Harum melati bercampur tanah yang basah terguyur hujan deras menyeruak ke dalam indera penciumannya. Dengan berat ia mengangkat kepala dari gunduk pusara yang mulai merata. Basah, merah, dingin. Rupanya udara pagi tak pernah mau bersahabat dengannya yang telah penuh sembilu. Ia menengadah menatap bentang cahaya yang mulai naik dari ujung langit dengan semburat semerah buah delima. Ah, mengapa senja yang semestinya hangat datang di pagi yang tidak ramah? Apakah ini permulaan dari terhentinya perputaran bumi? Ia mendudukan tubuh pada tepi pusara lalu dengan sepasang manik hitamnya mengedar pada batu nisan yang masih berusaha mempertahankan nama penghuni yang terpendam di perut bumi. Sementara ia yakin, bahwa bumi pun senantiasa mengasihi Ibu di bawah sana. Lantas menghela sejenak. Ia meras

