Gilang dan Nean masih setia duduk di kursi tunggu untuk menunggu kabar dari dokter yang sedang menangani kondisi Lovinta dan Budi. Namun, selama itu pula sang dokter belum keluar juga. “Tenang, bang. Budi bakalan baik-baik aja kok,” ucap Gilang untuk menguatkan Nean. Sedari tadi lelaki itu memang hampir saja putus asa dengan kondisi Budi yang sangat memperihatinkan. “Semoga tidak seperti apa yang saya pikirkan.” Nean menghela napasnya pelan mencoba pasrah dengan apa yang direncanakan Allah. Saat ke dua lelaki itu saling diam, tiba-tiba suara tiga wanita yang sangat keduanya kenal terdengar nyaring di telinga masing-masing. Wajah Nean mendongak dan mendapati Fatimah sedang berjalan kearahnya dengan air mata yang sudah luruh deras membasahi pipi wanita itu. “Umi.” Nean beranjak dar

