3 manusia banyak akal, mengendap-endap sembari menenteng sandal rumah, turun dari tangga. Tanpa suara. Setelah memastikan Nenek setuju, Uma memaksa Pak Dede dan Ehan agar bersedia mengantar Atiya. Sesampainya di bawah, mereka harus melewati satu lagi ruangan paling horor. Ruang baca Ibrahim. Uma celingukan ke kanan kiri. Memastikan tak ada sosok Ibrahim mengintainya. Setelah melewati ruangan horor terakhir, mereka akan segera lari cepat, menuju luar gerbang. Agar kamera CCTV halaman hanya menangkap sepersekian detik aksi mereka. Lantas, menemui Pak Dede yang telah menyiapkan mobil di jalan depan. "Aman. Let's go!" ajak Uma memimpin jalannya misi. Tak berselang lama, ponsel di kantong si anak paling bau kencur, bergetar. Mau tak mau, ia mengangkatnya sembari terus mengendap-endap di ur

