KTA’S 94 - Last Child

2249 Kata

Sejak awal menginjakkan pelataran kota ini yang tak mengenal secuil pun kabut, ia selalu menduga dan menyebutnya adalah tempat yang tak pernah tidur. Mungkin juga tak pernah mengenal lelap yang selalu lenyap oleh gemerlap jajaran lampu di sepanjang jalan kota. Ia duduk pada kursi kecil yang menghadap langsung pada bangunan tua yang masih bertahan untuk tetap berdiri kokoh di tengah pembangunan gedung-gedung megah lainnya. Membuatnya tampak seperti orang tua dengan punggung yang kian membukuk di hadapan cucu-cucunya yang bugar. “Mau makan apa, Mas?” tanya Nanta mendongakkan wajahnya menatap Handara yang sedang berdiri seraya berkacak pinggang. Netranya terlihat asyik mengedar ke berbagai arah. Nanta kembali merunduk seraya memijit-mijit kedua pangkal lututnya. “Kenang opo?” tanya Handara

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN