Nanta memejamkan matanya yang berat lantas menghirup aroma tubuh Handara dalam-dalam. Ia pun rindu pada masa silam dulu. Di mana Ibu masih suka merajut hingga fajar tampak menyingsing hanya untuk membuatkan mantel wol bagi si kecil Doni, atau Bapak yang setidaknya masih mengenali jalan pulang ke rumah dan ikut duduk melingkar ketika makan malam meski tak berkata apa-apa dan hanya ada sendok serta garpu yang saling beradu seolah mengganti dialog yang memilih hening. Ia melonggarkan pelukan dan menatap Handara yang masih termangu bersama tatapan kosong. “Mas,” panggil Nanta yang tak mendapatkan balasan apa pun dari sang kakak. Ia menarik napas pelan. “Aku pamit untuk dua atau tiga minggu ke depan untuk mengikuti acara konverensi pers di Rusia seperti yang Mas Handara minta,” lanjutnya kem

