Ayunan langkah kakinya berhenti tepat di balik celah tembok bangunan tua dari sebuah toko. Ia merunduk berusaha mengatur napasnya yang tersengal tidak beraturan. Sebelum kembali mengangkat wajahnya dan melihat sosok siapa yang berhasil membawanya menjauh dari kepungan pekatnya gas air mata yang mengudara. "Makasih, Bang," ucap Nanta saat setelah memastikan sosok siapa yang kini ada di depannya dan tengah ikut mengatur napasnya yang tersengal. Hans lantas mengangguk dan menjatuhkan tubuhnya bersandar pada tembok dengan napasnya yang masih belum beraturan. Disusul Nanta yang juga menjatuhkan tubuhnya tepat di hadapan Hans dengan menyandarkan punggungnya pada tembok di belakangnya. Sesuatu terjatuh tepat di telapak tangan Nanta yang dibiarkan terlentang lemas di antara kedua lututnya. Nant

