BAB 10 - Penolakan Alea

1137 Kata
Penolakan Alea masih berbekas dalam hati Luke. Entah mengapa dia merasa menjadi seorang yang paling tersakiti saat ini. Padahal sebenarnya Alea lah yang tersakiti awalnya. Luke berjalan ke arah kamar di mana ia dan Alea biasanya menghabiskan malam berdua. Ia berharap kali ini istrinya ada di kamar dan mereka bisa menghabiskan malam bersama. Saat pria itu membuka pintu kamar, ia tak mendapati sang istri di dalamnya. Kamar yang dulunya hangat, semakin lama terasa semakin dingin karena tak ada pasangan yang saling mengisi dan melengkapi. "Apa kau tak tahu, Al? Sikapmu yang dingin seperti ini yang membuatku mencari kehangatan dari wanita lain?" Luke berjalan gontai ke arah ranjang berukuran besar di kamar itu. Ia mengusap sprei berwarna hijau tosca yang masih tertata rapi. Pria itu mengingat betapa besar keinginan Alea saat menginginkan sprei itu yang merupakan warna favorit Alea. "Mau sampai kapan kau akan mendiamkan aku, Al?" gumam Luke. Luke menangis sambil meremas kain yang menutupi ranjang itu. Apa yang ia lakukan selama ini ternyata bukan membuat Alea semakin cemburu dan mendekat padanya. Alea justru semakin dingin dan menjauh darinya. "Apa benar kau tak pernah mencintaiku, Al?" isak Luke yang menumpahkan segala keluh kesahnya di dalam kamar itu sendirian. Luke yakin kalau Alea mendengar suaranya dari kamar anak mereka yang bersebelahan. Kesalahan fatal dirinya di masa lalu, dan masih berlanjut hingga saat ini memang menyakiti Alea. Tapi bukankah tak adil kalau hanya Alea yang berhak menghukum dirinya? Apa dia masih harus mendapatkan perlakuan seperti itu dari Alea? "Aku mencintaimu, Al. Meski dengan cara yang salah. Maafkan aku," imbuh pria itu lagi. Karena merasa lelah dengan pekerjaan dan kehidupannya, perlahan kedua mata Luke terpejam. Tak membutuhkan waktu lama dirinya sudah memasuki alam mimpi. *** Pria itu terbangun saat jam menunjukkan pukul tiga pagi. Dia meraba sisi lain tempat tidurnya, kosong. Tempat tidurnya tak lagi hangat. Seperti halnya hubungan Luke dengan Alea, dingin. Sesuatu yang tak kasat mata terasa menghantam dadanya. Membuatnya kembali sadar kalau sang istri sudah berubah. Seperti orang asing akibat perlakuannya sendiri. Luke tak pernah memukul atau berbuat kasar kepada Alea. Bahkan meski ia sedang dalam keadaan marah, Luke masih memperlakukan wanita itu dengan sangat baik dan lembut. Namun, karena sebuah kesalahan membuat semuanya berubah. Rumah tangga mereka yang harmonis kini berubah tragis. Karena kesalahannya, Luke terpaksa harus bertanggung jawab pada Adara. Karena sebuah kebohongan kecil, membuat sebuah kecelakaan yang tak disengaja oleh pria itu terjadi begitu saja. Dan yang paling parah, Luke bersikap seolah tak pernah terjadi apa-apa. Pria itu menyembunyikannya dengan sangat baik hingga akhirnya Alea melihat dengan kedua matanya kala pria yang selalu Alea sebut sebagai suami, berjalan dengan mesra bersama seorang wanita. Luke mendengar suara langkah kaki dari dalam rumahnya. Sebuah langkah kaki ringan yang berjalan melewati kamarnya. "Itu Alea!" gumam Luke. Gegas pria itu bangkit dari tempat tidurnya, berjalan menuju pintu dan membukanya. Benar saja, Alea tampak berjalan menuju dapur dengan langkah ringan berharap Luke tak mendengar dirinya keluar dari kamar anak mereka. "Al," panggil Luke saat ia berada di jarak sekitar sepuluh langkah dari istrinya. "Jangan mendekat!" Alea meminta Luke berhenti melangkah mendekatinya. Wanita itu kemudian berbalik, saling berhadapan dengan sang suami yang menatapnya dengan tatapan memelas. "Tak perlu kamu memasang wajah menyedihkan seperti itu. Aku tak ingin lagi sekamar denganmu," ujar Alea tegas. "Kamu sudah berani membawa wanita itu ke sini. Itu artinya kau sudah tak menganggapku sebagai istrimu lagi. Jadi untuk apa?" "Al, bukan seperti itu. Dia yang datang ke sini sendiri. Bukan aku yang membawanya ke sini. Aku-" "Apa kau bisa membuktikan bahwa kau tak membawanya ke sini dengan sengaja?" potong Alea. "Sudahlah. Aku tak ingin berdebat denganmu lagi. Ini masih terlalu pagi untukku membuang-buang tenaga dan waktu untuk meladeni mu," ujar Alea membuang muka. Alea yang sedari awal pergi ke dapur ingin mengisi teko air minumnya, melangkah menuju dispenser air seperti tujuannya yang utama. Dia mengisi teko airnya hingga penuh lalu kemudian berjalan kembali menuju kamarnya. "Minggir!" ujar Alea dingin. "Al, tolong dengar penjelasan ku dulu," pinta Luke. "Aku bilang minggir! Kamu manusia apa bukan, sih?!" "Maksudmu?" Luke mulai terpancing emosinya. "Aku berbicara menggunakan bahasa manusia. Apa kau tak tahu arti minggir?!" Luke akhirnya mengalah. Pria itu kemudian memberi jalan untuk Alea kembali ke kamar putri mereka. Alea sudah benar-benar berubah. Sebelumnya dia tak pernah seperti itu. Sebelumnya istrinya itu selalu diam dan tak pernah berkata dengan suara meninggi padanya. "Apa karena pria itu dia berani melawanku?" pikir Luke. "Kamu telah berubah, Al," ujar Luke menatap punggung istrinya yang semakin menjauh meninggalkan dirinya terpaku di dekat dapur rumah itu. *** Matahari pagi sudah mulai tampak. Sinarnya menghangatkan bumi yang semalam terasa sangat dingin. Terlebih untuk Luke yang 'kehilangan' sosok istrinya. Setelah perdebatan singkat dini hari tadi, Luke tak bisa memejamkan matanya lagi. Pria itu akhirnya memilih keluar dari rumahnya untuk lari pagi. Terlalu pagi memang. Daripada ia tak melakukan apa-apa dan kesusahan memejamkan kembali kedua matanya, Dia memilih keluar dari rumahnya di awal pagi. Saat kembali, pria itu masih tak mendapati sang istri keluar dari kamar anak mereka. Luke akhirnya memilih untuk membersihkan diri lalu kembali menuju dapur untuk memasakkan sarapan bagi sang istri. "Semoga kali ini Alea mau menghabiskan sarapan buatan ku ini," gumam Luke yang masih memasak dengan hati riang. Tepat saat Luke selesai memasak, Alea mendekat ke arah dapur. "Al, aku udah buat sa-" "Aku sedang tak ingin sarapan." Alea berjalan tanpa menoleh ke arah Luke. "Tapi-" "Kau bisa sarapan dengan wanita itu," kalau kau mau, ujar Alea melanjutkan perkataannya dalam hati. "Al, ini masih terlalu pagi untuk memulai keributan," ujar Luke dengan suara yang tak lagi bersahabat. Alea menoleh dan menghadap suaminya itu. Dia menatap Luke dengan tatapan dingin. "Memangnya siapa yang ingin ribut dengan mu pagi-pagi?" "Makanlah." Luke memberikan sepiring nasi goreng tepat di hadapan Alea beserta sendoknya. Alea tak kunjung menerima makanan yang telah dibuatkan oleh Luke. Wanita itu membuang wajahnya dan tersenyum miring. Tak biasa! Luke menatap wajah wanita di hadapannya. Ia merasa bahwa istrinya benar-benar berubah dan bukan seperti Alea sebelumnya. Luke tak lagi menemukan sosok Alea yang penurut, hangat dan penuh kasih. "Apa dengan cara ini kau mencintaiku?" tanya Alea tersenyum kecut. "Memangnya apa yang salah?" pikir Luke. Pria itu tak mengerti dengan apa yang dimaksud Alea. Dia tak tahu apa yang salah. "Apa kau memperlakukan wanita itu dengan cara yang sama? Memasakkan sarapan lalu memberikan makanannya dengan cara seperti ini?" Alea tersenyum miring. "Aku rasa kau tak memperlakukannya seperti ini. Jauh lebih istimewa, bukan?" "Al-" Luke ingin mengelak. "Apa kau benar-benar masih mencintaiku, Luke?" Alea maju mendekat ke arah Luke. "Coba tanyakan pada dirimu ... di sini," ujar Alea sembari menunjuk ke bagian kiri tubuh pria itu. "Berikanlah sarapan itu ke wanita itu, aku tak butuh!" "Alea!" bentak Luke. Tanpa sadar, pria itu melayangkan tangannya ke arah Alea. Alea menoleh. Sembari memegangi pipinya yang memerah, wanita itu tersenyum misterius. Lalu pergi meninggalkan Luke tanpa sepatah kata pun.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN