Sementara malam kian larut meski tampaknya orang-orang yang memenuhi seisi gedung putih masih asyik hilir mudik berusaha menangkap berbagai macam momen. Dan ia lekas menepi dari ramai yang cukup menghimpit tatkala rasa keram kembali merambat ke sekujur kaki kanannya. “Saya ke belakang dulu,” pamit Nanta pada Hans yang hanya menganggukkan kepala. Sedang perhatian Hans tertuju penuh pada sosok yang seolah tengah menjadi tokoh utama yang dipenuhi lampu blitz yang tak kunjung berhenti mengilat mengenai raut yang sibuk menunjukkan kosolidasinya. Dengan tertatih-tatih Nanta melangkahkan sepasang kakinya memasuki halaman remang dengan hamparan salju yang rupanya sudah mulai reda. Dan bunyi kersik dari langkahnya terdengar turut menghantarkannya pada sebuah bangku kayu panjang yang tampak membek

