BAB 12

1797 Kata
Malam ini entah mengapa, Maura terlihat gelisah di atas kasur—sejak dua jam yang lalu. Entah apa yang ada di pikirannya saat ini, namun yang jelas apapun itu—telah membuat Maura tidak nyaman melakukan apapun. Ia sudah mencoba untuk tidur, memaksakan diri memejamkan mata, mencoba gaya tidur apa saja—namun hasilnya masih sama, tidak bisa tidur. Sejak bekerja di kantor tadi, Maura sudah menguap berkali-kali, bahkan sempat memiliki pikiran kalau sampai di rumah nanti—ia memilih langsung tidur ketimbang mandi. Sewaktu memperhatikan anak-anak sedang mengecat dinding lantai lima, rasa kantuk sudah melandanya. Namun setelah sampai di rumah, pikiran untuk langsung tidur lenyap begitu saja. Rasa kantuk hilang, namun kini bayangan Ervin merajalela di pikirannya. Maura bingung dengan sikap pria itu, selama dua minggu belakangan ini Ervin sudah mengabaikannya begitu saja. Diajak makan siang bareng, nolak. Ditanya soal pekerjaan, ia malah menyuruh Olive untuk menggantikan posisinya. Bahkan tadi siang, Maura sama sekali tidak dianggap ada—padahal dengan mata kepalanya sendiri Maura melihat Ervin tengah bergelut ciuman dengan Sekertarisnya. Apa mungkin Ervin marah karena gue pacaran sama Asraf? Tapi dia kan sama sekali enggak tau kalo gue pacaran sama Asraf ... aneh aja gitu, dicuekin tiba-tiba. Pikir Maura sambil mengubah posisi tidurnya. Satu pikiran terlintas di benaknya. Dengan sigap, Maura langsung bangun dari rebahannya dan meraih ponsel yang terletak di atas nakas. Maura menekan speed dial nomor '3' sebagai milik Ervin. "Halo, Vin ... gue ganggu waktu lo, nggak?" tanya Maura setelah Ervin mengangkat sambungan teleponnya. "Emang kenapa? Ada apa?" pekiknya sangat keras—hingga membuat Maura menjauhkan telepon selularnya dari telinga. Meskipun suara Ervin terdengar sangat keras, namun Maura masih dapat mendengar ada suara kericuhan di sana. Dentuman volume musik yang keras masih terdengar jelas dari speaker ponselnya. Maura yakin sekali kalau Ervin sedang tidak berada di rumah, melainkan di suatu tempat yang ia yakini itu adalah kelab malam—meskipun ia tidak tahu pasti dengan firasatnya. "Lo lagi dimana sih, Vin? Kok berisik banget di sana? Banyak suara wanita lagi. Lo lagi di kelab ya?" tanya Maura yang sangat penasaran dengan suasana di sana. "Gue lagi sama wanita penjilat titit! Lo mau jilat titit gue? Ha?" Ervin tertawa terbahak-bahak lalu mengerang dengan suara berat yang terdengar sangat seksi di telinga Maura. Saat itu juga rasanya Maura ingin mencampakkan ponselnya ke sembarang arah, namun ia mengurung niatnya setelah sadar sudah cukup sering ia mencampakkan ponselnya. Ini permasalahannya Ervin sudah mabuk—karena Maura yakini, Ervin tidak mungkin berbicara hal bodoh seperti itu. Apalagi mengingat ia pemilik hotel berbintang lima. Tentu memiliki wibawa yang sangat disegani setiap orang. "Kenapa? Lo mau? Kalo mau biar gue bayar mulut lo sepuluh juta, asalkan lo mau puaskan junior gue!" Maura langsung tersadar dari lamunannya, setelah itu ia menggeleng dan membuang pikiran itu jauh-jauh. Lo udah punya Asraf, Ra ... cukup satu, jangan maruk. Maura memejamkan matanya, "gue besok enggak bisa kerja, gue izin ya ... satu hari aja." Jeda tiga detik. "Kepala gue pusing banget ...." "Belum juga mulai, udah pusing aja lo! Enggak ada bolos, pokoknya besok lo harus kerja terus ke ruangan gue! Give me your service for my little bro." "Pokoknya besok gu—" ucapan Maura terhenti saat ia mendengar suara jeritan dari balik speakernya. "Awwww ...! Anjing lo, kenapa peler gue malah lo gigit, bego! Gimana kalo nanti dia enggak bisa produksi s****a lagi?!" Ervin mendorong kepala wanita yang berada di hadapan selangkangannya. "Gantian sama lo!" Maura langsung berlari ke wastafel tanpa mematikan sambungan teleponnya terlebih dahulu. Ucapan Ervin barusan berhasil membuat Maura mengeluarkan semua isi cairan perutnya. Tanpa sadar, ternyata Ervin mendengar suara muntahan Maura. "Wooii ... jalang, lo hamil? Muntah lo dahsyat," pekik Ervin sambil terkikik geli. Dengan sebal, Maura langsung mematikan teleponnya dan berjalan menuju kasur. Ia merebahkan tubuhnya di atas kasur, lalu menarik selimut hingga d**a. Baru saja hendak memejamkan mata, tiba-tiba terdengar suara bell apartemennya berbunyi berkali-kali. Maura mengacak rambutnya kasar lalu menyingkap selimut tebalnya dan berjalan menuju pintu utama. Saat ia membuka knop pintu, ternyata muncul satu sosok boneka beruang bewarna cokelat dengan dimensi yang sangat besar. Boneka beruang itu memiliki tinggi hampir sama dengannya, ini benar-benar boneka terbesar dan tercantik yang pernah Maura lihat. Tiba-tiba saja, ada satu tangan kekar keluar dari balik lengan boneka tersebut—tangan tersebut memegang dua buah ice cream Cornetto. Maura langsung bisa menebak siapa di balik boneka beruang ini. "Two ice cream for my little bee ...," ucap pria itu dengan nada suara yang sangat Maura hapal. "Thanks, my bear ... I love you so so so muccchh ...." Maura langsung menyingkirkan boneka tersebut dan memeluk sang empunya dengan sangat erat. Setelahnya, Maura mengalungkan lengannya pada leher Asraf, lalu mengecup bibir mungil itu. "I love you too ...." Maura sekali lagi mengecup benda mungil tersebut. "Makasih banget, Yang ...." Asraf mengangguk dengan seulas senyuman. "Mau makan ice cream bareng aku? Di atas rooftop?" * Pagi ini, seorang wanita berumur duapuluh lima tahun masih tertidur lelap di atas kasur king size miliknya. Ia terus mendengkur meskipun waktu sudah menunjukan pukul sembilan pagi. Ternyata Maura tidak main-main akan pernyataannnya, kalau ia tidak akan datang bekerja pagi ini. Cup ... Satu kecupan berhasil membuat Maura terbangun dari tidurnya. Ia mengerjapkan matanya beberapa kali hingga akhirnya ia tersadar kalau yang mengecup dahinya itu adalah Asraf. Pria itu terlihat segar, seperti baru saja selesai mandi—tampak dari rambutnya yang masih basah. Tadi malam, mereka terlalu lama berbincang hingga waktu menunjukan pukul duabelas malam. Karena takut Asraf akan kenapa-kenapa jika dipaksakan pulang di waktu tengah malam seperti itu, maka Maura memutuskan untuk menyuruh Asraf menginap di apartemennya. Tetapi ingat, mereka tidak tidur seranjang, melainkan Asraf tidur di sofa sedangkan Maura di kasur—mengingat slogan hidup Maura selama ini, 'No s*x before married'. "Selamat pagi puteri kerajaan ...," sapa Asraf seraya menggeret Maura dari kasur, namun wanita itu masih tidak bergeming. Saking kesal dengan tingkah Maura yang terus mencoba untuk tidur, Asraf memutuskan langsung menggendong Maura menuju kamar mandi lalu meletakkan wanita itu ke dalam bathup yang sudah berisikan air hangat. Spontan, Maura langsung berteriak histeris saat mendapatkan dirinya sudah basah kuyup. Ia langsung menyiram Asraf hingga pakaian pria itu basah. Mau tidak mau, Asraf langsung keluar dari kamar mandi lalu berjalan menuju walk in closet untuk mengganti pakaiannya yang basah. Beberapa pasang pakaian milik Asraf sengaja diungsikan ke dalam lemari Maura—mengingat ia dua kali seminggu menginap di apartemen Maura untuk mengawasi wanita itu agar tidak telat makan malam lagi. Setelah selesai mengganti pakaiannya dengan kaos oblong dan celana pendek selutut, Asraf memutuskan untuk memasak macaroni saus keju dan membuatkan Maura jus belimbing asam kesukaannya. * Asraf sudah menanti kehadiran Maura sejak jam duabelas siang tadi—di ruang TV, namun sampai sekarang Maura belum juga selesai berdandan. Asraf sering berpikir atau bertanya pada dirinya sendiri, 'kenapa wanita itu sangat lama dalam urusan berdandan?'. Sudah lebih dari satu jam, Maura masih sibuk melukis alisnya. Sedangkan, acara reuni akan dilaksanakan setengah jam lagi. Dasar wanita, ngajak perginya ngebet banget tetapi dianya enggak selesai-selesai berdandan. Uh .... Keluh Asraf dalam hati. "Maura buruan, Yang ... entar kita telat, kamu itu lama banget sih dandannya!" teriak Asraf cukup keras lalu mengusap dahinya yang mulai mengeluarkan buliran keringat. "Iya-iya, Sayang ... bentar lagi selesai, kok, ini alisnya kurang dua senti meter lagi," balas Maura tak kalah keras, lalu melanjutkan aksinya. Asraf hanya bisa menghembuskan napas kasar, lalu membuka kaitan dasi yang sedari tadi mencekik lehernya. Jujur, selama ia menjadi seorang Pengusaha—Asraf paling malas memakai dasi, karena alasan yang sama—tercekik. Setelah merasa sedikit lega, Asraf kembali menjatuhkan bokongnya di atas sofa. "Udah, yuk, Yang ... entar telat." Maura menarik lengan Asraf yang baru saja duduk. "Eiiit ... dasi kamu kok berantakan gini, sih?" Maura maju selangkah dan mulai menarik anak dasi hingga ikatan dasi itu terikat sempurna. Meskipun dasi itu sudah kembali seperti semula, namun Asraf masih berdiam diri menatap Maura intens. Pandangannya itu berhasil membuat jantung Maura tidak bekerja dengan baik, semburat merah pun tidak bisa dipungkiri lagi. Asraf mendekatkan wajahnya pada wajah Maura—hingga membuat hembusan napasnya menerpa permukaan kulit wajah Maura. "Mau ngapain? Entar lipstick aku luntur ...." Asraf hanya membalas perkataan itu dengan senyuman licik anadalannya. Maura sudah mengira kalau Asraf akan mencium bibirnya, ternyata pemikiran itu salah—karena Asraf hanya membersihkan sudut bibir Maura yang sedikit comeng akibat lipstick yang berlebihan. Setelahnya, Asraf kembali menegakkan badannya dan menggenggam tangan Maura keluar apartemen. Tingkah Asraf saat ini, seolah-olah ia tidak merasa bersalah atas apa yang sudah ia perbuat kepada Maura. * Di dalam mobil, Maura masih merasa jantungnya tidak bekerja dengan normal sebab Asraf masih terus menggenggam tangannya meskipun ia sedang menyetir. Kejadian tadi rasanya ingin membuat Maura berteriak sekeras mungkin, ia sudah terlanjur terhanyut ke dalam pesona pria itu. "Kamu kenapa sih? Kok aku perhatiin, sedari tadi kamu senyum-senyum enggak jelas, kayak gitu ...," ungkap Asraf saat mobil yang dikendarinya berbelok ke arah kanan. "Enggak kok, perasaan kamu aja, itu ...." Maura menundukan wajah saat pupil matanya bertabrakan dengan retina pria itu. Seketika, bayangan tentang Vani terbesit di pikirannya. Wanita itu, apa kabarnya? Sudah lama Maura tidak berjumpa dengannya, namun bagaimana nanti kalau ia akan bertemu dengan wanita itu. Apa yang harus dilakukannya? Maura sudah salah menerima ajakan Asraf untuk hadir di acara reuni sekolahan. Betewe, Vani ikut nggak ya? Astaga ... gimana kalo dia tau gue pacaran sama Asraf? Batin Maura. "Yang, nanti Vani datang ke acara reuni, nggak?" "Enggak ikut, kemarin aku tanya sama dia, katanya lagi sibuk bantuin suaminya yang lagi buka usaha Toko Elektronik di Singapore," balas Asraf "Bagus deh ...," timpal Maura lega seraya mengendurkan pernapasannya. "Kenapa sih? Emang kalo ada Vani, kenapa? Kamu takut? Atau malu?" tanya Asraf yang kini mulai mengintimidasi Maura. "Anu Yang, malas aja. Aku takut gugup kalo nanti Vani nanya kita pacaran, lagian dia sahabat lamaku dan dia juga mantan pacar kamu, jadi aku takut aja kalau nanti dicap sebagai perebut mantan pacar sahabat sendiri." "Jangan berpikiran negatif dulu, Ra ... kamu itu harus mengubah mindset pikiran seperti itu. Enggak baik, kalo orang Jawa bilangnya, pamali." "Tap—" "Untuk menjadi orang yang mau dihargai ataupun dihormati, kamu itu harus bisa belajar dari kesalahan yang dulu. Masa lalu biarlah berlalu, sekarang kamu cukup pikirkan masa yang akan mendatang. Ngerti?" Asraf mengusap lembut pipi Maura, membuat sang empunya sesaat terpejam. Maura mengangguk lemah, lalu menatap Asraf dengan binar. "Makasih udah menjadi seseorang yang selalu mengingatkan aku kalau melakukan suatu kesalahan." Asraf hanya manggut-manggut dan melanjutkan kelajuan mobilnya. Tidak berapa lama mobil mereka telah sampai di sebuah hotel. Halaman depan hotel dihiasi beberapa papan bunga—pengucapan selamat kepada keberhasilan angkatan 45 SMA Cendana—yang sebagian rata dari mereka sudah menjadi orang sukses. Keadaan basement benar-benar sangat ramai tetapi untungnya saja masih ada beberapa lahan untuk parkir. Maura keluar dari mobil dengan dibantu Asraf membukakan pintu. Lalu mereka berjalan berdampingan menuju lift yang terletak di ujung basement. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN