Suara kerikil yang tergilas oleh dua roda yang tengah melintasinya mendominasi suasana sore sunyi di sepanjang pinggir rel kereta. Nanta terus melaju hingga Maira menepuk bahunya untuk menghentikannya tepat saat sebuah bangunan kayu kokoh yang dicat pernis terlihat jelas. Tampak halaman depannya memiliki area parkir yang cukup memadai, dihiasi pepohonan rindang yang ternyata memiliki peran penting untuk meneduhkan teriknya matahari. "Sudah sampai, Mas," ucap Maira lantas turun dari tunggangannya. "Ini tempatnya," jelasnya kemudian seraya melepaskan tali pengait pada helm. Lalu memberikan helm yang ia kenakan pada Nanta yang siap menerimanya dan menaruh helm itu di atas tangki motor. Maira menatap arloji mungilnya. "Mungkin anak-anak udah pulang, karena biasanya kelas mereka belajar cuma

