Kecewa
Tubuhnya gemetar bahkan tatapan matanya di penuhi kesedihan. Bagaimana tidak, suami yang selama ini dia cintai ternyata diam-diam memiliki wanita idaman lain yang membuat dirinya begitu terpukul menghadapi kenyataan yang pahit itu.
Sejenak dia menatap kedua orang yang begitu dia kenal, Rasa tidak percaya bahkan masih menganggap bahwa semua itu mimpi sampai dia mencubit lengannya sendiri ternyata semua itu nyata.
Hancur!!
Begitulah perasaanya saat ini, pernikahan yang dia banggakan harus ternodai oleh penghianatan yang dilakukan oleh suaminya sendiri.
Dengan langkah gontai dia memberanikan diri menghampiri mereka berdua yang tengah berpelukan, tangannya yang bergetar mulai menyentuh bahu pria yang bergelar suaminya itu.
Deg
Pria itu terkejut saat merasakan sebuah tangan menyentuh pundaknya, dia langsung melihat dengan ujung matanya seketika wajahnya berubah pucat bahkan bergegas berdiri begitu pula wanita yang sejak tadi di peluknya langsung tercengang saat melihat siapa yang sudah berdiri di belakang mereka.
"A-alea." Dengan gemetar pria itu langsung menyebut nama wanita yang tidak lain istrinya sendiri.
"Mbak, ini tidak seperti yang kamu pikirkan." Wanita yang berada di samping pria itu segera menghampiri setelah mengatakan itu.
Alea langsung mengangkat tangannya ketika Namira hendak mendekat, pandangan matanya masih fokus menatap Bima yang sudah memasang wajah panik.
"Mbak!"
"Jangan katakan apapun lagi. Aku sudah melihat semuanya," tegas Alea tanpa melihat ke arah Namira sama sekali.
"Sayang. Kamu salah paham," ucap Bima.
Senyum langsung tersungging di ujung bibir tipis milik Alea, bagaimana mungkin dia bisa salah paham. Sedangkan dengan mata kepalanya sendiri melihat mereka berduaan dengan begitu mesranya.
Bahkan sejak memasuki ruangan kerja suaminya dia berusaha tidak percaya dengan yang di lihatnya dan menganggap itu hanya sebuah mimpi. Akan tetapi dia sadar bahwa semua itu nyata.
Namira yang tidak ingin semuanya terbongkar saat ini berusaha memberi penjelasan agar Alea percaya. Namun, Alea bukan wanita bodoh yang bisa mereka berdua bohongi terus menerus.
Kali ini apa yang mereka lakukan sudah melewati batas, hingga membuat Alea yang sejak dulu menjadi wanita penurut bahkan tidak berani membantah Bima kini semua itu dia lupakan setelah melihat kenyataan yang begitu sangat menyakitkan.
"Sejak kapan? Katakan!!!" Alea berteriak kepada keduanya.
"Sayang," ucap Bima dengan suara memelas.
"Mbak. Ini semua salah paham," timpal Namira.
Mendengar hal itu tentu saja membuat Alea muak, dia memalingkan pandangannya kepada wanita yang selama ini sudah dia anggap seperti saudaranya sendiri, Namira segera menundukkan pandanganya bahkan dia tidak berani menatap wajah wanita yang kini berdiri tepat dihapadapannya.
"Aku selama ini. Sudah percaya bahkan begitu menyayangi kamu, tetapi kenapa? Apa salah aku? Kenapa kamu tega Namira?" Alea langsung memberondong begitu banyak pertanyaan kepada Namira.
Namira hanya bisa tertunduk bahkan lidahnya terasa begitu kelu, rasa bersalah kini hinggap dalam hatinya. Andai saja kejadian itu tidak terjadi mungkin dirinya tidak akan pernah mengkhianati Alea, tetapi semua sudah terjadi karena sekarang dirinya mencintai Bima. Tidak lain suami dari Alea.
Bila bergegas menghampiri Alea setelah mendengar hal itu, tentu saja dirinya tidak ingin sampai terjadi pertengkaran di sana, mengingat ini masih jam kerja dan bisa saja karyawan mendengar hal itu.
"Ayo! Kita pulang," ajak Bima seraya menarik lengan Alea.
"Kenapa? Kamu takut jika semua orang tahu tentang kelakuan bosnya dan juga sekertarisnya?" ucap Alea sambil menepis tangan Bima.
"Kamu bicara apa? Semua itu hanya salah paham. Aku dan Namira tidak ada hubungan apapun," tegas Bima yang masih saja berusaha mengelak.
Alea tersenyum getir mendengar perkataan yang baru saja keluar dari mulut suaminya, dia tidak buta sampai tidak melihat apa yang mereka berdua lakukan. Dengan sekuat tenaga dia memundurkan langkahnya menjauh dari keduanya.
"Kebohongan apa lagi yang akan keluar dari mulut kamu? Aku melihat semuanya dengan mata kepalaku sendiri. Dan sekarang kalian berdua mau membela diri? Menyedihkan sekali selama bertahun-tahun aku dibutakan oleh cintaku kepada kamu, Mas. Hingga aku tidak bisa melihat penghiantan yang terjadi dalam rumah tangga kita, tetapi semuanya sudah cukup! Dan kamu. Kenapa tega sekali mengkhianati aku?" ucap Alea panjang lebar sambil menatap keduanya secara bergantian.
Namira memberanikan diri mengangkat kepalanya setelah mendengar ucapan Alea, tentu sejak tadi dia sudah berusaha menahan rasa amarah dalam dirinya. Apalagi untuk kesekian kalinya Alea merendahkannya dihadapan Bima. Sedangkan Bima di buat bungkam dengan ucapan Alea.
"Sudah cukup! Sejak tadi Mbak sudah bicara omong kosong." Namira akhirnya berani berkata dengan menaikan nada bicaranya.
"Oh ... Ternyata ini wajah kamu yang sebenarnya?" tanya Alea sambil menahan air mata.
"Kalau iya, kenapa?" jawab Namira lantang.
Bima tercengang karena tidak menyangka bahwa Namira bisa berkata seperti itu kepada Alea, bagaimana pun. Dalam hatinya Alea tetap wanita yang dicintainya meski dia menjalani hubungan dengan Namira.
"Namira! Jaga bicaramu," bentak Bima.
"Kenapa Mas? Biarkan saja. Aku ingin mendengar kebenaran dari kekasihmu ini," ucap Alea sambil menatap ke arah Bima.
"Sayang, jangan dengarkan dia," pinta Bima.
Namira yang melihat itu tentu saja tidak terima terlebih lagi dirinya merasa cemburu ketika dengan jelas Bima justru ingin lari dari masalah ini.
"Aku dan suamimu telah tidur bersama," ucap Namira.
Bima dan Alea menatap ke arah wanita itu secara bersamaan, hatinya begitu hancur setelah mendengar kata-kata yang keluar dari mulut Namira. Berbanding terbalik dengan Bima yang begitu marah karena Namira mengatakan hal yang seharusnya menjadi rahasia mereka berdua.
"Jadi sudah sejauh itu hubungan kalian berdua?"
"Jangan dengarkan bualannya, semua itu fitnah," pinta Bima.
"Kamu jangan mengelak Mas, kita sudah melakukannya bahkan ketika berada di rumahmu," tegas Namira dengan bangga.
Alea sudah tidak kuat lagi mendengarkan semua itu, dia bergegas berlari keluar dengan berurai air mata. Bima yang hendak menyusulnya langsung di tahan oleh Namira yang mengaku bahwa kini tengah mengandung.
"Kamu gila? Mana mungkin itu bisa terjadi," ucap Bima dengan tatapan tidak percaya.
"Aku mengatakan yang sebenarnya, aku kini sedang mengandung anak kita. Mas."
Bima begitu frustasi mendapatkan kenyataan seperti ini, di sisi lain dia begitu mencintai Alea dan tidak ingin kehilangannya sedangkan di sisi lainnya saat ini Namira tengah mengandung anaknya. Sungguh hidupnya sekarang hancur karena nafsu sesaat
***
Sepanjang jalan Alea terus terisak saat mengingat kembali kejadian itu, bahkan dia tidak pernah menyangka keduanya telah melakukan hubungan sampai sejauh itu. Wanita malang itu sama sekali tidak peduli dengan mata yang terus menatap kearahnya selama berjalan.
Dia tidak pernah menyangka bahwa cinta yang selama ini dirinya jaga harus ternodai dengan penghianatan antara suami serta sahabatnya sendiri