Bab 21 Syafea – Tidak TenangHawa dingin mulai terasa ketika motor yang kutumpangi bersama Bian membelah jalan menanjak yang lebih ramai dari perkiraan. Kedua tangan yang melingkar di pinggang Bian, terpaksa mengerat karena laju motor terlalu cepat. Tidak membutuhkan waktu lama untuk bisa segera sampai pada tujuan karena seperti dugaan, Bian telah lihai membaca peta yang terpampang di hadapan. Setelah mengeluarkan selembar uang untuk menukarnya dengan dua tiket memasuki 'Negeri di Atas Awan', Bian kembali melajukan motor sampai tempat parkir kami temukan. Aku kesulitan melepas helm yang menutup kepala, sebab pengaitnya memang susah untuk dibuka. Namun, aku terpaksa mengaitkannya karena khawatir helm yang kukenakan akan melayang di tengah jalan akibat terlalu longgar. "Kalau enggak bisa b

