Rasa resah yang sejak tadi ia tahan kuat-kuat seakan ingin membeludak hebat. Namun Nanta tidak menghendaki hujan di pelupuknya untuk turun, meski di dalam ruang ICU Ibu tengah tidak sadarkan diri dengan sakit yang sama sekali belum pernah ia ketahui. Karena ia tahu, Ibu tidak akan pernah menyetujui hujan kesedihan yang jatuh dari pelupuknya. "Ibu sakit apa sih, Mas?" tanya Nanta lirih tanpa menoleh ke arah Handara dan tatapannya tidak benar-benar tertuju pada lantai putih di depannya. Sementara isi dadanya seakan berubah seperti kehilangan penghuninya. Ia mendesah pelan. "Mas juga nggak tau," jawab Handara pelan lalu tatapannya menoleh ke arah Andi yang sejak tadi tertunduk. "Ibu ada cerita sama kamu, Ndi? Kamu kan yang paling sering ketemu Ibu," tanyanya kemudian. Andi pun menggeleng.

