Dan bandara akan selalu sama. Akan selalu menjadi tempat berjumpa sekaligus melepas dalam satu waktu yang sama. Akan selalu menjadi penghubung rindu juga pemberi jarak yang tak jarang menyisakan isak pilu. Dan akan selalu begitu. Lavanya menyodorkan satu cup kopi pada Nanta yang sedari tadi diam. Diam-diam ia memperhatikan air muka laki-laki itu yang tampak agak berbeda. Nanta mendesah seraya menegakkan tubuh. "Apa?" tanyanya saat menangkap sepasang mata Lavanya yang tertuju ke arahnya. Lavanya menggelengkan kepala lalu tersenyum. Rasanya bunyi berubah senyap dan lalu lalang manusia beranjak lenyap. Entah dan tanpa mampu Nanta mengerti, ada gelenyar rasa yang seakan menyayangkan suatu kepergian. Tapi bukankah ia tidak mencintai gadis di depannya ini? "Mau dengar satu cerita?" tanya La

