Nanta mendorong pintu kayu yang lapuk itu. Lantas mengayunkan sepasang kakinya masuk ke rumah yang terasa sunyi. Disusul dengan saudara-saudaranya yang lain. Mendadak rasa dingin mengerubungi seluruh atmosfernya hingga ke sudut ruang. Entah apa yang mengantarkan sepasang kaki Nanta menuju satu kamar yang terletak tepat di samping kamarnya. Tangannya menyibakkan gorden tipis yang kemudian memperlihatkan seluruh ruangan senyap yang seakan turut kehilangan penghuninya. "Besok kita pindah," ucap Bapak seraya mendudukkan tubuhnya pada bangku panjang. Dan suaranya sukses membuat Nanta menoleh ke arah pria paruh baya itu yang tengah duduk tepat di tempat Ibu duduk sehari yang lalu. Ketika Ibu masih sempat membuat kue yang kemudian untuk diberikan pada Bude Ria dalam acara keluarga. "Terus ruma

