BAB 15

2120 Kata
"Jhos ... gimana? Udah ada kabar belum?" tanya Ervin melalui sambungan speaker ponselnya. "Dari pengintaian saya dan anak-anak, target sedang berada di sebuah salon untuk persiapan pesta pernikahannya malam ini," balas Jhosepin hingga membuat Ervin tersedak. "Ada apa Bos? Kenapa anda tersedak?" Sial, malam ini pesta pernikahannya? s**t! Pekik Ervin dalam hatinya. "Nope. Lanjutkan pekerjaanmu, setelah semua informasi sudah lengkap segera kembali hubungin saya. SE-CE-PAT-NYA!" Ervin membuka kaosnya yang sedikit basah, sebab ia baru saja selesai lari pagi hari ini. "Dan satu lagi, jangan sampai ketahuan, atau kamu saya pecat! Paham?" "Baik Bos, bisa dimengerti," balas Joshepin ketakutan. Ervin memang selalu mengekang dan membuat peraturan sesuka hatinya kepada anak buahnya. Ervin tidak suka jika anak buahnya tidak memenuhi kriterianya. Contohnya; ia paling tidak suka kalau ada anak buahnya yang plin-plan, lemot, bodoh, dan tidak disiplin. Satu fakta tentang Ervin; ia tipikal pria perfectionist. Kemarin malam, Ervin memerintahkan Jhosepin untuk mengintai aktivitas Asraf hari ini—setelah ia mengetahui bahwa pria itu akan segera menikah dengan wanita lain. Ia ingin membuat sebuah rencana agar kebohongan Asraf segera berakhir dan di satu sisi ia juga ingin membuat Maura berhenti mencintai pria b******k itu. Ervin begitu sangat kesal setelah ia mengetahui kalau Asraf akan menikah dalam waktu dekat tetapi yang anehnya pria itu masih menyempatkan diri untuk melamar Maura. Kesimpulannya Asraf ingin menikah dengan dua orang wanita sekaligus. "s**t! Ini terlalu mendadak untuk mengajak Maura datang ke pesta pernikahan Asraf," pekik Ervin sambil meninju samsak dengan sekuat tenaga. Ervin melanjutkan olahraganya dengan latihan boxing. Ia terus meninju samsak dengan sekuat tenaga—mencoba meluapkan semua emosinya tentang Asraf. Tangannya sudah terasa sangat gatal ingin memukul wajah Asraf. Saat ini Ervin tengah bertelanjang d**a, ia hanya mengenakan celana pendek sepaha. Siapa, pun, yang melihatnya saat itu akan meleleh dengan ketampanan pria berkepala tiga tersebut. Tubuhnya dibanjiri keringat, menambah kesan seksi pada diri pria itu. Setiap pukulannya diikuti dengan teriakan, wajahnya memerah saking kesal dengan perbuatan Asraf kepada Maura—wanita baik yang selalu menjadi mimpi indah di setiap tidur malamnya. Perasaan gundah kini semakin membuat Ervin bertambah emosi, pria itu tak hanya memukul samsak tetapi ia juga menendangnya, meskipun sedikit nyeri pada tulang keringnya—yang penting Ervin bisa meluapkan kekesalannya. Pria itu menganggap samsak seolah tubuh Asraf yang tengah berdiam diri dan siap untuk menerima pukulan darinya. Ervin memberhentikan pukulannya setelah ia mendengar ponselnya bordering. Ia segera membuka sarung tinju dan mengambil handuk kecil, setelahnya ia mengelap keringat yang sudah membanjiri dahinya. "Halo Bos, pesta pernikahannya akan dilaksanakan pukul delapan malam nanti di hotel Grand Gerald," sahut Joshepin saat Ervin mengangkat panggilannya. "Dan akad nikahnya sudah dilakukan dua hari yang lalu." "Good. Gimana caranya agar saya bisa masuk ke pesta pernikahan dia?" tanya Ervin seraya mengelap keringatnya lalu meneguk segelas jus jeruk yang sudah disediakan di atas meja. "Tenang Bos, saya sudah mendapatkan kartu undangan untuk anda. Dan ternyata si target satu organisasi dengan anda, ia salah satu bagian dari Himpunan Pengusaha Muda Indonesia," jelas Joshepin yang kini sedang dalam perjalanan menuju rumah Ervin. "Good. Undangannya letakan di dashboard saja, setelah itu jangan lupa cuci mobil sebelum jam delapan malam. Paham?" "Paham Bos." Jhosepin mengangguk meskipun Ervin tidak mengetahuinya. Ervin memutuskan untuk mengeringkan badannya terlebih dahulu seraya menelepon Maura—untuk mengajak wanita tersebut menemaninya ke pesta pernikahan Asraf. Saat ini Ervin sedang berada di sebuah ruangan pendingin, ruangan yang biasa ia gunakan untuk mengeringkan keringatnya. Setelah ia merasakan tubuhnya setengah kering, Ervin segera menekan speed dial nomor '2' sebagai milik Maura. Tidak perlu menunggu lama, Maura langsung mengangkat panggilan teleponnya. Maura tidak pernah secepat ini mengangkat panggilan telepon Ervin, mungkin wanita ini merasa bersalah karena sudah menolak lamaran Ervin. "Halo ... Ra, gue boleh minta tolong, nggak?" "Tolong apa? Gue bisa bantu asalkan jangan yang aneh-aneh," balas Maura seraya melepaskan celemek dari pakaiannya, sebab ia baru saja selesai memasak. "Entar malam jam 8 gue jemput lo di apartemen, ya, temenin gue ke pesta pernikahan rekan kerja gue, mau ya?" pinta Ervin dengan nada memohon. Ervin berjalan dengan gesit menuju kamar mandi. Ponselnya ia apit diantara bahu kanan dan pipi kanannya, sebab kedua tangan Ervin sedang ia gunakan untuk melucutkan celana pendeknya hingga hanya menyisakan celana dalam saja. "Hm ... gimana ya? Entar gue pikirin lagi deh, soalnya gue harus minta izin sama Asraf dulu." "Ja-jangan ... entar kalo lo minta izin ke Asraf, gue jamin pasti dia enggak bakal kasih izin," sanggah Ervin, setelah ia menyemplungkan tubuhnya ke dalam bathup. "Yaudah, iya ... tapi jam 10 udah pulang, soalnya gue nggak bisa lama-lama. Masih ada urusan di bagian lukisan dan pernak-pernik untuk kamar hotel lo," balas Maura lalu ia memasukan omelet ke dalam mulutnya. "Oke thanks, tampil beda ya ...." * Kamar berukuran sekitar 6×7 meter ini terdapat seorang pria dengan stelan jas hitam yang dipadu dengan kemeja safari bewarna merah marun. Pria itu melihat pantulannya di depan sebuah cermin yang memiliki tinggi lebih dari 30 sentimeter dari tinggi pria tersebut. Ia menyisir rambutnya yang sudah diberi sedikit gel, menyisir ke belakang dengan sedikit testur ombak di bagian depan. Kamar itu dipenuhi dengan aroma parfum Hugo Orange, parfum yang biasa dipakai Ervin saat pergi bekerja maupun berpergian. Dan parfum yang selalu disukai oleh Maura. Kini ia sedang duduk di sebuah ruang tamu sambil menikmati secangkir teh hangat. Seorang wanita paruh baya yang sedari tadi berlutut di hadapan Ervin—kini tengah membantunya memakai sepatu. Tidak sopan memang, wanita itu berusia lebih tua darinya tetapi ia menyuruh wanita itu untuk memakaikan sepatunya, itulah prinsip Ervin, pria yang tidak memiliki hati nurani. Kecuali saat bersama Maura. Setelah ia rasa semuanya sudah siap, ia segera meluncur menuju apartemen Maura. Sepanjang perjalanan ia terlihat sangat bahagia, bahkan pikirannya kini menjelajah jauh, ia sudah membayangkan bagaimana keadaan pernikahan Asraf nanti setelah pria itu mengetahui Maura menghadiri pesta pernikahannya. "Saat ini lo boleh bahagia, tapi sebentar lagi semuanya akan segera berakhir." Ervin menambah kecepatan mobilnya. "Pernikahan yang lo dambakan akan segera berakhir tragis ...," teriak Ervin penuh kemenangan. * Maura merasakan ada sesuatu yang mengganjal di hatinya. Perasaannya tidak karuan, ia merasakan ada sesuatu yang akan terjadi dengan hubungannya bersama Asraf. Maura sudah mencoba menghubungi Asraf berkali-kali sejak siang tadi hingga sekarang tetapi ponsel pria itu tidak aktif. Kesimpulannya, malam ini Maura terlihat sangat gelisah, bahkan ia sudah tidak mampu lagi untuk berpikir positif. Maura sudah rapi dan akan bersiap menemui Ervin yang kini sudah berada di lobi—sedang menunggunya. Maura bergegas meraih ponselnya dan meneguk beberapa obat penenang. Maura tidak terjangkit penyakit apapun, tetapi ia memiliki halusinasi yang tinggi—jadi dengan adanya obat penenang otaknya bisa bekerja dengan normal. Malam ini ia mengenakan long dress bewarna hitam pekat yang memiliki lubang udara dibagian tengah p******a wanita itu, sehingga garis diantara dua gundukan kenyal itu terlihat dengan jelas. Gaun yang Maura kenakan malam ini terlihat sederhana tetapi memiliki kesan elegant. Rambutnya hanya ia sanggul sedemikian rupa, dipadu dengan make up tipis dan heels 6 senti. Gaun panjang itu menutupi kaki jenjang milik Maura, maka dari itu setiap ia berjalan sebelah tangannya sedikit menarik gaun tersebut ke atas. Sesampainya di lobi, Maura melihat Ervin sedang duduk di sofa seraya memainkan ponselnya. Tidak butuh waktu lama, Maura segera menghampiri pria tersebut dan setelahnya mereka bergegas pergi meninggalkan apartemen. * Kini mereka sudah sampai di sebuah hotel berbintang lima, hotel yang akan menjadi tempat pesta pernikahan Asraf dan Vani. Dan hotel ini akan segera terkenal setelah Ervin melancarkan aksinya. Tidak peduli dampak apa yang akan terjadi padanya, karena yang terpenting ia ingin menyadarkan Maura dari permainan bodoh yang sudah Asraf rencakan jauh-jauh hari. Mungkin. Maura tidak menyadari papan bunga yang bertengger manis di pinggiran halaman hotel, papan bunga yang bertuliskan nama kekasihnya, Asraf Regan—bersama sahabatnya Vani Berlin. Pertunjukan akan segera dimulai ... pekik Ervin girang di dalam hatinya. Ia menyunggingkan senyuman kepada penerima tamu yang akan mengecek kartu undangan. Pesta pernikahan sebentar lagi akan dimulai, para pengantin masih dalam tahap persiapan. Maura dan Ervin sudah duduk di sebuah meja bundar yang sudah diisi beberapa sepasang kekasih. Ini akan jadi pesta pernikahan yang paling berkesan buat lo! b*****t! Geram Ervin yang tidak tertahankan. Sebab, tangannya sedari tadi sudah mengepal mantap—dan siap untuk menghantam wajah Asraf dengan seluruh tenaganya. Salah satu sepasang kekasih tersebut kini sedang membicarakan suasana pesta pernikahan Asraf yang terlihat begitu mewah. Tema yang diambil sangat menakjubkan. Asraf mengambil tema dark shadow—maka dari itu setiap tamu memakai pakaian serba hitam, atau merah marun. "Akhirnya dua sejoli itu menikah," ujar salah satu wanita kepada kekasihnya. "Iya ... tidak kusangka, Regan secepat ini menikah, padahal umurnya baru 25 tahun," balas sang pria. Deg ... Regan? Maksud mereka siapa? Gue kayak pernah kenal dengan nama itu deh, namanya familiar banget, sih. Batin Maura. Maura melihat Ervin yang kini sedang tersenyum lebar, tetapi berbeda dengan dirinya yang kini merasakan sesuatu yang buruk akan segera terjadi. Terlebih lagi saat sepasang kekasih itu menyebutkan nama Regan, sebuah nama yang pernah ia dengar sebelumnya tetapi tidak tahu kapan. Perasaan gue tadi udah minum pil penenang deh, tapi kok otak sama kerja jantung gue enggak stabil? Tanya Maura pada dirinya sendiri. "Mohon hadirin sekalian, sepasang kekasih yang sudah kita damba-dambakan kini mereka akan segera berada ditengah-tengah kita semua. Beri sambutan yang meriah kepada Tuan Regan dan Nyonya Regan ...," pekik salah satu MC yang berhasil membuat seluruh hadirin berdiri dari duduknya lalu membuat lingkaran pada titik pusat ruangan. Termasuk Maura dan Ervin. Perasaan aneh di hati Maura kini semakin bergejolak, seolah sebuah masalah besar sudah sangat dekat dengannya. Maura ditarik Ervin menuju barisan paling depan, dan pada saat musik dansa sudah terdengar, sepasang pengantin muncul dari ujung tirai pintu masuk, lengkap dengan stelan hitam dan merah marun. Detik itu juga Maura mendelikkan matanya saat melihat Asraf dan Vani sedang berdansa, terlihat begitu romantis. Adegan yang Maura lihat secara langsung itu mampu membuat matanya menitihkan buliran bening, dadanya terasa sesak dan sakit. Ia paham betul apa maksud Ervin mengajak dirinya ke acara ini. Asraf masih belum menyadari kehadiran Maura diantara puluhan orang yang berada di lingkaran tersebut. Keadaan ruangan gelap, sebab lampu sorot hanya tertuju kepada sepasang pengantin ini. Maura membiarkan mereka terus berdansa hingga akhirnya musik berhenti dan keadaan ruangan kembali terang, lalu sepasang kekasih itu saling bergelut dalam ciuman panas. Setelah semuanya kembali normal dan orang-orang bertepuk tangan, justru Maura langsung menghampiri Asraf dan memberi satu tamparan pada wajah pria tersebut. Seluruh hadirin yang berada di ruangan ini terlonjak kaget dengan aksi yang Maura lakukan. Bahkan Asraf langsung melongo dan tidak bisa berkata apa-apa saat ia menyadari kehadiran Maura, begitu juga dengan Vani. "Jadi selama ini lo bohong dengan gue? Lo bilang, lo dengan Vani udah putus, lo bilang kalo lo enggak bisa hidup tanpa gue? Tapi apa?!" Maura menghapus airmatanya dan kembali menampar pipi Asraf. "Kemarin lo barusan aja ngelamar gue tapi sekarang lo nikahnya dengan sahabat gue? Maksud lo apa Raf? Lo mau bikin gue mati muda?" bentak Maura seraya menarik kerah kemeja pria tersebut. Vani yang bingung dengan ucapan Maura memilih untuk buka suara, "maksudnya gimana? Gue enggak ngerti!" Vani kini menatap Maura. "Maura, tadi lo bilang kalo Asraf, kemarin ngelamar lo?" Vani tertawa getir, "enggak mungkinlah, enggak usah mengada-ngada, deh! Bilang aja lo cemburu dengan pernikahan gue! Karena dari dulu lo itu cinta mati sama Asraf, tapi sayang, Asraf cintanya sama gue, bukan sama elo!" timpal Vani sambil tertawa sinis lalu dengan sengaja ia mendorong tubuh Maura hingga wanita itu mundur beberapa langkah hingga melepaskan genggamannya dari kerah baju Asraf. Maura membalas dorongan Vani dengan satu tamparan tepat di pipi wanita bergaun pengantin tersebut, hingga membuat bercak merah pada pipi wanita itu. "Jaga omongan lo! Ini buktinya." Maura melepaskan cincin tersebut dari jari manisnya dan jari tengahnya lalu ia campakkan tepat di wajah Asraf. "Lo makan nih cincin dan lo makan tuh cinta!" Asraf yang awalnya terdiam dan masih tidak menyangka atas kehadiran Maura, ia langsung menahan tangan wanita itu dengan tatapan memohon. "Ra, maafin aku ... pliss ...." Tar ... Satu tamparan kembali mengenai pipi kanan Asraf. "Satu tamparan lagi buat pria berengsek kayak lo!" Tanpa peduli betapa perihnya tamparan Maura mengenai pipinya, justru Asraf mengambil langkah seribu untuk kembali menggenggam tangan wanita itu. Kontan Maura langsung melepaskan genggaman tangan Asraf dan kembali menitihkan airmatanya. "Setelah apa yang udah kita laluin bersama, lo balas gue dengan pernikahan ini? Untuk apa lo ngatain cinta sama gue di depan orang ramai? Cuma karena lo kasihan sama gue?! Iya?!" Maura menghapus airmatanya dan menarik napas dalam-dalam, "gue salah milih orang, gue kira lo yang buat warna abu-abu di hati gue berubah jadi bewarna. Namun setelah lo melukis pelangi di kehidupan gue dan sekarang lo juga yang merusak pelangi tersebut." Setelahnya Maura berlari menghampiri Ervin—yang kini sedang tersenyum puas atas apa yang dilihatnya barusan, tetapi tidak sampai di situ saja karena Asraf juga ikut berlari mengejar Maura. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN