Bab 17 Syafea – Diam Lebih Baik“Kamu kenapa to, kok ngelamun wae dari tadi?” Santi menyiku lenganku saat sedang menata makanan ringan, mengelompokkan sesuai dengan jenisnya. Sedikit terganggu, tapi aku tetap memusatkan atensi pada beberapa barang yang masih memenuhi keranjang besi beroda empat yang sejak tadi kudorong ke sana-kemari. Bukan bermaksud abai, melainkan ingin pekerjaan lekas selesai. “Fea, kamu wis krungu, belum? Jare si Yanto, bulikmu lagi cari pegawai baru.” Ucapan Santi seketika menghentikan gerakanku. “San, sebenernya ....” Aku menghela napas panjang. Bagaimana harus menceritakannya? Sedangkan selama ini aku tidak begitu terbuka kepadanya. “Apa? Kok malah meneng wae? Kenapa enggak jadi cerita? Ojo gawe aku penasaran lho, Fea.” Santi protes sembari menatapku heran. Aku

