Setelah masalah gossip hoax itu sudah menghilang, kini sepertinya akan ada sebuah masalah baru yang siap menghampiri Maura. Apapun itu, pasti akan membawa dampak buruk bagi hubungan pendekatan antara Maura dan Ervin. Seolah-olah kebahagiaan tidaklah berpihak kepada Maura.
Dari ujung kanan, ada sepasang rekan kerja terlihat sedang asik bersendagurau hingga keduanya tertawa terpingkal-pingkal. Siang ini, Ervin dan Maura hendak makan siang bersama di salah satu kafe—tempat biasa mereka makan.
Saat berjalan menuju pintu keluar, suara tertawa keduanya terhenti ketika ada seorang pria berparas lesu menghampiri mereka. Wajah pria itu terlihat tidak bersemangat, bahkan ada lingkaran hitam yang tampak dengan jelas pada kantung matanya. Pria itu Asraf.
Ervin sudah siap ingin menghantam wajah Asraf saat itu juga, namun sepertinya akan semakin berdampak buruk bagi reputasinya. Ervin mengurungkan niatnya, sebab ia belum melihat kendati semakin kurang ajar terhadap Maura.
Pria itu mengamit telapak tangan Maura dengan secara tiba-tiba lalu memasang wajah memohon. Bukan tipikal Asraf. "Ra ... plisss, maafin aku. Semuanya bisa diperbaiki lagi."
Maura tersenyum, terlihat seperti wanita tegar meskipun perasaannya terasa dicabik-cabik. "Udahlah, Raf ... enggak ada yang perlu kamu sesali. Semuanya sudah jelas, kalo aku cuma salah satu korban dari permainan bodoh kamu!" dengan cuek, Maura melepaskan genggaman Asraf dan berpaling pada lengan kokoh Ervin.
Baru beberapa langkah keduanya berjalan, ternyata Asraf lebih gesit, ia menahan langkah Maura dengan mencekal lengan wanita itu. "Pliss ... Ra, ayolah. Masalah Vani? Sekarang juga dia bisa aku ceraikan, asalkan kamu maafin aku dan kita bisa bersama-sama lagi."
Lagi-lagi Maura hanya bisa tersenyum, lalu melepaskan genggaman tangan Asraf. Ia beralih pada pipi pria itu yang kini sudah mengeluarkan airmata. Ia hapus buliran bening itu hingga tidak bersisa. "Raf ... pernikahan itu bukan sebuah permainan, di mana kamu bisa keluar dari arena sebelum permainan selesai." Jeda tiga detik, "kamu itu Kepala Rumahtangga, jadi jangan bertingkah bodoh seperti ini. Jaga Vani, sayangi dia seperti apa yang kamu lakukan kepadaku."
"Tapi, Ra—"
"Kamu sayang dengan aku, Raf?" sontak, Asraf langsung menganggukan kepalanya sedangkan Ervin menatap Maura tidak percaya. "Kalau begitu kamu mau menuruti permintaanku, 'kan?"
"Kamu mau minta apa, Ra? Semuanya akan aku turuti asalkan kamu bisa kembali lagi bersamaku."
"Jauhi aku! Dan pertahankanlah pernikahanmu dengan Vani. Ingat! Penyesalan emang selalu datang belakangan!"
Tanpa mempedulikan wajah keterkejutan Asraf, Maura kembali meraih lengan Ervin dan berjalan keluar dari area lobi. Namun, lagi-lagi langkah Maura kembali terhenti saat Asraf meraih lengannya. "Tapi, Ra ... aku udah nunggu kamu lama banget, dan aku enggak bisa hidup tanpa kamu."
"Kamu tau nggak, Raf? Omongan kamu itu kaya tong kosong nyaring bunyinya! Bullshit!"
"Maura, please ... give me a time. Look at my eyes, I love you so much ... trust me."
"Sorry, I can't do it! Aku sudah mencintai seseorang," balas Maura seraya melirik ke arah Ervin.
"Please ... kasih aku kesempatan satu kali lagi ... please ...." kini Asraf memohon, berlutut, berharap mendapatkan jawaban 'iya' namun ekspetasinya terlalu jauh, karena Asraf hanya mendapatkan satu pukulan pada rahangnya.
Buggh ...
Siapa lagi kalau bukan Ervin yang menghantamnya. Ia sudah kehabisan kesabaran, kehadiran Asraf selalu menjadi masalah baginya, dan Ervin sama sekali tidak suka melihat Asraf harus jatuh cinta kepada Maura. Satu pukulan yang dilayangkan Ervin secara mendadak berhasil membuat suasana lobi semakin ricuh.
Pria itu terhuyung saat mendapatkan pukulan secara mendadak, kepalanya sedikit terbentur dengan lantai, tetapi kali ini Asraf tidak mau mengalah lagi, dia bangkit dan membalas pukulan Ervin. Mereka saling mengadu jotos, membuat salah satu diantara mereka hingga babak belur. Asraf tergeletak di atas lantai dengan darah yang bercucuran dari bibir dan hidungnya, napasnya tersengal-sengal, dia kehabisan energi untuk membalas pukulan Ervin. Bisa dipastikan dalam perkelahian hebat tadi pemenangnya adalah Ervin, wajahnya hanya beberapa yang lebam, dibagian bibir dan pelipis. Berbeda dengan Asraf, hampir semua wajahnya bonyok dan berdarah, bahkan saat ini Asraf terlihat sedang menahan senap pada perutnya karena sewaktu berkelahi tadi Ervin dengan bebas menendang perutnya, tepat pada ususnya.
Satpam datang setelah pertengkaran antara Ervin dan Asraf sudah berakhir. Para pengunjung hotel dan beberapa karyawan hanya bisa meringis dari kejauhan, sebab tidak ada yang berani memisahkan perkelahian antara Ervin dan Asraf. Ralat, mereka bukan tidak berani memisahkan, hanya saja malas ikut andil dalam perkelahian itu. Perkelahian antara dua orang yang paling disegani.
Maura hanya bisa menangis, perkelahian hebat itu terpampang jelas di hadapannya. Ia sama sekali tidak menyangka kalau perjuangan keduanya begitu berlebihan hingga bertengkar karena memperebutkan dirinya. Maura menghapus airmatanya dan menarik napas dalam-dalam lalu membuangnya perlahan, setelah merasa lebih baik Maura mengambil tindakan untuk memarahi keduanya yang tengah mengatur pernapasan masing-masing.
"Gue benci liat lo berdua! Kenapa harus dengan kekerasan untuk menyelesaikan sebuah masalah? Lo berdua udah dewasa, malu dilihatin orang-orang!" Maura menyeka airmatanya. "Vin, ternyata lo masih belum berubah, lo masih sama agresifnya seperti dulu, lo masih sama egoisnya!" Kini pandangan Maura teralih ke arah Asraf yang terkulai lemas tak berdaya di atas marmer berwarna hitam pekat. "Dan lo Raf, gue cuma minta lo jauhin gue! Paham? Gue cuma enggak mau menyakiti salah satu diantara lo sama Vani! Gue nggak tega!" Maura berlari menuju parkiran, mengambil mobilnya untuk segera pergi dari Hotel Piramidaya.
Tanpa peduli lingkungan sekitar, Ervin langsung mengejar Maura namun mobil yang dikendarai Maura sudah berlalu sangat cepat. "Maura tung ... gu ...." suara Ervin melemah saat melihat mobil Maura sudah pergi dari hotelnya. Ervin kembali masuk ke dalam, menghampiri Asraf lalu menarik kerah kemeja pria itu, "gue peringati ke elo, jangan ganggu hubungan gue sama Maura! Paham lo? Atau saat ini juga lo bisa gue antar ke kuburan!" Ervin melepaskan cengkramannya lalu berlari ke parkiran mengambil mobil untuk menyusul Maura.
*
Untung saja di dalam mobil Ervin ada GPS yang akan mengantarkannya ke tempat tujuan Maura, semuanya sudah Ervin setel sejak seminggu yang lalu—guna memantau aktivitas Maura. Hal konyol seperti ini terlintas saat Jhosepin memberinya saran agar menyambungkan GPS miliknya dengan GPS milik Maura.
Menurut analisis yang ada di GPS, mobil Maura berlaju menuju puncak. Pasti dia pergi ke danau. Batin Ervin.
Karena ia sudah mengetahui mobil Maura akan menuju ke danau, Ervin memperlambat kecepatan mobilnya.
"Akhirnya ... gue kira elo bakal pergi kemana, Ra ...."
*
Ervin baru saja memakirkan mobilnya setelah 20 menit yang lalu Maura sudah duduk di pinggir danau. Ervin berjalan menuju danau namun langkahnya terhenti saat melihat Maura sedang menangis di atas rerumputan pinggir danau, Ervin memutuskan untuk memantau Maura dari kejauhan, memberi waktu agar Maura bisa meluapkan kekesalannya.
"Kenapa sih kalian berdua itu susah banget dimengerti? Kenapa?!" Maura menyeka airmatanya. "Vin ... gue udah coba menempatkan lo di hati ini, tapi kenapa tingkah lo belum berubah sama sekali ... gue takut kejadian masa lalu itu akan terulang kembali, gue takut kehilangan orang yang gue sayang untuk kedua kalinya ...," pekik Maura seraya mencampakan batu ke dalam danau.
Ra ... gue udah berubah demi lo, demi masa depan gue, dan demi rumahtangga yang akan kita bangun nanti. Batin Ervin setelah mendengar ucapan Maura barusan.
Ervin melihat ada sekumpulan ranting dan bunga bewarna merah muda. Dia mengambil ranting itu beserta bunganya, Ervin mulai merancang ranting itu berbentuk lingkaran, dia ingin membuat sebuah flower crown untuk Maura. Sedikit susah waktu ia melilitkan ranting tersebut, bahkan kemeja putihnya kini sedikit jorok, akibat bercak tanah dan juga darah.
Setelah flower crown sudah selesai dan ia rasa cukup untuk dipasangkan pada kepala Maura, Ervin kini berjalan mendekati wanita itu. Ia memakaikan flower crown tersebut secara diam-diam, dan Maura langsung menoleh ke arah belakang seraya meraba-raba sesuatu di atas kepalanya.
"Ervin? Ini apa?" Maura meraih flower crown tersebut lalu tersenyum. "Makasih ya ...."
Ervin mengangguk pasti dan ikut duduk di rerumputan bersama Maura. Belum ada suara apapun yang dilontarkan Ervin, ia masih fokus melihat danau seraya melepar batu kecil. Sedangkan Maura kini ia hanya memandangi Ervin, melihat sudut luka pada pelipis Ervin.
"Lukanya sakit?"
Ervin menoleh ke arah Maura lalu menyunggingkan seulas senyum. "Tidak sesakit saat kamu marah denganku." Ervin meraih telapak tangan Maura lalu mengelus punggung tangan itu. "Maaf ya ...."
"Udah aku maafin. Maaf juga udah marah-marah enggak jelas kayak tadi."
"It's okay." Ervin menghapus sisa airmata yang masih membasahi pipi Maura. "Janji jangan nangis lagi?"
"Iya janji ...."
"Ra ...."
"Hmm ...." Maura kembali menoleh ke arah Ervin, menatap pupil mata pria itu, menunggu kelanjutan ucapan Ervin.
"Aku jatuh cinta sama kamu." Ervin mengelus wajah Maura, menatap bola mata wanita itu.
"Apa yang membuat kamu bisa cinta sama aku? Apa yang membuat kamu bisa sepercaya ini kalau kamu cinta dengan aku?"
Ervin memegang kedua pipi Maura, berharap wanita itu bisa mengerti maksud ucapannya, bisa merasakan getaran cinta yang ia rasakan. "Aku mencintaimu tanpa alasan, tanpa kenapa, tanpa tetapi dan tanpa pertanyaan lainnya." Lalu Ervin mencium dahi Maura.
Dan gue cinta sama lo karena segalanya, Vin, meskipun gue ngerasa egois udah menjadikan lo sebagai pelampiasan hati ini. Batin Maura.
"Kamu mau naik perahu?" tawar Ervin.
"Emang bisa ngendarainya?"
"Udah ayo ikut ...." Ervin langsung menarik tangan Maura menuju perahu kecil yang terpakir di sudut danau.
Ervin mencoba untuk terus mengayuh perahu menuju tengah danau, sedangkan Maura kini terlihat begitu bersemangat—melihat keindahan taman pribadi milik Ervin, melihat pantulan tubuhnya di atas genangan air. Dan melihat segala keseriusan Ervin terhadap dirinya.
Setelah mereka sudah sampai di tengah danau, Ervin memeluk pinggang Maura dari belakang, menompangkan dagunya pada bahu Maura. Aroma rambut Ervin kini dapat tercium dengan jelas oleh Maura. Aroma yang selalu berhasil meningkatkan moodnya menjadi lebih baik.
"Ra, kalau seandainya aku tidak bisa menghasilkan anak untuk kamu, apakah kamu masih mencintaiku?" masih dalam posisi seperti tadi, hanya saja kini Ervin memandang wajah Maura meskipun yang terlihat hanya binar mata wanita itu.
"Kemarin, hari ini, besok, dan sampai seterusnya, aku tetap mencintaimu." Kini Maura mengecup puncak kepala Ervin.
"Makasih ya ...." Ervin membalas kecupan Maura, tetapi tidak di dahi melainkan di bibir. Dia mengecup sekilas bibir Maura.
"Jadi sekarang kita pacaran?" tanya Maura dengan polosnya.
"Aku enggak mau kita pacaran."
Deg ...
Perasaan bahagia yang Maura rasakan mendadak menjadi menyakitkan setelah mendengar ucapan Ervin barusan. Ingin rasanya ia melepaskan pelukan itu tetapi Ervin semakin erat memeluknya.
"Aku maunya kita langsung menikah saja, tetapi enggak sekarang, mungkin nanti," ujar Ervin.
Maura kembali tersenyum, perasaannya kembali bahagia saat mendengar perkataan Ervin yang akan menikahinya. Maura mengubah posisi duduknya hingga ia berhadapan dengan Ervin, lalu tanpa aba-aba ia langsung melumat habis bibir Ervin.
Ingat, untuk pertama kalinya Maura yang duluan mencium bibir Ervin.
"Aaw ...," pekik Ervin seraya meringis kesakitan saat bibir Maura menyentuh lukanya.
"Kenapa?"
"Lukaku kamu gigit ...."
"Luka yang mana?" Ervin menunjuk luka yang masih berdarah pada sudut bibirnya, Maura mendekatkan kepalanya lalu mengecup luka itu sehingga bibirnya terkena sedikit darah. "Udah, bentar lagi lukanya bakalan sembuh." Ervin tersenyum, setelah itu ia kembali memeluk pinggang Maura dan menyenderkan kepala Maura pada dadanya.
***