Lovinta sudah dipindahkan ke ruang rawat karena sudah sadar dari pingsannya. Saat ini kondisi gadis sudah lebih baik dari pada sebelumnya. Di dalam kamar rawat Lovinta pun sudah ada Gilang yang selalu setia menemaninya. Namun, keduanya tidak ada yang memulai obrolan. “Emm … pak Gilang.” Gadis itu bersuara sangat lirih. Namun, mampu membuat kepala Gilang mendongak menatap ke dua manik mata gadis itu yang masih terlihat sayu. “Iya.” Gilang mencoba memaksakan senyumnya. Lelaki itu beranjak dari duduknya dan meninggalkan laptop yang sedari tadi berada di pangkuannya. “Kamu butuh sesuatu?” tanya lelaki itu menyorot tulus. Lovinta menggeleng. “Nggak ada pak. Saya hanya ingin mengucapkan banyak-banyak terima kasih untuk pak Gilang. Karena pak Gilang, saya masih bisa bernapas.” Gadis itu b

