Bab 24 Fabian – PengakuanPelataran rumah Papa dan Mama menyambutku dengan suram. Belukar tumbuh memanjang, entah sengaja tidak dibersihkan atau memang pemilik rumah sedang penuh dengan kesibukan. “Dari mana saja, Le? Sudah capek, pergi-perginya?” Pertanyaan Papa menyapa bertepatan dengan aku buka pintu. “Mama mana, Pa?” tanyaku, mencari sosok yang biasanya begitu antusias menyambutku datang. “Itu di dapur. Awak rodok enggak enak, tapi tetap ae nyiapno makanan kanggo anak lanange.” Papa masih berkutat dengan komputer di hadapannya. Melihat lembar yang beliau buka, membuatku bertanya. Sebenarnya Papa sedang mencari apa? Pada layar ditampilkan tabel nama-nama orang dan alamat tempat tinggal. “Papa lagi ngapain?” Aku mencoba bertanya. “Urusan penting. Kamu ke Mama saja sana,” tukas Papa

