Ia berdiri seraya menghadap pada sebuah cermin besar dan membiarkan tubuhnya tak terbalut sehelai kain pun. Jarinya bergerak berderap meraba permukaan bekas luka jahit yang timbul di sepanjang d**a. Ia mendesah panjang sambil menahan diri untuk tidak lekas mengeluh pada goresan luka yang bertambah di dadanya yang sudah terlanjur hancur. Lantas mendudukkan pantatnya pada tepi ranjang yang siap mengusapnya dengan manja, usai nyaris lima belas hari lamanya ia terbaring tak berdaya dengan sisa tenaga yang masih berusaha mempertahankan nyawa. Dan ia merebah. "Ananta," panggil Andrew sambil mendekatkan minuman yang dipegangnya di depan wajah Nanta. Pemuda itu masih diam dengan sorot netra menatap langit-langit ruang. "Hei," tegur Andrew kemudian dan sukses membuat Nanta mengalihkan tatapannya

