Jam pun berputar begitu cepat, kini pagi haru yang dingin sudah digantikan dengan siang dengan sinar matahari yang kembali bersinar. Dhanu masih tetap berbaring di atas kasur dengan selimut yang membungkus tubuhnya. Namun, meskipun masih dalam posisi yang sama seperti semalam, kondisinya semakin membaik. Demam yang menyerangnya sudah turun sejak satu jam yang lalu. Langkah mungil Sisil semakin mendekat ke arah ranjang di mana di sana terdapat sang papa, lelaki yang telah tega menelantarkannya sewaktu masih di dalam kandungan. Malas rasanya kembali bertemu dengan lelaki itu, namun sang mama terus memaksanya untuk mengantarkan makan siang dan obat untuk lelaki itu. “Sisil.” Suara parau Dhanu memanggil putrinya dengan penuh kasih sayang. Sang pemilik nama hanya melirik sekilas lalu m

