"Nan," panggil Laisa setelah sejak tadi memilih diam. "Gimana sama tawaran Pak Samir yang beliau kasih ke kamu?" tanyanya seolah telah melupakan isi obrolan tadi.
"Menurut kamu?"
Tatapan Laisa turun ke arah tangan Nanta dan meraihnya. Lantas menggenggamnya dengan hangat. "Menurut aku, selama ada kesempatan bagus buat kamu, terima aja tawaran itu. Lagipula aku yakin kamu bisa berkompetisi, kok." Ia menaruh tangan Nanta di perutnya seakan hendak menyalurkan deru napasnya.
"Tapi semester depan saya mau ambil cuti selama satu tahun."
"Kemarin kamu udah ambil cuti, Nan. Emang nggak cukup ya, kamu ambil cuti satu semester?"
Nanta mendesah pelan.
"Kamu udah banyak ketinggalannya, loh." Laisa mengingatkan. Jemarinya bergerak mengusap lembut punggung tangan Nanta.
"Jadi?"
"Selesaikan apa yang sedang kamu jalani sekarang. Siapa tau dengan cara ini secara nggak langsung bisa mengantarkan kamu ke tujuan yang kamu mau."
"Tujuan saya itu kamu."
Laisa menoleh, sepasang netra di hadapannya tengah menatap penuh keseriusan.
"Kadang saya pengen banget bawa kamu ke tempat jauh. Tapi kayaknya itu nggak mungkin, apalagi logikanya saya pun nggak pernah bisa buat pergi jauh. Meskipun sesederhana bertualang."
Laisa mengerti pada hal yang membuat Nanta tidak mampu pergi sejauh yang lelaki itu mau. Dua detik kemudian napasnya tertahan tatkala jemari Nanta bergerak lembut di atas perutnya. Merabanya turun hingga ke batas perut dan kembali naik menyentuh cacat di dadanya.
"Apa ini alasan kamu ambil cuti lagi?" tanya Laisa di sela napasnya yang tertahan dan nyaris membenamkan suaranya.
Nanta mengangguk kecil. "Tapi mungkin lain kali. Karena ada tuan putri yang harus saya jaga sampai menemukan pengerannya." Ia terkekeh.
"Kayaknya di mata kamu nggak mungkin banget ya, kalo kita bisa bersatu?"
Senyum Nanta terukir tipis.
"Nan." Laisa memanggilnya. Sepasang irisnya yang lembut menyorot dengan segenap hati.
Panggilan itu membuat Nanta menatap gadisnya dengan penuh. Kedua alisnya terangkat seolah berkata, 'ya'.
"I'll following you."
"Kalau kamu ikut saya akan menjadi luka terdalam bagi kedua orang tuamu. Saya nggak mau hal itu terjadi." Segaris senyuman kembali mengembang. Nanta mengusap puncak kepala Laisa. "Nggak apa, biar saya yang mengalah," ucapnya sebelum memejamkan kedua mata. Lantas menarik Laisa ke dalam pelukannya dan merengkuhnya dengan hangat.
"Nan. Kamu udah mau tidur, ya?"
"Iya." Nanta menyahut dengan suaranya yang .
memberat. Padahal hanya kedua matanya yang sudah terbebani oleh rasa kantuk.
"Kayaknya aku nggak bisa tidur bareng kamu. Kasian Rezky di luar."
Nanta mengendurkan pelukannya, lantas dengan singkat ia mengecup tengkuk leher Laisa.
Gadisnya berajak, lalu menarik selimut hingga sebatas d**a lelakinya. "Good night," ucapnya seraya menatap guratan lelah dan pilu yang bercampur aduk dalam satu raut. Lantas berlalu keluar.
Tak lama kemudian Rezky muncul dengan lembaran kertas memenuhi kedua tangannya.
"Nih, anak. Bisa-bisanya bisa tidur padahal tugas numpuk udah kayak gunung sampah di Bekasi," gerutunya.
Eliana terkekeh. "Itulah keuntungan jadi mahasiswa yang nggak ambis kayak kamu," celatuknya kemudian.
Rezky berdecak sebal. Disusul langkah kakinya yang bergerak masuk dan memilih untuk mengalah dari rasa ambisinya. Tubuhnya merebah di samping Nanta yang sudah lebih dulu mengarungi ruang mimpinya.
Ia menatap gurat wajah itu. Ada secercah rasa iri dalam hatinya. "Andai hidup gue juga bisa sesantuy lo, Nan." Rezky mendesah pelan lalu berusaha sekuat mungkin untuk melelapkan kedua matanya.
Namun hal itu mesti gagal, tubuhnya bangkit meraih tas yang ia simpan di atas nakas. Lalu merogoh sebuah botol kecil dan mengeluarkan dua butir kecil dari dalamnya.
"Bukan ini yang harus kamu telan." Tanpa diduganya Nanta meraih botol kecil itu. "Tapi ini yang harus kamu singkirkan ketika kamu mau istirahat," lanjutnya tanpa segan melempar setumpuk lembaran kertas jauh-jauh dari jaraknya.
"Eh, Nan. Jangan ngadi-ngadi lo, ngelempar buku gitu aja! Buku itu ilmu!" Rezky meraung.
"Ilmu macam apa yang didapat dari sebuah keterpaksaan sampai bikin kamu gila?!" balas Nanta dalam sekejap sukses membuat Rezky terbungkam. Ia pun paham terhadap posisi Rezky yang kerap mendapatkan tuntutan lebih dari kedua orang tuanya.
"Akui kalo kamu capek, Ky. Biar kamu tau kapan harus lanjut dan kapan harus istirahat," ucap Nanta kembali mengatur posisi ternyamannya.
Rezky terdiam. Membuat keheningan menyelubungi nadinya. Mungkin juga di luar sana Laisa dan Eliana tengah saling melempar tatapan penuh tanya pada hal yang telah mereka berdua dengar.
"Yeah. I tired, but I got no choice," ujar Rezky mengakui. "Bokap mau gue jadi penerusnya kerja di KPK. Dan cuma itu yang bisa gue lakuin."
"Itu bukan masalah. Yang penting kamu tau kapan harus istirahat. Kita cuma butuh belajar istirahat."
"Oke." Rezky berserah. Ia pun menarik selimut hingga menutupi wajah. Mencoba untuk membenamkan rasa kalut yang seakan menyelimutinya.
Rasa katuk yang bergelayut di kelopak matanya seolah menguap begitu saja. Nanta melirik Rezky. Ia yakin temannya itu masih terjaga dengan kelopak mata terbuka lebar dan ia hanya membiarkan. Sementara dirinya, mesti meraih ponsel tatkala bayangan sosok bapak merambah ke ruang pikirnya. Ia bangkit, menghampiri jendela kamar yang dibasahi oleh air hujan. Menatap bulir-bulir air yang mengalir turun.
Jarinya menekan tombol power, membuat layar ponselnya seketika menyala. Menampakkan sebuah gambar abstrak yang hanya dipahami olehnya. Kedua ibu jarinya lantas mengusap pola kunci layar lalu menekan sebuah ikon berlogo pesan.
Sederet kata yang tak pernah mampu ia kirimkan muncul di sana dan hanya menjadi draft pesan. Seolah senantiasa menunjukan kerinduan yang kian melabu. Nanta merasakan dadanya menderu bersamaan dengan kedua retinanya yang juga belum lepas dari sederet kata itu.
Ia menggulirkan layarnya dan deretan kata lebih dari satu hari muncul di sana, sudah seperti buku harian dengan cerita yang kadaluarsa. Nanta menghela pelan. Malam yang tengah ia pandang seolah menenggelamkannya pada laut selebu yang menuntut adilnya dari rasa rindu.
"Lo sendiri nggak tidur?" tanya Rezky dari balik selimut.
Nanta hanya menolehkan kepalanya tanpa berniat untuk membalas pertanyaan Rezky. Tangannya terulur menarik kursi lantas mendaratkan bokongnya. "Laisa bilang dia mau ikut saya," curahnya kemudian.
"Ya bagus dong!" Rezky membuka selimut yang menyelubungi tubuhnya dan terbelalak.
Seruannya membuat Nanta menempelkan jari telunjuknya ke bibir. Meminta Rezky untuk tidak terlalu heboh mengingat kemampuan Laisa dalam menguping cukuplah mahir.
"Jadi?" Rezky menaikkan kedua alisnya dan Nanta menjawabnya dengan gelengan kepala.
"Kenapa? Itu kan bagus?"
"Saya tau, saya pendosa. Tapi kalau cara dia seperti itu, saya nggak akan pernah setuju."
"Cara dia gimana? Itu semua kan demi lo."
"Nah, itu yang salah, Ky."
"Salah gimana, sih? Nggak paham gue sama cara lo mikir."
Nanta menghela napas singkat. "Mencintai manusia tanpa mencintai Tuhannya adalah hal sia-sia."
Hening. Rezky membungkam.
"Manusia itu sumber petaka, Ky. Sedangkan Tuhan, itu sumber dari bahagia."
"Oke. Terus lo mau nolak itikad baik dia?"
Nanta mengedikkan bahu.
"Mungkin awalnya semua yang dia lakukan karena lo, Nan. Tapi percayalah, gue yakin lambat laun dia akan paham sama semua yang dia lakukan sebaiknya dia tujukan ke siapa."
Kepala Nanta menggeleng.
"Nan, ayolah. Ini kesempatan baik yang Tuhan kasih buat lo."
"Terus gimana sama keluarganya, Ky?"
"Biar itu jadi urusan Tuhan."
"Ada yang lebih rumit dari yang kamu pikirkan, Ky."
"Lo sendiri yang ngebikin rumit, Nan."
Nanta menghela. Agak kesal pada Rezky yang terlalu menggebu.
"Come on, Nan. Gue dukung lo paling depan."
Nanta tetap menggelengkan kepala.
"Kenapa lagi, sih?" Rezky mendesau frustrasi sendiri.
"Biar waktu yang bercerita."
"Buset! Bukannya cerita dan terbuka malah sok-sokan ngasih wejangan."
"Masalahnya saya bingung mau cerita dari mana. Ini terlalu rumit buat saya."
"Cerita dari hal yang paling ingin lo ceritakan ke orang yang paling lo percaya."
"Sayangnya saya nggak percaya sama kamu."
"Sial."
Nanta terkekeh.
"Gue nggak ngantuk. Main PS aja, yuk," ajak Rezky tanpa memikirkan malam yang kian larut.
"Besok—."
"Kelas pagi. Skip aja!" Rezky menyerobot perkataan Nanta lantas berhambur keluar menuju ruang tengah. Namun tubuhnya harus tertahan tepat di ambang pintu.
Ia berbalik menghadap Nanta. "Jangan deh. Kasian Eliana lagi istirahat," ucapnya lalu kembali menuju tempat tidur.
Dan untuk ke sekian kalinya Nanta menggeleng-gelengkan kepala. Tangannya menjulur mengembalikan botol kecil berisi obat tidur milik Rezky.
"Saya mau tidur di ruang tengah. Kamu tidur di sini aja," ujarnya lantas beranjak keluar.
Lampu kamar berubah gelap. Nanta menoleh ke arah kamar gadisnya yang tampak remang oleh cahaya lampu belajar. Langkahnya tetap berlanjut menuju sofa dan segera merebahkan tubuhnya yang lelah.
Hujan yang merintik sedari tadi belum juga reda. Percikannya membuat konfigurasi basah dan dingin yang menyelimuti seluruh kota. Nanta menarik sehelai kain selimut yang menyampir pada sandaran sofa untuk membalut tubuhnya sebelum nyaris kedinginan oleh angin yang berembus damai melalui ventilasi udara.
Namun, kilatan cahaya yang seakan menyentuh ujung gedung di seberang membuatnya kembali terjaga. Tak lama disusul suara gemuruh guntur yang amat menggelenggar, sukses membuat jantungnya hampir berhenti mendadak. Lampu di seluruh ruang mendadak padam dan untuk kedua kalinya guntur kembali menggelegar seolah menyambar gedung tinggi, bersamaan dengan guyuran hujan yang kian menderas disertai angin kencang.
Suara benda berjatuhan disusul jeritan yang terdengar dari arah kamar tengah mengisi seluruh sudut ruang. Dengan bermodalkan sorot lampu dari ponselnya Nanta bergegas menuju kamar gadisnya. Netranya menangkap ruangan yang berubah seperti kapal pecah oleh benda-benda yang berserakan di lantai, termasuk butir-butir obat yang bertaburan.
Ia segera melangkah masuk, merangsek Laisa yang meringkuk di sudut kamar ke dalam pelukannya. Tubuhnya gemetar disertai tangisan yang terdengar pilu.
Kilat petir masih mengamuk pada seisi bumi. Dan menyambar dengan cahayanya yang panas tanpa ampun.
"La," panggil Nanta memastikan gadisnya.
Tubuh Laisa semakin bergetar hebat dengan tangan menggenggam beberapa pil penenang.
Rezky dan Eliana muncul dengan membawa segelas air putih di tangan. Tatapannya tampak kaku dengan tubuh membeku melihat ruangan yang hancur. Dengan langkah pelannya Eliana berusaha menghampiri Laisa, memberikan segelas air yang dibawanya pada Nanta.
"Minum dulu, La. Tenangin diri kamu." Nanta berbisik dengan masih merengkuh erat tubuh garisnya.
"Nggak ada yang perlu kamu takutkan, La. Ada saya di sini," bubuhnya.
Laisa menggelengkan kepala kuat-kuat bersamaan dengan tubuhnya yang bergetar. Sepasang bibirnya membisu kelu seolah saraf motoriknya telah mati. Sementara kedua matanya hanya mampu menguraikan bening yang membendung pada kelopaknya.
"Takut." Dengan sekuat tenaga Laisa berusaha melirih. Bayangan mengerikan enam belas tahun silam yang sempat terbenam dalam ingatan kini dengan mudah muncul kembali memenuhi isi kepalanya. "Rara," ucapnya menyebutkan satu nama itu seraya menahan pedih sembilu di dalam d**a.
Nanta mengerti dengan rasa pedih itu dan kini gadisnya mesti kembali mengingat hal pahit itu.
"La, Rara udah bahagia bersama Tuhan," ucap Nanta lalu kuat-kuat menggigit bibirnya, menahan perih yang seolah ikut tertancap di dalam dadanya.
"Aku yang bikin dia mati." Laisa tersedu.
"Bukan karena kamu, La. Tapi Tuhan memang sayang sama Rara."
Laisa merunduk. Gelegar guntur yang menyambar kian membuatnya kalut. Bayangan-bayangan hitam itu bermunculan selayaknya hantu dukacita yang menuntut adil padanya. Sementara ia telah terkapar tak berdaya.
"Aku yang bodoh. Aku nggak bisa menolong Rara." Laisa kembali meracau disertai tawa pedih.
Nanta merengkuhnya erat. "Cukup, La. Kamu nggak boleh kayak gini."
Laisa tidak mampu mendengar kata-kata itu. Bayangan hitam dalam jiwanya sudah merengkuhnya lebih dalam. Membuatnya kian terbenam pada rasa pilu dengan sayat sembilu.
"Rara mati karena aku, kan, Nan?" Pertanyaan itu menuntut Nanta untuk mengatakan hal yang sebenarnya. Bahwa jawabannya memanglah iya.
Namun Nanta menggeleng-gelengkan kepala.
"Aku yang bikin dia mati kan, Nan?" Laksa kian menuntutnya.
"Nggak, La. Kamu nggak boleh kembali sama masa itu."
Laisa terdiam. Mengangkat wajahnya dan menatap Nanta dengan kedua bola matanya yang nanar. Dengan gerakannya yang cepat ia beranjak meraih sebilah besi tipis yang tergeletak tepat di kaki meja.
Tidak ada yang mampu mencegah gerakannya yang tiba-tiba. Laisa berdiri seraya mengarahkan pisau itu pada tubuhnya.
"Jangan mendekat," peringkatnya tidak main-main.
"La." Perlahan Nanta berusaha menghampirinya.
"Jangan mendekat!" Laisa memekik. Menatap nyalang pada lelakinya. "Aku nggak mau lihat pembohong seperti kamu!" teriaknya histeris dan tangannya yang bergetar berusaha untuk tetap bertahan.
"Saya bisa jelaskan semuanya. Saya nggak pernah bohong sama kamu." Nanta mencoba mendekati gadisnya dengan langkahnya yang pelan.
"Kamu pembohong!" Laisa semakin murka. "Aku ingat, kamu menyaksikan kejadian itu semua, tapi kenapa kamu diam?!"
"La, semuanya udah pernah kita bahas dan kamu pun mengerti keadaan saya waktu itu." Nanta terus mendekat. Dengan pelan dalam hitungan ketiga ia berusaha merebut sebilah pisau di tangan gadisnya. Nahas, Laisa meronta dengan sekuat tenaga membuatnya tanpa sadar menyayat sisi perut Nanta. Namun lelaki itu justru memeluknya erat usai gegas membuang jauh-jauh pisau yang Laisa genggam.
Rasa pedih mengiris indera perasanya. Namun Nanta tahu, gadisnya hanya sedang tidak stabil karena astraphobia yang dideritanya sejak peristiwa itu.
"Kamu butuh istirahat, La."
Ia membawa Laisa menuju pembaringan tanpa memedulikan darah yang kian m*****i kaos yang dipakainya. Dikecupnya kening Laisa cukup lama.
"Semuanya akan baik-baik saja. Nggak perlu takut lagi." Nanta membisik. Lalu tersenyum memandangi wajah Laisa.
Rezky masih terlihat tak habis pikir dengan badai malam di depan matanya. Bahkan ia baru tahu keadaan Laisa. Bibirnya kelu tak mampu bergerak sedikitpun. Ia terpaku pada dua anak manusia di hadapannya. Namun ia gegas tersadar dan berlalu menuju dapur. Mengambilkan segelas air hangat untuk Nanta.
"Minum dulu, Nan." Ia menyodorkan air hangat itu pada Nanta.
"Makasih, Ky," ucap Nanta menerimanya.
"Lo luka." Rezky memberi tahu pada Nanta yang sepertinya belum sadar.
Tatapan Nanta beralih dari gadisnya yang mulai terlelap tenang lantas turun ke arah pinggang. Memeriksanya sebentar. Namun rautnya tidak menunjukkan ekspresi berlebih.
"Nggak apa. Cuma luka kecil," ujarnya.
Eliana menyodorkan kotak obat pada Nanta. "Biarpun luka kecil, tapi jangan lo sepelekan," pesannya sebelum memutuskan keluar dari kamar.
Nanta hanya mengangguk lalu tersenyum tanda terima kasih.