Nanta mengangguk. “Tapi ingat, rumah itu nggak akan Mas beri cuma-cuma,” ujar Handara lagi dengan intonasi yang terdengar cukup tegas. “Dan tentunya ada syarat yang harus kamu penuhi semaksimal mungkin,” tambahnya sebelum kembali menyendokkan potongan ikan serani dan memasukkannya ke dalam mulut. “Tapi, Mas. Aku mau cari rumah sendiri dulu, karena barangkali rumah itu akan Mas singgahi dalam waktu dekat. Aku nggak mau Tiffany menumpang—.” “Menumpang,” potong Handara mengulang satu kata yang Nanta lontarkan. “Dan jadi, nama perempuan itu Tiffany?” lanjut Handara dengan satu pertanyaan tegasnya. Nanta berusaha menelan salivanya yang tiba-tiba mengering. Padahal baru beberapa menit yang lalu ia meneguk segelas air putih hangatnya. Ah, mungkin karena rasa hangat itu pula yang kemudian bere

