“Kak, aku mau mama,” Pinta Sisil dengan ke dua mata yang sudah membengkak karena sedari tadi menangis tanpa henti. Lovinta menatap gadis kecil itu iba. Dia menarik tubuh mungil itu untuk direngkuhnya penuh kehangatan. “Sabar ya sayang, kak Ivan lagi bersaha untuk mencari mama,” Ucap Lovinta yang kesekian kalinya. Sejak sampai di kediaman Lovinta, Sisil selalu saja menangis menanyakan keberadaan Risma. Bahkan sesekali gadis kecil itu mencoba kabur untuk mencari keberadaan Risma seorang diri. “Kak Lovinta.” Zenna mengetuk pintu kamar sang kakak. gadis itu tersenyum sembari membawa nampan bersisikan piring yang sudah terisi dengan nasi. “Terima kasih Zenna,” Ucap Lovinta saat menerima nampan itu. Setelah Lovinta sampai di rumahnya, gadis itu langsung menghubungi Zenna agar dia dat

