bc

Short Story [21+]

book_age18+
180
IKUTI
6.2K
BACA
possessive
sex
dominant
scandal
CEO
billionairess
drama
city
highschool
virgin
like
intro-logo
Uraian

WARNING 21+ !!!!

Under-age don't read this story!!!

Bijaklah dalam memilih bacaan. Khusus 17 keatas. Anak kecil? GO AWAY FROM MY STORY!!!!

Adult-Romance

Young-Adult

Mature Content 21+

Follow before read this story. Thank you so much.

chap-preview
Pratinjau gratis
Gacha
Cewek berparas putih manis itu sedang mengetikkan jarinya dengan kesal ke layar ponsel hitam miliknya. Membalas pesan menyebalkan dari seseorang yang sudah ia anggap sebagai Abang. Tapi? Cowok itu membalasnya lebih. Gila. Cacha tak menggubris lagi pesan dari cowok tersebut. Ia sudah malas. Toh, dalam cerita ini sang cowok yang baper kepada Cacha. Bukan Cacha yang memaksa untuk disukai oleh cowok tersebut. Cacha me-rejeck panggilan setelah melihat panggilan masuk dari Agam. Percuma. Agam tidak akan mau mengalah. Berkali-kali panggilan itu masuk dan untuk ke sekian kalinya kembali ditolak olek jari Cacha. "Stop ganggu gue! Lo tuh mau nya apa sih? Gak capek apa Lo memperpanjang masalah kayak gini." Cacha dengan kesal mengirim voice note tersebut kepada Agam. Drtt... Drtt... Drtt... Dering ponselnya membuat Cacha semakin membenci seorang Agam. Dengan berat hati Cacha mengangkat panggilan tersebut. "Gue otewe ke rumah Lo sekarang. Kita selesain sekarang juga! Dasar anak kecil." Tut. Sialan! Demi apapun Cacha tidak mau membukakan pintu rumah nya, ehm rumah orang tua nya untuk manusia macam Agam. Tapi tidak mungkin. 10 menit kemudian cowok itu sudah sampai di depan rumahnya dengan motor ninja hitamnya. Suara bel terdengar dari tempat Cacha berdiam diri. Jelas saja, kamar nya berada dilantai bawah. Cacha menyembulkan kepalanya keluar pintu, malas membukakan pintu untuk manusia itu. Tetapi Raisa, ibunda Cacha meneriakinya dari arah dapur. "Cacha, coba liat ke luar. Itu siapa yang dateng?" Cacha menggerutu kesal. Kalau Raisa tahu yang datang adalah Agam, pasti wanita itu akan senang bukan main. "Cacha??" "Iyaa, buuuunnd, balas Cacha panjang tak b*******h. Dengan langkah berat Cacha menghampiri pintu. Sesaat pintu terbuka, Cacha melihat Agam dari balik pagar rumahnya. Dengan wajah kesal ia tidak membiarkan sang tamu masuk. "Ngapain sih? Kurang kerjaan banget. Gue lagi sibuk," ucap Cacha ketus berusaha mengusir Agam dari depan rumahnya. Cowok tinggi dengan kaos putih itu berdeham. "Gue mau ketemu Bunda. Bukan mau ketemu Lo. Gausah Ge-er." Mata Cacha terpejam erat, menghilangkan rasa kesalnya kepada manusia batu di depan matanya ini. Malu. Itulah yang Cacha rasakan. Tapi ia tahu, Agam hanya menjadikan ibunya sebagai alasan agar di izinkan masuk. "Lo pasti..." "Eh, Agam? Tumben baru main lagi ke sini?" Ucapan Cacha terpotong oleh Raisa yang keluar rumah membawa gembor plastik berisi air untuk menyiram bunga peliharaan Cacha. Dan tanpa dosa ia membukakan pagar untuk Agam masuk. Cacha sudah malas. Sumpah! Demi apapun. Agam yang merasa dirinya menang tersenyum miring kepada Cacha. Sedangkan Cacha membuang muka masam masam. "Iya, Bund. Agam sibuk kuliah. Soalnya sebenntar lagi udah berangkat kerja sama Papa ke Medan," jelas Agam yang terdengar sok manis di telinga Cacha. "Kok Papa gak ngasih tahu Bunda, ya? Cacha bakal kamu tinggal dong?" tanya Raisa mengerutkan keningnya. Cacha merotasikan bola matanya. Cih, mau pergi jauh kek, dekat kek. Cacha udah gak peduli. "Sebentar kok, Bund. Cuma 5 bulan," tutur Agam dari balik pagar. Raisa membukakan pintu untuk Agam masuk. Matanya melirik kepada Cacha yang sepertinya tidak menerima kedatangan Agam. "Cacha, kalau ada tamu suruh masuk dulu. Jangan ngobrol di depan rumah sambil berdiri, pamali." Cacha tidak membalas ucapan Raisa. Ia memasuki rumah terlebih dulu, di ikuti oleh Agam. Sedangkan Raisa melanjutkan aktivitas nya untuk menyirami bunga depan rumah. Agam duduk di sofa tanpa di suruh oleh Cacha. Gadis itu melangkah kan kaki kecilnya ke arah dapur untuk membuatkan Agam minum. Walaupun Agam sudah ia nobatkan menjadi musuhnya, tapi tamu harus tetap disuguhi kan? Cacha kembali ke ruang tamu membawa nampan kecil berisi air jeruk dan cemilan. Menaruhnya di atas meja tepat di depan Agam. Cacha tidak ada niat sama sekali untuk menemani cowok 23 tahun itu. Tetapi saat kaki Cacha melangkah pergi, Agam dengan cepat menarik tangan Cacha. "Apa?" tanya Cacha pelan. Agam menarik napas panjang agar ia tidak salah bicara nantinya. "Lo kenapa sih?" Pertanyaan Agam sudah menjadi jawaban untuk Cacha. Cacha duduk dengan wajah kesal dan sedih. Agam tahu itu. Cacha mengeluarkan seuntai kalung emas berbandul bunga dari sakunya. Itu adalah hadiah Sweet 17 dari Agam 8 bulan lalu. Agam terdiam saat Cacha menaruhnya di atas meja dengan asal. Apakah Cacha tidak menyukai nya? "Gue balikin. Kasih aja ke cewek Lo. Gue udah males di labrak terus sama cewek Lo yang sok cantik itu." Agam menoleh kesal, matanya yang tajam terus memperhatikan gerak gerik Cacha yang sedang menyembunyikan sesuatu. "Maksud Lo apa? Cewek mana?" tanya Agam dengan serius membuat Cacha enggan menjelaskan nya. Cacha dan Agam bernapas sesaat Raisa melewati mereka dan memasuki kamarnya di lantai atas. Agam semakin merasa mempunyai kesempatan untuk memperbaiki hubungannya dengan gadis ini. "Gausah ada yang Lo sembunyiin dari gue. Cewek yang mana? Gue gak punya cewek." Cacha yang mendengar itu sontak menoleh, terkekeh sumbang dan menganggap ucapan Agam tadi adalah omong kosong. Sudah ke lima kalinya gadis itu kena labrak oleh orang yang mengaku sebagai 'kekasih Agam' dan mereka adalah orang yang berbeda-beda. "Terus yang Lo bawa ke bioskop waktu itu siapa? Yang waktu Lo ajak jalan ke taman belakang sekolah gue siapa? Gimana dengan cewek yang waktu itu meluk Lo pas Lo mau balik dari kampus? Siapa cewek yang labrak gue? Dia ngaku kalo Lo adalah pacarnya. Terus gue ini apa??!" Dengan kesal Cacha melontarkan semua pertanyaannya kepada Agam tanpa jeda. Agam memutar ingatannya ia tidak pernah mempunyai kekasih sebanyak itu. Tetapi satu yang ia tangkap. Cacha cemburu? "Lo cemburu?" tanya Agam sarkastik membuat Cacha membuang pandangannya ke arah cemilan yang belum di sentuh sama sekali oleh Agam. Entah menatap apa, yang jelas Cacha ingin menghindari tatapan menang yang Agam berikan. Lagi-lagi, Cacha merasa kalah. Cemburu? Jelas! Cowok bodoh ini malah menanyakan hal yang seharusnya tidak ia tanyakan. "Lo cemburu? Gue tau Lo mulai suka kan sama gue?" tanya Agam lagi yang kemudian di jawab santai oleh Cacha. Cacha menahan tangisnya saat ini, ia berharap untuk jangan sampai air matanya jatuh. Cengeng sekali. "Gue gak suka sama Lo. Karena gue sadar, Lo sama gue itu beda umur. Beda pola pikir. Beda selera. Dan yang paling pasti adalah, Lo sama gue, beda perasaan." Gadis itu bangkit dari duduknya lalu pergi ke kamarnya dengan hati dongkol. Meninggalkan Agam dengan rasa sesak. Dengan santainya Agam bertanya seperti itu. Apa mungkin selama ini Cacha hanya mainan nya saja. Ia tahu bahwa dirinya tidak cocok dengan cowok mostwanted se-seantero kampus macam Agam. Cacha sadar bahwa ia hanya anak kecil yang sebentar lagi akan lulus SMA. "Dengerin gue dulu, Cha. Gue bisa jelasin. Mereka bukan siapa-siapa." Agam mengetuk pintu kamar Cacha yang tertutup rapat untuknya. Gadis itu harus tau bahwa orang orang yang ia maksudkan hanyalah pelarian Agam semata. Dari balik pintu gigi Cacha bergemeletuk menahan amarah. Ia menjatuhkan air matanya mengalir ke pipi. Rambut sebahunya ia selipkan ke belakang telinga. "Pergi Lo dari sini. Gausah ganggu gue lagi. Lupain aja apa yang pernah terjadi. Gue juga udah punya pacar." Hati Agam mencelus seketika. Ketukan di pintu kamar Cacha semakin menghilang. Cacha membuang tubuhnya ke ranjang. Ia tidak mampu menutupi kesedihannya. Rahasia ia menyukai Agam dengan dilapisi embel embel 'sudah punya pacar' malah membuat hatinya sendiri yang hancur. Kini, Agam meninggalkan nya. Ia yang membuat keadaan sepelik ini. Tapi mungkin ini adalah jalan yang terbaik. Karena, gadis mana yang tahan di labrak 5 kali oleh orang-orang tidak di kenal. Suara derup motor menyala dan menjauh. Itu artinya Agam sudah benar benar pergi dari rumah nya. Cacha sama sekali tidak ingin mendengar pertanyaan apapun dari Raisa ataupun temannya Senin besok. Kisah nya dengan Agam mungkin hanya berlangsung selama 9 bulan saja. Dan kini sudah selesai.

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

Dinikahi Karena Dendam

read
234.0K
bc

B̶u̶k̶a̶n̶ Pacar Pura-Pura

read
155.8K
bc

Sentuhan Semalam Sang Mafia

read
189.1K
bc

Hasrat Meresahkan Pria Dewasa

read
30.7K
bc

TERNODA

read
199.0K
bc

Setelah 10 Tahun Berpisah

read
64.1K
bc

My Secret Little Wife

read
132.2K

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook