BAB 14

2028 Kata
Kejadian kemarin malam masih terbayang dengan jelas di benak Maura. Setiap detail kejadiannya, suasananya, gerakannya maupun ucapannya ... dan sepertinya Maura akan kembali menangis. Ia bahagia karena sebentar lagi akan melepas masa lajangnya, terutama saat Asraf melamarnya dengan cara yang diluar dugaan. Setelah ini, mungkin Maura akan belajar untuk bersifat lebih dewasa lagi, tidak centil seperti sebelumnya. Apapun bentuk kejadiannya, Maura harus bisa menyikapinya dengan dewasa—dengan pola pikir kritis. Sebab, setiap masalah pasti selalu ada jalan keluarnya. Tidak terasa, buliran bening meluncur dengan bebas dari pelupuk matanya. Ia memang sedang merasa bahagia, namun di sisi lain ia juga merasakan kesepian. Sebab, ia akan melepas masa lajangnya tanpa kehadiran Desty. Wanita lain biasanya akan sibuk mengurus kebutuhan pernikahaannya dengan Ibu mereka masing-masing tetapi Maura mengalami sesuatu yang berbeda. Tanpa Desty, tanpa omelannya, tanpa nasihatnya, tanpa kebawelannya. Apapun itu, saat ini Maura hanya butuh seorang Ibu yang akan mendampinginya saat resepsi pernikahan nanti, tetapi hal itu sangat tidak mungkin terjadi. "Biasanya sebelum tidur Ara pasti curhat dulu sama Mama, kita shoping bareng, masak bareng, persis seperti sepasang sahabat bukan antara anak dan Ibu," ujar Maura pelan, hingga suaranya langsung menghanyut diterpa angin. Ara; adalah panggilan kesayangan Desty kepada Maura. "Kapan kita bisa ngumpul lagi, layaknya sebuah keluarga yang utuh? Kangen masakan Mama, kangen dumelan Papa." Jeda tiga detik, "Maura enggak ingin, keluarga baru Maura bersama Asraf nanti akan hancur seperti keluarga kita yang sekarang ...." bendungan airmatanya kini semakin cepat mengalir. Angin cukup kencang menerpa udara malam di atas rooftop. Angin itu terasa menusuk hingga ke tulang Maura, rambutnya terhuyung, kemeja yang dipakainya juga terhuyung mengikuti arah mata angin. Maura memeluk tubuhnya sendiri, angin itu terlalu kencang untuk tubuhnya yang ringkih. Ia menaikan kedua lututnya lalu Maura memeluknya. Suasana Kota Jakarta terlihat sangat indah dari atas sini, namun semua keindahan itu sama sekali tidak berarti bagi Maura. Sudah cukup ia kehilangan Mamanya, dan kini ia tidak mau kehilangan Asraf untuk yang kedua kalinya. Sudah cukup ia merasakan pahit kehidupan, dan mungkin sudah saatnya ia akan merasakan manis dari kehidupan. Ddrrt ... drtt ... drtt ... Suara getaran itu terjadi berkali-kali, hingga pada akhirnya Maura tersadar kalau ada panggilan telepon pada ponselnya. Lantas, ia langsung merogoh saku celananya tanpa mengubah posisi duduknya sama sekali. "Hal-halo ...." suaranya parau, siapapun yang mendengar suara Maura saat itu pasti langsung bisa menebak kalau wanita itu baru selesai menangis. "Maura? Lo habis nangis? Kenapa? Ada apa?" timpal Ervin dari ujung speaker. Kontan saat itu juga Maura langsung menghapus airmatanya kasar lalu mengambil napas agar suaranya kembali normal. Ia berdeham beberapa kali dan kembali menjawab panggilan telepon. "I'm fine." "Gue tau banget kalo lo habis nangis? Lo kenapa Maura?" "Gue enggak apa-apa. Kenapa sih lo? Kepo banget jadi orang," ketus Maura sambil merapikan rambutnya yang sedikit berantakan. "Kemarin aja lo ngilang, terus, sekarang tiba-tiba nongol dengan gaya sok tau lo itu! Cih!" "Gue? Kepo?" Ervin tertawa terbahak. "Maura, Maura, gue cuma khawatir sama lo. Salah ya cowok b***t kayak gue enggak boleh perhatian sama lo? Enggak boleh khawatir sama rekan kerjanya sendiri?!" Detik setelah mendengar kalimat terakhir yang diucapkan Ervin begitu menusuk ke hati Maura. Ia merasakan kalau Ervin dengan tulus menanyai keadaan dirinya, tetapi justru ia menanggapi itu dengan kasar. Entahlah, mungkin ini efek dari kesedihan Maura. Apapun nanti masalah antara ia dan Ervin, Maura harus bisa menyelesaikannya dengan pola pikir dewasa. Ia tidak mungkin harus selalu menganggumi Ervin, meskipun pria itu sudah merebut separuh persen perhatiannya. Karena kini, ia sudah memiliki calon suami yang akan memulai hidup baru dengannya. Membentuk sebuah keluarga dengan Asraf adalah mimpinya sejak SMA, dan sekarang Maura akan mewujudkan mimpi itu—dengan berhenti bermain-main dengan perasaannya sendiri. Tuut ... tuut ... Maura memutuskan panggilan telepon itu sepihak. Ingin rasanya saat ini juga ia berteriak sekeras-kerasnya, melupakan semua beban pikirannya—namun ia takut dikira seperti orang gila jika berteriak di malam hari dan di tempat terbuka seperti ini. Ia masih di tempatnya semula—meratapi nasibnya—ia masih duduk di pinggiran tembok apartemen dengan kaki yang menggantung. Jika saat itu juga ia dikejutkan—maka bisa dipastikan wanita itu akan terjatuh ke jalan raya. Maura merasakan sesuatu yang aneh, mendadak tempat yang ia duduki kini menjadi sangat berisik dengan terpaan angin yang sangat kencang hingga menembus kulitnya. Ia menoleh ke arah sumber suara, ternyata ada sebuah helikopter tengah berada beberapa meter dari atas kepalanya. Maura bangkit dan sedikit mendongakkan kepalanya, melihat siapa sosok dibalik kemudi helikopter yang telah merusak suasananya. "Ervin?" tanya Maura tidak percaya, ia melihat Ervin tengah mengendarai sebuah helikopter. Dan hal itu sesuatu yang sangat mengejutkan. Sebab, yang Maura ketahui pria tersebut sangat takut dengan pesawat yang ingin mendarat, justru kini Ervin malah mencoba untuk mengendarai helikopter. Tidak butuh waktu lama, Ervin segera menurunkan sebuah tali tambang ke bawah—agar Maura bisa naik ke atas dan ia ajak berkeliling dengan helikopter kesayangannya. Wanita itu menatap jengah pada sebuah tali bewarna hitam di hadapannya, ia tidak mengerti maksud Ervin menurunkan tali tersebut. "Untuk apa tali ini?" tanya Maura berteriak karena dia yakin Ervin tidak akan mungkin mendengar ucapannya jika dengan suara volume kecil. "Sekarang pegangan kuat sama tali itu, lo ikut gue keliling kota Jakarta naik helikopter," balas Ervin dengan pengeras suara yang disedikan pada helikopter tersebut. Lantas, tanpa pikir panjang, Maura meraih tali tersebut dan Ervin langsung melajukan helikopternya. Maura masih menggantung, melayang di udara saat helikopter sudah bekerja, tetapi tidak beberapa lama tali itu kini mulai menarik Maura ke atas. Hingga akhirnya ia duduk di sebelah kursi kemudi, dan setelahnya Ervin memberikan Maura sebuah earphone agar tidak terjadi gangguan pendengaran saat helikopter sedang beroperasi. * Maura tidak percaya kalau dirinya saat ini berada di dalam helikopter yang sedang beroperasi, sebab ini pertama kalinya dalam kehidupan Maura. Dan Maura tidak menyangka kalau Kota Jakarta terlihat sangat indah dari ketinggian 2 kilometer. Bahkan keindahan Jakarta yang tidak ada artinya bagi Maura, kini ia ambil kembali perkataannya itu. Karena tidak seharusnya kita terlalu fokus pada satu masalah dan melupakan keadaan sekitar. "Lo bisa ngendarai helikopter?" "Menurut lo?" balas Ervin penuh penekanan disetiap kata yang diucapkannya. Maura tertawa geli setelah ia menyadari maksud dari perkataan Ervin. "Sejak kapan lo bisa ngendarai helikopter?" "Baru aja. Ini juga nyoba-nyoba." Suara Ervin terdengar menakutkan, hingga membuat jantung Maura semakin berdegup sangat kencang. "Erviiin ... jadi lo baru perama kalinya ngendarai helikopter? Ervin eek! Gimana kalo nanti kita jatuh? Gue belum nikah!" teriak Maura sekencang-kencangnya seraya memukuli lengan Ervin. "Santai aja, gue bercanda kok." Ervin mengacak rambut Maura. "Ohya, nanti gue yang bakal nikahin lo, mau 'kan, lo nikah sama gue?" Deg ... Saat itu juga tubuh Maura terasa mati rasa, mulutnya tidak bisa mengeluarkan suara apapun untuk membalas pertanyaan Ervin. Ucapan Ervin tadi seolah seperti sebuah petir yang menyambar Maura begitu saja. "T-ta-tapi ...." "Tapi kenapa? Lo nggak mau?" timpal Ervin yang tidak sabar menunggu jawaban Maura. "L-lo eng-enggak bercanda ka-kan?" tanya Maura terbata-bata. Tidak terasa kini Ervin sudah menurunkan helikopternya di sebuah rumah yang sangat besar, bahkan saking besarnya, rumah tersebut memiliki lapangan udara untuk parkir helikopter. Rumah itu sebagian temboknya terbalut dengan emas, sangat mewah, dan sangat menakjubkan layaknya sebuah kerajaan yang ada di film kartun Disney. Saat helikopter sudah terparkir dengan sempurna, Ervin langsung menggenggam tangan Maura. "Emang muka gue kelihatan lagi bercanda? Atau salah kalo gue jatuh cinta sama lo?" "Ta-tap-tapi ...." Maura terdiam, ia tidak tahu bagaimana caranya memberitahu Ervin kalau ia akan segera menikah dengan Asraf minggu depan. "Tapi, g-gue ...." "Kenapa? Kenapa lo cuma diam, Maura? Lo enggak suka sama gue? Lo takut kalo gue bakal main wanita lagi?" Ervin mencoba meyakinkan Maura kalau dirinya pasti akan berubah. "Tapi Vin, gu-gue minggu depan akan nikah ...." kini gantian Maura yang menggenggam tangan Ervin, mengelus pipi pria tersebut dengan lembut. "Lo? Nikah? Nikah sama siapa? Gue kira lo punya perasaan yang sama dengan gue." Ervin tertawa getir. "Lo tau, kenapa belakangan ini gue selalu ngehindarin lo? Itu semua karena gue coba menangkis perasaan gue ke elo! Ternyata apa? Ternyata gue memang jatuh cinta sama lo! Gue sayang sama lo ...." Buliran bening meluncur dengan sempurna dari pelupuk matanya. Untuk pertama kalinya Maura melihat seorang Ervin menitihkan airmatanya, dan untuk pertama kalinya juga Ervin meneteskan airmatanya hanya karena seorang wanita—ciptaan Tuhan yang selalu dipandangnya sebelah mata. "Gue bodoh bisa cinta sama orang yang ternyata udah punya kekasih ...." Maura menghapus airmata Ervin, lalu ia mendekap tubuh kekar pria tersebut. Cukup lama ia memeluk Ervin, mengelus punggung kepala pria itu, dan mencoba memberi isyarat; kalo gue juga punya perasaan yang sama dengan lo Vin, tapi lo terlambat, gue udah dilamar duluan sama Asraf. "Kemarin malam Asraf ngelamar gue, Vin. Minggu depan gue bakal nikah sama dia, dan gue yakin lo pasti bakal mendapatkan seorang wanita yang lebih baik dari gue," nasihat Maura mencoba menenangkan suasana hati Ervin. Ervin melepaskan pelukan Maura dari badannya. Diam sejenak lalu ia menghapus kasar airmatanya. Dengan segenap hati Ervin mencoba untuk tersenyum, senyuman yang menutupi betapa rapuh hatinya. "Selamat ya." Ervin menarik napasnya dalam-dalam lalu membuangnya perlahan, "gue enggak pernah percaya sama wanita, selain lo." "Tapi lo pasti nemuin yang lebih baik dari gue." Maura mencium dahi Ervin dan mengelus pipi pria itu. "Antar gue pulang Vin, please ...." Pria itu menganggukan kepalanya dan meminta pengawalnya untuk mengantar Maura kembali pulang ke apartemennya. * Ervin melamun di ruang kerjanya, meratapi nasibnya saat ini. Kini ia mulai sadar kalo wanita itu adalah ciptaan Tuhan yang paling lemah, dan harus dijaga bukan diperlecehkan. Ervin mulai menyadari semuanya setelah ia bertemu dengan Maura, wanita pertama yang mampu membuat Ervin jatuh cinta. Meskipun ia sering meniduri berbagai jenis wanita, namun itu semua hanya untuk memuaskan nafsunya tanpa dasar cinta. Maura memang wanita yang selalu membuatnya kesal dengan segala kecerobohan wanita itu, tetapi kini ... ia rasanya tidak bisa hidup tanpa Maura. Penyesalan emang selalu datang terlambat, dan sekarang Ervin menyesal karena sudah menghindari Maura tanpa sebab. Benci dan cinta hanya dibatasi dengan selembar tisu, dan kapan pun, tisu itu pasti akan robek hingga mampu membuat seseorang yang awalnya benci berubah menjadi cinta. Perumpamaan itu kini terjadi dalam ke hidupan Ervin. Semuanya berawal dari benci, hingga pada saatnya ia terpukau dengan pesona wanita yang ia benci. Yaitu; Maura. Ervin tidak bisa biarin Maura jatuh di tangan yang salah, detik itu juga Ervin mencari tahu seluk-beluk tentang Asraf. Lantas, ia langsung menghidupkan komputernya dan mulai mencari pencarian nama Asraf pada browser. Kini Ervin sudah menuliskan keyword 'Asraf' pada bar Google—sebab ia tidak mengetahui nama lengkap pria itu. Dari hasil pencarian Google ada beberapa nama Asraf yang memiliki kedudukan penting di Dunia. Asraf Gorge Asraf Gustav Asraf Refain Asraf Regan Asraf Ruyiari Rasraf Fareza Rasraf Lucky ... Ervin mengklik satu persatu dari daftar nama yang tersedia. Memulainya dengan hati yang sabar. Hingga akhirnya ia mengklik nama 'Asraf Regan' dan ternyata apa yang ia inginkan kini terwujud. Layar monitornya kini menampilkan biografi Asraf beserta fotonya dan berita-berita yang menyangkut namanya. Asraf Regan, CEO muda kelahiran kota Bandung. Pria yang memiliki beberapa saham di perusahaan minyak tanah dan memiliki sebuah perusahaan bisnis property. Asraf Regan atau yang lebih sering dipanggil Asraf (25), pria tampan keturunan Arab-Indonesia ini memiliki ratusan penggemar meskipun ia bukan seorang Publik Figur. Ayahnya, (Abinaya Regan) kelahiran Negara Arab yang berimigrasi ke Indonesia 30 tahun yang lalu, sedangkan Ibunya (Lilis Kanjeng) asli keturunan suku Sunda. (Dok. 01 Maret 2012) Nama: Asraf Regan Tanggal Lahir: Bandung, 21 Mei 1992 Umur: 25 tahun Karir: CEO of Re's oil and Re's property Status: Tunangan dari Vani Berlin Harta: 3 triliun Hubungan Asraf Regan dan Vani Berlin terjalin sudah sangat lama sekali, mereka memulai menjalin kasih sejak tahun 2006, kini dikabarkan mereka akan segera menikah dalam waktu dekat. Asraf Regan pernah mengatakan kepada salah satu wartawan kami. "Saya terlalu mencintai Vani, dan atas izin Allah kami akan segera menikah dalam waktu dekat ini," tukas Asraf. (Dok. 01 maret 2012) "Gila, apa?! Si b*****t ini udah punya tunangan, bahkan dia akan menikah dalam waktu dekat ini? Terus, dia kok bisa ngelamar Maura, dan juga mengajak menikah?" tanya Ervin pada dirinya sendiri. Ia terus memijit pelipisnya agar pusing yang melanda segera berkurang. "Ini dokumen dua hari yang lalu deh, jadi enggak mungkin aja kalo berita ini hoax." Jeda tiga detik, "sepertinya ada yang tidak beres." ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN