Bunyi derit pintu terdengar mengisi keheningan yang tersebar di dalam rumah. Tampak dari ambang pintu tempatnya berdiri di ujung tangga Andi tengah membersihkan susunan bingkai foto yang tergantung pada dinding tangga mengikuti liuknya anak tangga. Ia melangkah menghampiri Andi yang masih sibuk dengan aktivitasnya hingga tidak menyadari kedatangannya. Langkahnya sampai di dekat ujung tangga tepat belakang punggung Andi. “Mas,” panggilnya membuat punggung Andi yang tegak itu berbalik. “Loh, sudah pulang?” tanya Andi. “Ya.” Nanta mengangguk. “Di mana Mas Handara?” tanyanya kemudian. “Ada di belakang. Temani sana,” jawab Andi yang lantas memerintah adiknya. Nanta mengangguk lagi. Langkahnya kembali terayun melewati ruang tengah yang kemudian berakhir pada hamparan sebuah taman hijau. Ia

