63. DUA ES KUTUB MENCAIR

1803 Kata

"Kenapa nangis?" Si pria berambut spiky, yang mendadak berwarna merah menyala hari ini, menghampirinya. Uma sedang duduk di kursi taman, selagi yang lain masih saling mengantri foto berpakaian khas kimono. Termasuk, berdandan layaknya seorang gadis Jepang dan pemuda samurai. "Nggak ikut foto?" "Kan udah kemarin di Tokyo. Waktu bareng Naomi." Si kepala berambut merah mengangguk-angguk. Gara-gara mengecat rambut itu, mereka sampai terlambat 3 jam dari jadwal yang telah disepakati. Sebenarnya sih, lantaran turun salju lebat. Daripada kedinginan di luar, Ibrahim memutuskan agar mereka tinggal di hotel dulu, hingga hari menjelang siang. Lebih hangat, jika ada matahari. Usai salju berhenti turun, matahari mulai mengintip—meski sama sekali tidak memberi kehangatan— mereka kembali berkumpul d

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN