Sepasang kakinya berhenti tepat di sisi brankar dan kepala itu bergerak pelan menoleh ke arahnya. Bersamaan dengan sepasang bola mata yang menyorot sayu. Namun kedua ujung bibirnya tampak enggan absen untuk membentuk senyuman, meski tipis dan terpatri jelas tengah menahan perih yang mendera sekujur tubuhnya. “Hai, Nan,” sapa Teddy seraya membalas lengkung tipis yang terpatri di sepasang ujur bibir Nanta. Lantas menarik satu kursi tak jauh dari tempatnya berdiri dan duduk tepat di dekat sahabatnya itu. Teddy membungkam sepasang bibirnya untuk tak terlalu bertanya mengenai keadaan Nanta yang sudah amat jelas terpancar ke dalam sepasang manik legamnya. “Jangan terlalu banyak gerak dulu. Lo baru selesai operasi,” peringat Teddy pelan tatkala Nanta beringsut dari posisinya untuk menaikkan pun

