Jonathan berulang kali mencoba menghubungi Ayu, namun ponsel gadis itu tidak aktif. Semua pelayan juga ikut panik, mencoba menelepon Mbak Sri, tetapi hasilnya sama—ponselnya mati. “Ponsel Mbak Sri dimatikan, Den,” lapor Bi Ijah dengan wajah cemas. Tiba-tiba, dari arah pintu, Raka menerobos masuk ke ruang tamu. Bugh! Sebuah pukulan keras mendarat tanpa ampun di wajah Jonathan. Semua yang ada di sana terperanjat kaget. “Apa yang sudah kau lakukan pada Ayu, sampai-sampai dia harus pergi diam-diam?!” hardik Raka, tangannya langsung mencengkeram kuat kerah kaus Jonathan. “Apa-apaan ini?!” teriak Dewi, bergegas maju dan berusaha menarik Raka menjauh. Jonathan terkekeh sinis, menyeka darah tipis di sudut bibirnya. “Jadi, kau juga tidak tahu dia pergi ke mana? Bukankah kau tunangannya?” Ia

