BAB 13

1844 Kata
Hubungan Maura dan Asraf kini sudah memasuki usia tiga bulan, dan selama itu pula hubungan mereka tidak diketahui oleh Ervin. Hubungan backstreet yang ternyata disetujui oleh Asraf itu kini berjalan dengan lancar tanpa ada perseteruan antara kedua pria itu; Asraf dan Ervin. Selama mereka menjalin kasih, semua masalah yang sedang Maura hadapi dengan Ervin lenyap begitu saja saat ia bertemu dengan Asraf. Cinta mampu membuat segalanya terasa indah, jika itu tidak terjadi kepadamu mungkin kamu salah memilih pasangan. Karena suatu hubungan akan berjalan dengan baik jika tidak ada unsur keterpaksaan dari keduanya. Namun, belakangan ini, tepatnya sudah seminggu silam, Asraf hilang tanpa kabar. Maura terus mencoba menghubungi pria itu, tetapi berujung kesialan. Asraf tidak pernah mengangkat telepon dari Maura atau sekedar membalas pesan dari Maura. Entah apa yang dilakukan pria itu—hingga berhasil membuat Maura khawatir bukan main. Maura mengklik tombol 'minimize' setelah ia bosan memandangi hasil dari presentasinya untuk minggu depan yang ia kerjakan pada Microsoft Office Powerpoint. Maura beralih membuka windows explorer lalu mencari berkas yang bernama 'Beruang Cinta'. Terpampang dengan jelas, beberapa koleksi foto Maura dan Asraf yang sangat mesra. Foto-foto itu diambil saat mereka sedang berkeliling ke setiap daerah yang menurut mereka menarik—hanya berdua—namun kini Maura merasa sendirian. Ada satu foto yang menarik perhatiannya. Foto itu menampilkan sosok dua insan yang saling berpose—paling aneh—selama mereka berpacaran. Maura sedikit memperbesar foto tersebut, layar monitor laptopnya yang datar mampu menampilkan wajah Asraf dengan sangat jelas. Pada foto tersebut, Asraf sedang menjulingkan matanya dengan beberapa helaian rambut Maura yang ia selipkan diantara bibirnya yang—sengaja ia monyongkan—dan hidungnya. Berbeda dengan Maura yang tertawa lebar hingga kedua matanya menyipit. "Kamu kemana aja, sih? Aku kangen my bear ...," gumam Maura pelan. Ia kembali beralih pada foto-foto yang lainnya. Seperti foto saat mereka berdua sedang berada di tempat fitness, berwisata ke daerah terpencil, dan masih banyak lagi. Berkas tersebut dipenuhi dengan 110 foto, bahkan sisanya ada di galeri ponsel Maura. Drrrt ... drrrtt ... Maura yang saat ini sedang duduk sendirian di kafe—seraya memandang foto—mendapatkan pesan dari Asraf melalui aplikasi LINE. Ia menyesap kopi karamel miliknya terlebih dahulu sebelum membaca pesan tersebut. "Astaga?! Asraf ... akhirnya nongol juga!!" pekik Maura girang hingga ia tidak menyadari keadaan sekitarnya. Asraf Regan: Maura sayang ... maaf ya, Bee.. aku enggak bisa kasih kamu kabar. Seminggu belakangan pekerjaan aku bener-bener numpuk banget gara-gara liburan panjang denganmu di Thailand. Maura mengulum senyumnya saat Asraf sudah memberi penjelasan yang menurutnya masuk akal. Memang, seminggu sebelum Asraf menghilang tanpa kabar—mereka berdua liburan ke Thailand selama satu minggu, dan ternyata selama itu pula pekerjaan Asraf tidak ada yang menghandle—sebab Sekertarisnya juga sedang berada di luar kota untuk menjenguk Ibunya yang sedang sakit. Maura Kenesia: kagak apa yang penting kamu masih ingat sama aku kamu lagi apa? Udah makan? Tidak butuh waktu lama, ternyata Asraf kembali membalas pesan Maura. Dalam waktu semenit sepertinya. Asraf Regan: lagi mikirin kamu... huaaa..... kangen masakan kamu, Yang ... Maura Kenesia: idih! Alay, ewwh... Asraf Regan: beneran tauukk... eh, Yang... Maura tersenyum saat membaca kalimat pesan Asraf yang baru saja dikirimnya—terkesan seperti remaja labil yang baru menggunakan ponsel. Maura Kenesia: kenapa, Yang? Asraf Regan: nanti malam dandan yang cantik, tapi pake pakaian yang simple aja. pokoknya jam tujuh aku udah jemput kamu aku sampe, kamu harus udah selesai dandan. Maura menggaruk pelipisnya yang tidak gatal, seraya menerka apa yang ada dipikiran Asraf saat ini. Biasanya pria itu tidak pernah melakukan ini, sebab kalau Asraf hendak mengajak Maura hangout—hal itu terjadi secara tiba-tiba, tanpa ada unsur memberi aba-aba seperti ini. Maura Kenesia: mau kemana Yang? Asraf Regan: jangan banyak tanya! Udah kaya polisi aja. pokoknya turuti apa yang aku bilang ... oke, oke?? yaudah kalo gitu, kamu jaga kesehatan ya... jangan lupa makan! setengah jam lagi aku mau meeting. Bye!! Maura menekan tombol kunci pada ponselnya setelah ia sudah membaca pesan dari Asraf, lalu mengambil secangkir kopi dan menyeruputnya hingga bersisa setengah. Ia tidak habis pikir dengan Asraf, ada aja tingkah kekanak-kanakannya—justru hal itu yang membuat Maura bahagia selama beberpa bulan belakangan ini. "Kok gue jadi kayak orang bego ya?" tanya Maura pada dirinya sendiri. "Ah, sudah, lah ... masa bodo dengan semuanya!" * Malam ini, Asraf datang sesuai dengan janjinya. Tepat pukul tujuh malam ia sudah sampai di apartemen Maura. Asraf terlihat sangat tampan dengan penampilan casual seperti ini, kaos polo bewarna putih polos yang ia padukan dengan jaket kulit bewarna senada dengan celana jeansnya, hitam. Ia membuka kacamata hitamnya saat pintu utama sudah dibuka oleh Maura—namun wanita itu terlihat baru selesai mandi, sebab ia masih mengenakan piyama mandi dan handuk yang membalut kepalanya. Setelah dipersilahkan masuk dan diberi segelas air hangat, Asraf menunggu Maura sejenak—di ruang tamu—yang sedang memakai baju. Selagi menunggu Maura, Asraf memutuskan untuk membuka ponselnnya dan bermain game. Namun, tidak lama kemudian Maura keluar dari kamar dengan penampilan layaknya remaja SMA. Kaos polo ketat bewarna hitam legam, serta celana jeans putih yang ia padukan dengan sepatu kets. Malam ini penampilan mereka sangat serasi, persis seperti baju couple. "Cantik banget." "Kamu juga ganteng." "Berangkat sekarang?" tanya Asraf yang langsung dibalas Maura dengan anggukan kepala. * Malam ini mereka memulainya dengan pergi ke suatu pasar malam yang berada di kawasan Jakarta Selatan. Sangat banyak wahana yang harus mereka jelajahi di sini, namun Asraf memohon untuk bermain Komedi Putar terlebih dahulu. Maura berada di kuda bewarna hitam, sedangkan Asraf di kuda bewarna merah. Kuda mereka memiliki posisi yang sama, maksudnya kuda yang ditunggangi Maura berada tepat di samping kuda yang ditunggangi Asraf. Canda tawa pun mulai terdengar. Akibat ulah jahil Asraf, Maura sampai beribu kali komat-kamit saking takut dengan ucapan Asraf barusan, 'kamu tau nggak? Menurut artikel yang aku baca, komedi putar ini memiliki roh yang selalu mencari seorang wanita sebagai tumbalnya' kurang lebih seperti itulah yang Asraf katakan. * Setelah selesai bermain berbagai macam wahana, mulai dari Komedi Putar, Rumah Hantu, Tong Setan, Photobox, dan wahana yang lainnya. Namun, ada satu wahana yang sengaja Asraf sisihkan untuk rencana akhirnya. Ia mengajak Maura untuk bermain wahan yang terakhir, yakni; wahana baling-baling. Mereka duduk di gerbong bewarna merah muda dengan lampu yang paling banyak dan terang. Sepertinya di wahana baling-baling ini hanya ada mereka berdua saja. "Kok cuma kita berdua aja yang main?" tanya Maura takut. "Bagus dong ...." "Bagus dari mana coba? Kalo misalnya baling-baling ini macet, gimana? Cuma kita berdua doang lagi yang naik, bahaya tau ...," ungkap Maura yang semakin takut saat wahana baling-baling ini mulai bekerja. "Kalo cuma kita berdua yang naik, kan, romantis," balas Asraf tidak mau kalah. "Terus kalo kita mati, gara-gara baling ini macet dan kita terjungkal gimana?" cetus Maura yang semakin menjadi-jadi saat gerbong mereka sudah berada di jarum jam angka 9. "Kalo gitu, berarti kita matinya berdua. Terus orang-orang bakal bilang kalo kita itu cinta sehidup-semati." Plaakkk ... Satu jitakan berhasil mendarat di kepala Asraf saat ia berbicara seperti itu. Raut wajah Maura semakin terlihat cemas, ia benar-benar takut akan kejadian yang diucapkan Asraf tadi. Memori tentang film Final Destination tiba-tiba melintas di pikiran Maura, ia tidak ingin hidupnya bernasib sama dengan para pemain film tersebut. Terdengar suara decitan besi yang sangat keras. Baling-baling ini mendadak berhenti saat gerbong mereka sudah berada di paling puncak. Maura menjerit sekuat-kuatnya, sambil memeluk tubuh Asraf dengan sangat erat. Bahkan bisa dikatakan kaos yang dipakai Asraf berhasil naik hingga menampilkan bentuk otot perutnya. "Kan, Raf ... aku takut, benerkan yang aku bilang ... lagian sih kamu kenapa bilang kayak tadi, kalo beneran terjadi gimana?" ungkap Maura bertubi-tubi. Ia terus memeluk Asraf, hingga wajahnya ia benamkan pada ketiak pria itu. Dengan santai, tanpa ada raut kecemasan yang sama dengan Maura, Asraf hanya mengelus puncak kepala wanita itu, sambil mengecupnya berkali-kali. "Tenang aja, enggak ada yang harus kamu khawatirkan." "Tapi Raf ...." "Udah, coba kamu lihat di bawah sana, indah tau, lagian kalo kita berlama-lama di atas gini, kan, lebih terkesan romantis." "Kamu mah, enggak usah bercanda," timpal Maura sambil mencubit perut Asraf. Aroma tubuh Asraf sudah cukup membuatnya tenang, dan ia tidak mau mengambil resiko dengan melakukan apa yang Asraf perintahkan. "Aku enggak bercanda, tauk ...." Asraf mengangkat kepala Maura dari ketiaknya, "coba lihat ke bawah sana," titah Asraf dengan jari telunjuk yang mengarah ke bawah. Ketakutan langsung menyerbu pikiran Maura, namun ia juga penasaran dengan apa yang dikatakan Asraf. Ia menenggak salivanya secara paksa berkali-kali, sebelum ia melihat apa yang sudah terjadi di bawah sana. Kini raut ketakutan telah sirna, digantikan dengan raut bahagia. Apa yang dikatakan Asraf ternyata memang benar. Ada sekumpulan lilin yang bertuliskan 'I LOVE U' dan Maura yakin kalau lilin-lilin itu bertujuan untuk mengungkapkan perasaan Asraf kepadanya. Tidak lama kemudian, ada puluhan orang berbaris menjadi kesatuan dengan sebuah kertas yang mereka angkat di atas kepala. Layaknya sebuah puzzle. Setelah semua kertas itu menyatu, Maura dapat membaca apa yang tertera di atas kertas itu. Sontak, ia langsung menutup mulutnya dengan kedua tangan. Itu hal yang paling romantis yang pernah ia alami, dan hal itu juga telah menjawab semua pertanyaan di hatinya, kalau hal romantis seperti itu juga ada di dunia nyata, bukan sekedar hayalan para penulis novel. Kertas-kertas itu menyatu menjadi sebuah kertas besar yang bertuliskan, 'Will You Marry Me?' Tanpa pikir panjang, Asraf langsung mengamit telapak tangan Maura dan meletakkannya tepat di d**a sebelah kiri. Ia menatap Maura dengan binar, seolah ingin menunjukan kepada Maura bahwa inilah yang sedang ia rasakan. Jatuh cinta yang sangat amat dalam. Entah sejak kapan, Asraf mengambil sebuah microphone dari dalam saku jaketnya. Ia diam sejenak, tersenyum semanis mungkin yang langsung dibalas Maura dengan senyuman yang sangat tulus. "Aku tau ini terlalu cepat, kita hanya melewatinya selama tiga bulan, tetapi aku rasa ini udah waktunya." Jeda tiga detik, "aku tidak ingin lagi status kita sebagai seorang kekasih, tetapi aku ingin menjadi seorang suami dari Maura Kenesia berserta seorang ayah dari anak-anak kita nanti." Asraf mengeluarkan sebuah cincin dari dalam kotak kecil yang ternyata sedari tadi berada di dalam saku celananya. "Will you marry me?" Maura mengangguk pasti dengan senyuman tulus yang mengembang. Ia tidak bisa menyembunyikan rasa bahagianya ini. Ia rasa Asraf sudah pantas untuk menjadi suaminya kelak. "Iya, aku mau menikah denganmu ...," balas Maura tak kalah lantang. Lantas semua orang yang menjadi tim Sukses dari acara pelamaran ini, ikut bersorak bahagia di bawah sana. Setelah medapatkan jawaban yang pasti dari Maura, lantas, Asraf langsung mengaitkan cincin tersebut di jari tengah, sebab jari manis sudah berisi satu buah cincin dari Asraf yang ia berikan saat mereka resmi berpacaran Maura langsung memeluk Asraf begitu erat, namun ia tidak menenggelamkan wajahnya pada d**a bidang Asraf, melainkan di ketiak pria itu. "Terus romantis seperti ini sama aku ...." Tanpa mengindahkan ucapan Maura barusan, Asraf justru melepaskan kepala wanita itu dari ketiaknya. Kemudian ia tertawa geli. "Nanti aja kalau udah nikah baru cium-cium ketiak. Nanti, kan, kalau udah nikah kamu bebas mau cium apa aja, mau ketiak, bibir, atau ...," ucap Asraf dengan sengaja menggantungkan kalimat terakhir. "Asraf Junior!" pekik Maura girang, namun ia malah mendapatkan satu jitakan dari Asraf. "Jorok, ih ...." Asraf kembali duduk dengan tenang saat baling-baling kembali bekerja. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN