baik-baik saja?" tanya Alysa memandang cemas. "Aku baik-baik saja. Memangnya kenapa?" "Kulihat sejak tadi kau hanya diam. Apa terjadi sesuatu?" Bagas menggeleng lemah. "Hanya masalah kecil, tidak ada yang perlu dikhawatirkan," ujarnya. "Pasti soal pekerjaan," celetuk Alysa malas. Bagas tersenyum kecil. Setelah mengantarkan Alysa pulang, Bagas kembali pergi ke kantor untuk menyelesaikan tugasnya. Belakangan pabriknya mengalami kemerosotan produksi, Bagas khawatir jika hal ini terus dibiarkan bisa membuat perusahaan merugi. Setibanya di kantor dia sudah disambut Julian yang memegang beberapa map penting. "Apa ada masalah lagi?" tanya Bagas seraya duduk di bangkunya. Julian mengangguk. "Bulan ini pabrik hanya memproduksi 70% dari jumlah produksi biasanya. Kita sudah hampir rugi jika hal ini tetap dibiarkan." "Tidak biasanya permintaan makanan kaleng menurun. Apa terjadi masalah di lapangan?" "Gio sudah datang ke beberapa supermarket yang menjadi mitra, belakangan memang permintaan produk kita sedang tidak bagus. Malahan beberapa mitra sudah tidak mau lagi bekerja sama, mereka tidak mau menerima produk kita lagi," jelasnya. "Pasti ada yang salah," ucap Bagas. Pria itu memandang grafik produksi yang Julian berikan. Penurunan yang dialami perusahaan sangat signifikan, dia tidak bisa membiarkan semua ini begitu saja. " ... kita datang ke pabrik besok. Lakukan audit dadakan dan jangan beri tahu siapa pun, mengerti?" Julian mengangguk patuh. Dia kemudian menyiapkan beberapa berkas laporan dari pabrik untuk dicek keasliannya besok. "Soal Luna, bagaimana?" tanya Julian tiba-tiba. Bagas mengernyit. "Maksudmu?" "Aku tahu kau tidak mungkin mencintai Luna, jadi bagaimana? Apa kau masih tetap ingin mempertahankan rumah tanggamu? Kalau tidak ..." Julian tidak melanjutkan ucapannya, pria itu justru tersenyum tipis. "Kalau tidak apa?" "Kalau tidak biar aku yang merawat istrimu," ujarnya tekekeh. "Tutup mulutmu atau aku yang akan menutupnya!" seru Bagas kesal. Julian kembali tertawa. "Tuanku ini sangat rakus sekali rupanya." "Apa maksudmu, Julian?" "Bukankah kau sudah memiliki Alysa, kenapa masih mencari Luna? Omong-omong, bagaimana hubunganmu dengan Alysa, Tuan? Apa dia belum tau jika kau sudah menikah?" Mendengar pertanyaan itu, seketika Bagas mengembuskan napas panjang. "Alysa dan Luna baru saja bertemu," ucapnya. Julian terkejut. "Jangan bilang kau sengaja mempertemukan mereka?" tebaknya. "Tidak. Alysa mengajakku membeli gaun pertunangan. Aku tidak tahu jika perempuan itu bekerja di butik ternama." "Lalu?" "Seperti dugaanmu, mereka bertemu." "Lalu bagaimana? Apa Luna mengatakan sesuatu? Apa Alysa tidak marah kepadamu?" Bagas mendecak. "Kau ini sebenarnya sekretaris atau wartawan? Luna tidak mengatakan apapun, perempuan itu hanya diam," jawabnya sedikit malas. "Jadi Alysa belum tau soal pernikahan kalian?" "Jangan sampai dia tahu." Julian menghela napas. "Aku kasihan pada istrimu, dia pasti berpikir yang tidak-tidak. Kalian baru dua hari menikah, tapi dia sudah mendapati suaminya pergi dengan perempuan lain. Apa kau tidak memikirkan perasaannya?" Bagas terdiam sebentar, dia kemudian menutup map tersebut sembari memandang ke arah luar. Bukan, Bagas bukan khawatir dengan perasaan Luna. Dia hanya takut Luna menceritakan kejadian siang tadi pada mamanya. "Tapi kulihat sepertinya kalian sangat menikmati pernikahan ini," sambung Julian dengan senyum simpul. Bagas mengernyit. "Maksudmu?" Julian tidak membalas, dia melirik leher Bagas yang meninggalkan beberapa bercak merah di beberapa bagian. Sadar ke mana arah pandangan Julian, Bagas cepat-cepat menutupi lehernya sembari mendecak kasar. "Ini karena Alysa, bukan perempuan itu!" seru Bagas. "Kau benar-benar tidak serius dengan Luna rupanya." "Tentu saja. Aku hanya akan menikahinya selama dua tahun, setelah itu baru aku akan menikahi Alysa. Lagi pula, mana mungkin aku mencintai gadis murahan itu," ujar Bagas melipat kedua tangannya. *** Malam harinya, Luna yang baru saja pulang bergegas mandi dan membuatkan makan malam untuk Bagas. Dia khawatir suaminya pulang belum ada hidangan untuk mereka makan malam. Benar saja, tidak berselang lama Bagas pulang sembari melempar tasnya sembarangan. "Aku sudah siapkan makan malammu, Mas," ucap Luna menyambut kedatangan suaminya. Bagas melirik penampilan Luna sebentar, dia mengangguk lemah. Pria itu kemudian duduk di meja makan dengan Luna yang mulai menyajikan beberapa menu makanan. "Mau ke mana kau?" tanya Bagas melihat Luna yang hendak pergi itu. "Ada yang perlu dibereskan," jawab Luna tanpa melirik sedikit pun. "Duduk." "Eh?" Luna menatap bingung. "Aku bilang duduk!" ulang Bagas lagi. Luna menurut. Dia duduk dan mulai menyantap makan malamnya. Mendadak suasana berubah hening. Di rumah yang cukup luas itu hanya terdengar suara sendok dan garpu. Tidak ada yang berbicara, keduanya saling diam. Terutama Bagas. Pria itu beberapa kali mencuri pandang ke arah Luna, hanya untuk memastikan apakah istrinya itu berniat buka suara. Tapi hingga detik ini nihil. Sampai makan malam selesai pun Luna sama sekali tidak menanyakan kejadian di butik siang tadi. Bukannya tenang, Bagas justru semakin cemas. Dia khawatir jika tiba-tiba perempuan ini berbicara kepada mamanya. Begitu Luna bangkit membawa piring-piring kotor ke belakang, Bagas buka suara. "Kuharap kau tidak menceritakan kejadian siang tadi ke mama," ucap Bagas sontak menghentikan langkah Luna. Perempuan itu melirik sekilas, tanpa merespon apa-apa dia kembali melangkah pergi. Pagi-pagi sekali Luna yang masih menggunakan piyama itu menghidangkan kopi untuk Bagas dan Julian. Semalam dia dengar Julian datang untuk membicarakan masalah kantor, dan pagi ini keduanya juga melanjutkan pembicaraan yang entah soal apa. Luna tidak cukup mengerti. "Tidak perlu repot-repot, Lun," ucap Julian sembari memperhatikan Luna yang menghidangkan kopi itu. Dia terus memperhatikan gerak-gerik Luna bahkan hingga perempuan itu kembali ke dapur. Sadar dengan tatapan Julian, Bagas menghela. Pria itu berpamitan pergi menyusul Luna yang masih menyiapkan sarapan di dapur. "Apa begitu caramu berpakaian di depan tamu?" seru Bagas membuat Luna tersentak kaget. "Maksudmu apa, Mas?" Bagas mendecak. Dia memperhatikan penampilan Luna yang hanya dibalut piyama di atas lutut itu. "Lain kali jangan gunakan pakaian itu. Aku tidak suka Julian melihatmu begitu!" serunya kemudian melangkah pergi. Luna bergeming, dia memperhatikan penampilannya sendiri yang menurutnya tidak ada masalah. Sesaat, dia menghela napas. "Kurasa penampilanku baik-baik saja. Matanya saja yang hanya bisa melihat kesalahanku!" decaknya melangkah pergi.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN