64. DIA, SI KATULISTIWA

1260 Kata

"Uma, ayo!" Atiya mendorong punggung mempelai perempuan—sahabat terbaiknya—, yang telah siap memakai gaun salem berbahan tebal, agar dalam satu lapis gaun perempuan itu tidak kedinginan. Di tangan Uma juga telah tergenggam satu ikat bunga baby breath dengan setangkai tulip putih. Sejujurnya, telapak tangan Uma berkeringat dingin, Sahabat. Jantungnya tak berhenti bertalu, sejak semalam. Pun ia juga tidak bisa tidur hingga pagi, usai mendengar Ibrahim memberi kabar mengejutkan itu. Gibran akan menikahinya besok siang, di ballroom hotel di bawah. Uma harus segera membuat kesepakatan dengan sang calon suami dalam hitungan jam. Beruntung, siang cerah di Kyoto, sang make-up artist sukses menutup mata panda Uma, dengan begitu ciamik. "Aku gimana dong, Ya?" Atiya berhenti mendorong. Berubah i

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN