Bab 19 Syafea – Damai BersamanyaAku menghela napas panjang, sambil kembali menatap layar gawai. Apa tidak salah, aku mengirim pesan seperti itu untuk Bian? Bian tidak sedang berada di hadapan. Namun, membaca pesan yang kukirim untuknya, membuatku merasa malu, entah kenapa. Bagaimana kalau Bian menilaiku yang tidak-tidak? Aku menyembunyikan wajah sembari memeluk lutut, kepikiran dengan apa yang harus kulakukan setelah ini. Kembali ke rumah Bulik, memilih salah satu penginapan yang ditawarkan Santi, atau ... lebih baik memilih opsi terakhir yang ditawarkan salah satu pegawai Bulik yang paling dekat denganku itu? Bingung, aku tidak bisa berpikir jernih. Selain belum bisa menentukan pilihan di antara ketiga opsi yang telah menari-menari di kepala, terselip nama Bian di sana yang menambah ke

