Dan secangkir kopi yang tak pernah ia kehendaki mengenal manis nan legit agaknya akan selalu senang menyaksikan perbincangan perihal hangat yang membalut obrolan antaranya dengan sosok perempuan penikmat sebatang kretek dengan aroma cengkih yang memikat. Lantas suara tawa terderai pelan dari sepasang bibir yang baru saja selesai mencecap kopinya yang lekas tertelan ramai obrolan yang tak luput pula dari beragam canda ria. Sementara sepasang manik legamnya tak lepas dari tatapan kedua mata secerah safir yang sesekali terhalang asap kretek yang bergulung-gulung seolah menjelma penari yang menghibur sang raja. “Saya nggak pernah suka kapucino apalagi caffe latte,” ucap Nanta. “Kenapa?” “Terlalu legit hingga melupakan filosofi yang sesungguhnya. Memang, saya nggak banyak tau perihal kopi da

