"Udah, Li. Kita nggak akan bikin toko buah, kan?" Eliana menoleh ke arah Laisa dan menatapnya dengan sorot tak terbaca. Membuat sahabatnya itu memilih bungkam dengan seketika. "Muka lo pucat dan lo butuh makan-makanan bernutrisi," balas Eliana. "Muka gue pucat bukan karena kurang vitamin, Eliana." Laisa lekas membantah pertanyaan sahabatnya. Eliana menggeleng tegas. "Nggak. Gue nggak mau pas bokap lo dateng dan shock ngeliat anaknya yang hampir menyerupai zombie," tandasnya. "Astaga, Eliana. Gue bukan orang yang kena gizi buruk dalam semalam." Laisa nyaris memekik kalau saja tidak menyadari di mana ia berada. "Well, nggak ada salahnya, kan, gue beli buah-buahan sebanyak ini?" tanya Eliana seraya menatap Laksa dengan sorotnya yang tegas. Laisa mendesah. "Gimana lo aja, deh," serahnya

