Malam pun telah tiba. Perut Zenna terasa perih dan para cacing sudah berbuyi. Dia mengeliat dalam tidurnya, tetapi pinggangnya terasa berat seperti ada sesuatu yang menimpanya. Diliriknya ke belakang dan mendapati Nean sudah terlelap di sana. Zenna mencoba melepakan belitan tangan Nean pada pinggangnya. Namun nahas, lelaki itu semakin mengeratkan pelukannya. “Kak, bisa tolong lepasin dulu nggak? Zenna leper,” bisiknya tepat di telinga Nean. Bisikan lembut itu berhasil membuat Nean terbangun. Lelaki itu menatap manik mata istrinya yang dia rindukan. Nean langsung memeluk tubuh Zenna sampai wanita itu susah untuk mendapatkan pasokan udara. “Kakak apaan sih, Zenna nggak bisa napas,” ucapnya sembari masih berusaha melepaskan pelukan Nean. “Biarin kaya gini dulu sayang, kakak kangen

