45. Pungguk Gagah dan Bulan Manis

1579 Kata

"Sakit nggak?" Naya menarik sudut bibirnya. Manis ... sekali. Mendengar pertanyaan suami yang sejak tadi menungguinya. Melalui proses, demi proses. Pembukaan, demi pembukaan. Mimik Laksa tampak tenang. Padahal, debar jantung menggila sejak tadi. Sejak Naya mengernyit, menahan nyeri. Perempuan itu, ternyata sama sekali bukan tipe pasien yang meronta-ronta jika kesakitan. Di sisi lain, Naya sengaja melakukannya. Agar tak ada satupun keluarga, yang kini berkumpul di depan ruang bersalin, makin panik. Terutama, sang suami yang ada di samping. Jangan sampai Laksa jantungan lagi, layaknya dulu. Jangan sampai Laksa hilang kendali dan makin kalut, lantaran tak bisa melakukan apa-apa untuk belahan hatinya. Naya tak masalah. Do'a dan restu suamilah, yang ia harap paling besar dalam perjuangan i

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN