62. TAMU DI KYOTO

1657 Kata

"M-mas Gi-gibran ... !" tepuk Uma pada mulutnya sendiri. Kenapa pula ia jadi seperti Atiya ketika di depan Ibrahim? "Kapan sampe?" Uma sok akrab menyapa si calon suami yang tertunda, ketika makanan pesanan hotel belum juga terhidang di depan meja yang mereka lingkari. Hanya ada teh hangat di depan masing-masing. Keduanya duduk hampir berhadapan. Dibatasi oleh Om Kris dan Nenek. Uma tahu Gibran mendarat tadi Subuh, pagi langsung menyusul ke hotel, dan kini telah berada satu meja makan bulat bersama keluarga Gunung Jati, termasuk tiga tour guide dadakan mereka, di restoran hotel. Namun, ia juga tak punya topik menarik untuk dibahas di kecanggungan ini, selain menyapa sok akrab. Andai Uma punya lintasan lubang waktu, ia akan pergi dan masuk ke waktu dimana pelayan restoran datang dan men

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN