1. Gadis Pelunas Hutang
“Saya tidak mau tau, segera lunasi hutang-hutangmu, Sekar. Ini sudah lewat dari jatuh tempo!”
“Bu, saya mohon keringanan. Saya belum ada uang sebanyak itu. Saya janji bulan depan akan saya cicil beserta bunganya.”
"Tidak bisa, ini sudah terlalu lama. Atau begini saja." Dewi melirik gadis di balik gorden rumah itu, lalu tersenyum simpul. " ... jika kau tetap tidak sanggup membayar hutangmu sampai minggu ini, saya mau salah satu anak perempuanmu menikah dengan putraku sebagai gantinya. Apa kau sanggup?"
Tanpa pikir panjang Sekar menyetujuinya. "Iya, Bu. Saya sanggup. Salah satu putri saya akan menikah dengan putramu sebagai jaminannya," jawab Sekar disambut senyum tipis oleh Dewi.
"Ibu jual Luna demi hutang?" seru Luna begitu wanita bernama Dewi itu pergi.
“Ibu terpaksa menyetujui permintaan Bu Dewi, tidak ada pilihan lain. Lagi pula kamu sudah tua, sudah waktunya menikah. Mau menunggu apalagi?”
"Bu, Luna tidak mau menikah dengan orang yang Luna tidak kenal!"
“Jangan durhaka kamu, Luna. Ibu berhutang pada bu Dewi juga karena menyekolahkan kamu. Sekarang sudah seharusnya kamu yang bertanggung jawab melunasi hutang-hutang itu. Jangan melawan!"
"Tapi tidak harus dengan menikah kan, Bu? Luna bekerja, pakai semua gaji Luna untuk menyicil hutang Ibu. Tapi tolong jangan nikahkan Luna."
"Tidak bisa, pokoknya kamu harus tetap menikah! Ibu tidak mau tau, ibu sudah lelah memikirkan hutang peninggalan bapakmu!" ucapnya berjalan pergi.
Lutut Luna seketika melemas. Sejak ayahnya wafat, dia memang tidak pernah memiliki tempat bercerita. Bahkan ibu dan adiknya sendiri pun tidak pernah menganggapnya ada. Mereka hanya menganggap Luna sebagai penyebab atas kesulitan perekonomian keluarga.
“Raya, tolong kamu bilang ke ibu, mbak tidak mau menikah ...”
“Udahlah, Mbak. Jangan drama. Lagian bu Dewi itu orang kaya, Mbak bakalan hidup enak nikah sama anaknya bu Dewi,” balas Raya.
“Tapi mbak belum ingin nikah, Dek. Mbak masih mau kerja, nyekolahin kamu.”
“Nyekolahin Raya? Gaji Mbak aja nggak cukup buat makan, sok-sokan nyekolahin Raya. Udahlah, terima aja, Mbak. Kalo Mbak nikah sama anaknya bu Dewi, ibuk nggak usah capek-capek nyari duit buat bayar utang. Lagian utang itukan juga gara-gara nyekolahin Mbak, adil dong kalo Mbak yang bayar. Hidup tuh harus berkorban, Mbak. Enak aja cuma numpang enak!" ucap Raya kemudian melangkah pergi. Menghampiri Sekar yang sedang duduk melipat baju di depan televisi.
“Buk, kok bu Dewi mau sih jodohin anaknya sama mbak Luna? Bukannya bu Dewi kaya raya, kenapa nggak nyari mantu yang sama-sama kaya aja?" tanya Raya.
"Oh itu, ibu denger anaknya bu Dewi memang kekurangan. Makanya tidak menikah sampai sekarang. Mana ada perempuan yang mau menikah dengan orang kekurangan," jawab Sekar.
"Terus mbak Luna gimana?"
"Sudah biarinkan saja, yang penting hutang ibu lunas dulu. Masalah mbakmu ibuk tidak peduli," jawab Sekar santai.
Luna yang mendengar itu seketika menghela. Dia tahu, di rumah ini kehadirannya memang tidak pernah diharapkan. Memang sudah seharusnya dia tahu diri. Mungkin dengan menerima pernikahan itu, dia bisa membalas semua jasa ibunya. Mungkin dengan begitu ibunya bisa menerima dan menganggapnya sebagai anak, seperti ibunya memperlakukan Raya dengan baik.
***
“Dari mana saja kamu?” Suara Dewi menghentikan langkah putranya yang baru pulang pukul 12 malam itu.
Bagas Gavindra, dia merupakan putra satu-satunya di keluarga Gavin.
“Kerja,” ucap Bagas.
“Kerja apa sampai jam segini? Kamu pikir mama tidak tau? Orang kantor bilang kamu sudah pulang dari jam enam tadi.”
"Ck! Mama kenapa sih selalu saja stalking Bagas? Bagas sudah dewasa, Ma. Jangan terus-menerus menyuruh orang untuk mengikuti Bagas. Bagas risih!"
"Kamu tau kan mama belum bisa membiarkan kamu begitu saja, kata dokter kamu masih butuh pengawasan."
"Bagas baik-baik saja, Ma. Jangan berlebihan."
"Mama bukan berlebihan, Bagas. Mama hanya ingin kamu sehat, itu saja. Mama ingin kamu seperti anak-anak lain yang menjalani hidup dengan normal, menikah, menjalani kehidupan berumah tangga. Bukan seperti ini. Pulang kerja tidak jelas ke mana arahnya."
Bagas mengurut pelipisnya sendiri yang mendadak pusing itu.
"Ma, please. Jangan membicarakan soal pernikahan lagi, Bagas belum ada keinginan menikah, oke?"
"Tidak bisa. Mama sudah siapkan calon untuk kamu. Mama ingin kamu menikah secepatnya!"
"Apa?!" Bagas mendelik, menggeleng tidak percaya. "jangan bercanda, Ma. Bagas tidak suka perjodohan seperti ini. Bagas bisa cari istri sendiri!"
"Mama serius, Bagas. Mama mau kamu menikah secepatnya, kalau bisa minggu ini."
"Ma, tapi—"
"Kali ini mama maksa," potong Dewi.
Bagas menatap wanita yang berjalan pergi itu dengan kesal. Seumur-umur dia tidak pernah membayangkan akan dijodohkan seperti ini.
***
Benar saja, keesokan harinya Dewi memaksa Bagas untuk bersiap-siap. Dengan malas Bagas menuruti kemauan orang tuanya itu.
"Bagas, ayo cepat!” seru Dewi.
"Iya, Ma. Sebentar."
Tak lama Bagas menghampiri Dewi sembari memasang jam tangan mahalnya.
"Ayo, keluarga Bu Sekar pasti sudah menunggu," ucap Dewi menarik lengan putranya dengan tidak sabaran.
Di lain sisi, Sekar yang sudah tampil rapi masih betah marah-marah. Wanita itu terus mendesak Luna untuk mempersiapkan diri menerima lamaran putra Bu Dewi.
"Bu, Luna tidak mau ..." ucapnya.
"Sudah lah, kamu nurut saja. Ingat, kamu harus bertanggung jawab atas keluarga ini. Karena kamu bapakmu pergi, jangan pura-pura lupa soal itu!" serunya kemudian melempar dress ke atas kasur dan melenggang pergi.
Luna terdiam, memandang dress panjang yang ada di kasur itu dengan tatapan nanar.
Benarkah k e m a t i a n ayahnya karena dia? Luna juga tidak ingin ayahnya meninggal, bukan kemauannya semua menjadi seperti ini. Tapi mau bagaimana lagi, dia tidak bisa melawan takdir. Siapalah dia yang bisa melawan kehendak Tuhan?
"Mbak, cepetan! Keluarga bu Dewi udah nyampe, tuh!" teriak Raya dari luar.
Luna yang sedang menangis cepat-cepat menyeka air matanya. Dia meraih dress yang atas di atas kasur dan pergi ke kamar mandi.
Sementara itu di ruang tamu senyum Sekar mengembang, menyambut kedatangan Dewi dengan hati senang. Bagaimana tidak, dengan resminya Luna yang berjodoh dengan putra bu Dewi, resmi juga hutangnya dianggap lunas. Sekar tidak perlu lagi pusing-pusing mencari pinjaman untuk membayar hutang pada bu Dewi.
"Mari, Bu, silakan duduk dulu ..." ucap Sekar mempersilahkan.
Dewi menurut, wanita itu duduk sembari memandang sekeliling. "Mana putrimu? Apa yang ini?" tanyanya memandang Raya yang duduk di sebelah Sekar.
"A-ah bukan yang ini, Bu. Ini anak saya yang bungsu, calon menantu Bu Dewi sedang bersiap-siap," ucapnya.
Dewi mengangguk paham.
Tak lama datang seorang pria dengan kemeja hitam lengan panjang menghampiri Dewi dengan raut datar. Bagas terlihat tampan dengan kemeja hitam dengan lengan yang sedikit dilipat itu.
"Nah, ini putra saya. Bagas namanya," ucap Dewi memperkenalkan putranya. Bagas melempar senyum seadanya, dibalas senyum hangat oleh Sekar.
"Anaknya ganteng ya, Bu," ujar Sekar.
Dewi tersenyum hangat.
"Buk, kok anaknya ganteng. Kata Ibuk anaknya kekurangan," bisik Raya menatap kesal.
"Sstt nanti saja kita bahas, kamu diam dulu. Panggil Luna sekarang!" jawab Sekar.
Dengan cemberut Raya bangkit, memanggil Luna yang sejak tadi tidak kunjung keluar. Namun, baru beberapa saat Raya berdiri, Luna sudah berjalan keluar dengan blouse lengan pendek dipadukan loose pants hitam. Dia melempar senyum seadanya.
"Kamu nggak pakai baju yang Ibu kasih?" tanya Sekar. Luna tidak menjawab, dia hanya berjalan mendekat dan duduk di hadapan Dewi, bersebelahan dengan Sekar dan Raya.
"Jadi ini putri saya, Bu. Luna namanya," ucap Sekar.
Dewi memperhatikan Luna sebentar, lalu mengangguk singkat.
"Kesibukan kamu apa?" tanyanya.
"Saya bekerja di butik, Tante. Dekat stasiun."
"Bisa masak?"
Luna mengangguk.
Sesaat, senyum Dewi mengembang. "Kamu mau 'kan menikah dengan putra saya? Bagas bekerja di kantor keluarga, dia jarang sekali di rumah. Nanti setelah menikah kamu cukup buatkan sarapan dan makan malam, sisanya kamu boleh bekerja seperti biasa."
"S-saya ..." Luna melirik Sekar yang sejak tadi menyenggol lengannya. Wanita itu mendelik, memaksa Luna mengiyakan tawaran bu Dewi.
Dengan sedikit ketakutan, Luna meneguk ludahnya sendiri dengan susah payah. Dia mengangguk lemah. "I-iya, saya mau, Tante."
Mendengar itu senyum Dewi mengembang. "Baguslah, kita persiapkan pernikahan kalian secepatnya."
"Ma!" Bagas menggeleng tidak setuju, apalagi setelah melihat kondisi keluarga yang hendak dijodohkan dengannya. Mereka benar-benar berbeda.
"Sudahlah, kamu ikuti saja. Mama yang akan menyiapkan semuanya," ucap Dewi.
Bagas menghela nafas, menatap gadis di hadapannya dengan tatapan kurang suka.