Cahaya pagi menyeruak ke dalam ruangan melalui celah gorden. Menghamburkan hangatnya yang terperangkap badai semalaman. Ayunan kakinya berhenti tepat di depan nakas kecil samping tempat tidur. Disusul oleh kedua netranya mengedar ke arah jendela besar yang menghadap langsung pada lahan hijau sebuah taman di bawah sana.
Sudut bibirnya terangkat tatkala menatap Laisa tengah berdiri menatap serangkaian awan tipis di langit. "Sarapan dulu, La. Udah saya buatin bubur ayam kesukaan kamu." Nanta berujar seraya melangkahkan kakinya mendekat.
Laisa masih tetap bergeming di tempatnya dengan kedua tangan memeluk tubuh yang hanya dibalut pakaian tipis. "Kamu masih di sini?" tanyanya tanpa menatap Nanta.
"Iya."
"Kan ada kelas pagi. Kamu nggak masuk?"
Nanta menggelengkan kepala. Kedua tangannya bergerak memeluk Laisa dari belakang. "Nggak dulu."
"Aku nggak apa-apa kok." Laisa mengerti pada penyebab Nanta memilih absen dari kelas paginya.
Nanta memilih diam. Lantas dikecupnya tengkuk leher Laisa cukup lama. Memberikan rasa nyaman yang setara pada gadisnya.
"Rezky sama Eliana udah berangkat?"
"Udah. Sekitar sepuluh menit yang lalu. Kamu istirahat aja dulu, ya. Apalagi nanti sore kita harus pulang. Oma pasti bakal seneng banget ketemu cucunya yang satu ini."
"Kamu udah siapin kado buat oma?"
Nanta menggeleng. "Saya bingung." Kemudian terkekeh.
"Ya udah. Nanti siang ikut aku, ya." Laisa memutuskan.
"Ke mana?"
"Ke mana aja." Laisa melirik jahil.
Nanta hanya tertawa kecil. Ia bersyukur dapat melihat senyum gadisnya yang nyaris terenggut oleh badai semalam. "Oke. Kamu sarapan dulu, ya. Saya mau lanjut jemur pakaian," tuturnya diangguki Laisa.
Ia mengecup puncak kepala Laisa sebelum benar-benar beranjak dari sana. Namun langkahnya harus terhenti saat Laksa kembali bersuara.
"Aku mau ke tempat rehab."
Nanta berbalik.
"Kamu bisa antar aku ke sana, kan?"
"Dengan senang hati." Nanta tersenyum tulus. Lantas melanjutkan langkahnya, menutup kembali pintu kamar Laisa. Ia menghela. Malam-malam berat penuh hantu berhasil ia lewati.
Tubuhnya lantas gegas beranjak menuju ruang servis untuk mengentaskan perkejaannya yang tersisa. Ia termangu saat matanya menatap baju Laisa yang sempat terpercik darahnya. Yang kemudian membuatnya cepat meminta Eliana untuk mengganti pakaian gadisnya.
Kepalanya menggeleng cepat ketika harus kembali teringat pada masa itu. Masa yang semestinya tak perlu ia perkenankan untuk singgah lagi dalam ruang pikirnya. Ia pun segera menyelesaikan sisa pekerjaannya. Namun rasa nyeri kembali menjarah area pinggangnya. Nanta segera berjalan ke ruang tengah untuk mengambil kotak obat yang Eliana taruh di samping televisi.
Tanpa disadarinya Laisa muncul dengan mulut terkatup tanpa bertanya kenapa. Ia tahu penyebabnya dan siapa pelaku yang menyebabkan Nanta terluka seperti ini. Tangannya terulur merebut kotak obat itu dari tangan Nanta, membuat lelakinya nyaris tersentak.
"Maaf," lirih Laisa penuh sesal. "Semalam aku—."
"Ssstt." Nanta membungkam mulut Laisa dengan jari telunjuk yang ia tempelkan pada bibir gadisnya.
"Semalam suara petirnya ngagetin." Laisa tertawa hampa.
Nanta paham. Diusapnya bahu Laisa dengan sentuhannya yang nyaman.
"Kamu nggak marah?" tanya Laisa seraya berjongkok di hadapan Nanta. Tangannya sudah siap untuk mengobati luka gores yang ia timbulkan.
"Nggak," sahut Nanta singkat.
"Kenapa nggak marah?"
"Kenapa harus marah?"
"Iya, kenapa coba?"
Nanta mendesah. Terkadang Laisa senang membuatnya merasa sebal dengan sengaja.
"Mau saya marah?" Ia menatap gadisnya yang masih menempelkan obat merah pada lukanya.
Laisa mendongak. Lalu mengangguk mantap.
"Ya Tuhan." Nanta mengeluh. Sementara gadisnya justru terkekeh.
"Lukanya nggak parah. Tapi tetap ngilu, ya?" tanya Laisa.
Nants hanya mengangguk singkat.
"Kamu udah sarapan?" Laisa kembali bertanya seraya menegakkan tubuhnya.
"Udah."
"Kami beneran nggak mau ke kampus? Kamu udah banyak absennya loh, Nan. Nanti kalo harus ngulang gimana?"
Nanta menghela panjang. Menatap gadisnya dengan wajah datar tanpa ekspresi sama sekali.
Melihat tatapan itu membuat Laisa ingin segera enyah dari hadapan Nanta. "Ya udah. Aku mandi dulu, ya. Abis ini antar aku ke tempat rehab." Ia pun melesat. Namun saat kakinya baru terayun dua langkah, Laisa membalikkan tubuhnya dan kembali mendekat. Lalu dalam hitungan detik ia menyesap bibir Nanta dengan lembut.
Seketika Nanta terpaku dengan aksi yang Laisa lakukan padanya. Ia menatap gadisnya yang tersimpul senyuman dan kembali bergerak memberi jarak.
"Aku mandi dulu." Laisa mengulangi perkataannya. Langkahnya pelan beranjak. Seolah jika dirinya bergegas patung berbentuk Nanta itu akan runtuh.
Gadisnya sudah menghilang di balik pintu kamar mandi. Nanta menggeleng-gelengkan kepala. Semestinya ia sudah tidak perlu seterkejut itu dengan tingkah Laisa yang kerap tiba-tiba berubah aneh. Namun, ia tertawa pelan. Bukan untuk menertawakan kekonyolan gadisnya, melainkan menertawakan dirinya sendiri saat membeku tadi.
***
Sepasang netra Laisa menatap wajah yang tampak ramah di hadapannya. Disusul senyum simpul usai meminta keterangan dari kondisi psikologisnya belakangan ini.
"Aku nggak ngerti. Aku udah capek, Dok." Laisa mengeluh. Suaranya terdengar bergetar menahan parau.
Ruangan senyap. Sosok wanita yang dipanggil dokter masih memandangi wajah Laisa dengan ekspresinya yang ramah. Membiarkan Laisa mengungkapkan isi benaknya.
"Kadang aku pengen bunuh diri."
Pernyataan itu membuat derap detak jantung Nanta berpacu cepat, meski pelan namun itu terdengar begitu jelas di sepasang indera pendengarannya. Tatapan yang mengarah pada sekotak lantai di bawahnya seketika menegak pada sosok Laisa.
"Tapi itukan nggak mungkin." Laisa terkekeh. "Aku pernah mencoba untuk bunuh diri, tapi nggak pernah berhasil. Padahal aku udah yakin banget." Kepalanya merunduk.
"Seberapa sering pikiran percobaan bunuh diri itu datang?"
"Setiap aku ingat kejadian itu. Dan aku, selalu butuh orang buat disalahkan. Lagi-lagi Nanta—." Ucapannya terpenggal oleh sesak yang membeludak di dalam dadanya. Ia menarik napas, demi mampu melanjutkan kalimatnya.
"Lagi-lagi Nanta yang aku salahin. Padahal aku pun tau, dia juga terpukul atas kepergian Rara yang ternyata jadi teman baiknya selama dia terapi." Laisa kembali menegakkan tubuhnya. Berusaha tetap menatap sang dokter yang kemudian memintanya berbaring pada kursi terapi.
"Pejamkan mata kamu. Usahakan untuk tetap relaks."
Nanta dapat melihat itu di tempatnya duduk. Melihat gadisnya dan segala kecemasan yang selalu menghantui ruang pikirnya. Nahas, ia tak sepandai Laisa untuk mengungkapkan segala ekspresinya terutama mengenai bayangan hitam di masa lalunya. Ia justru lebih memilih untuk memendam dan membungkam itu semua, meski rasanya sudah tak mampu lagi ia simpan sendiri.
"Coba bayangkan lagi masa-masa itu."
Teriakan yang terdengar nyaring seketika lenyap, bersamaan dengan tubuh yang tumbang pada permukaan air kolam usai sebilah belati melayang dan menancap dengan tepat di dadanya. Sosok pria dengan perawakan tinggi serta berisi tertawa puas. Sekaligus mengabaikan pekikan parau dari seorang gadis kecil yang terkurung dalam sebuah kamar berteralis.
Matanya yang seperti mutiara tak mampu lagi menahan hujan deras dari korneanya, tatkala cairan merah mulai menyebar mewarnai permukaan kolam. Ia terus berteriak, memekik sekuat tenaga dengan hasil yang sia-sia. Rara tetaplah tak berdaya dengan tubuh tenggelam dan berakhir mengambang di permukaan kolam.
Nanta menekan ujung pangkal hidungnya. Itu bukan hanya menjadi mimpi buruk bagi Laisa, tapi juga bagi dirinya. Baginya yang menyaksikan itu semua dan justru malah terpaku sebelum akhirnya tak sadarkan diri dengan denyut jantung dan deru napas yang nyaris berhenti.
Terdengar Laisa memekik keras serta meronta kuat seolah ingin meraih kembali tubuh mungil yang nahas itu. Namun sayang, bayangannya terlalu nyata untuk bisa diwujudkan. Bayangan tetaplah bayangan. Lalu membias pada masa lalunya yang mengerikan.
Ia lantas tersadar pada posisinya yang begitu ingin mendekap erat sosok Rara. Tubuhnya kembali bergetar.
Dokter memberikan segelas air putih untuk menenangkan Laisa. "Apa yang kamu rasakan?" tanyanya.
"Takut." Laisa melirih bersamaan dengan air mata yang jatuh di pipinya.
"La." Dengan akrab sang dokter memanggil. "Kamu nggak perlu lagi takut dan cemas. Percayalah, Rara sudah menjadi bidadari yang senantiasa duduk bersampingan dengan Tuhan. Kamu harus percaya itu, Sayang," ucapnya lembut seraya mengusap pipi Laisa dengan hangat.
"Tapi Dokter Marine, aku menyesal."
Dokter Marine tersenyum hangat. "Kamu butuh waktu untuk mengikhlaskan semuanya." Tangannya bergerak mengusap bahu Laisa. "Percayalah, Tuhan memiliki segala rencana yang indah untuk kamu," lanjutnya yakin.
Laisa hanya mampu mengangguk.
***
Laju motor berhenti tepat di sebuah toko dengan ornamen hijau dan dinding kaca yang tampak bening tak bernoda.
"Kamu oke?" tanya Nanta saat melihat wajah pucat Laisa dari pantulan kaca spionnya.
Laisa membalas sepasang netra yang tertuju ke arahnya dari kaca spion itu dengan senyuman. "Nggak apa," suaranya.
Nanta tampak tidak yakin. Sementara gadisnya masih diam duduk di jok padahal motor yang di tumpanginya sudah berhenti.
"Gimana perasaan kamu yang juga melihat Rara meninggal karena kebiadaban Om Sera?" tanyanya tiba-tiba.
Nanta terpaku. Bibirnya membungkam rapat.
"Sedih? Terpukul?" Laisa mengangkat kedua alisnya dengan terus menatap Nanta dari pantulan kaca spion.
Nanta memutar kepalanya ke belakang. "Kita sama, La." Ia menarik napas. "Namun kamu lebih beruntung, bisa mengungkapkan rasa terpukulmu dengan tangisanmu."
Laisa menatap Nanta tanpa berkedip sekalipun.
"Saya? Pernahkah kamu lihat saya menangis?"
Gadisnya menggeleng. "Kamu terlalu memendam semuanya," ungkap Laisa tanpa ragu dan hanya berbalas senyuman Nanta yang pahit.
Ia kemudian turun dari tumpangan Nanta. Berjalan masuk menuju ruangan yang begitu sejuk. Berbagai macam bebungaan tampak terawat dengan baik.
"Kamu masih bisa bikin puisi, kan?" tanya Laisa dengan netra terus mengamati bunga anyelir di depannya.
"Kenapa?" Nanta tidak yakin untuk menjawab iya atau hanya sekadar menganggukkan kepala.
"Oma suka puisi. Dulu waktu Opa masih hidup, Opa sering ngasih Oma puisi."
"Lalu?"
"Coba kamu buat puisi yang romantis untuk Oma. Aku yakin Oma bakalan suka, atau seenggaknya Oma mau menyimpan puisi sama bunganya."
"La, kita ini beda tingkatan kasta. Dan itu nggak bisa ditebus dengan kata-kata."
Laisa menoleh menatap Nanta dengan lekat. "Tapi opa nggak pernah mencintai Oma karena hartanya."
Nanta malas berdebat. Sayang, gadisnya masih ingin melanjutkan perdebatannya.
"Asal kamu tau, Nan. Opa cuma seorang pria yang berjualan bunga di pinggir jalan dan harus jatuh cinta dengan pelanggannya."
"Dan kemudian, banyak dukacita yang hadir dan nyaris menghancurkan kebahagian mereka." Nanta melanjutkan. "Oma kamu cuma nggak mau hal itu terulang, La. Apalagi saya hanyalah rakyat jelata yang nggak punya garis keturunan sebagai kalangan ksatria."
"Cukup." Laisa menekan tegas. "Kamu terlalu ngebeda-bedain, deh," jengahnya.
"Saya nggak ngebeda-bedain, saya cuma mau menyampaikan apa yang Oma kamu mau untuk cucunya."
Gadisnya mendengus. Tampak rasa kesal yang ia tahan kuat-kuat.
"La, Oma cuma nggak mau kalau kamu harus merasakan pahitnya yang pernah Oma alami."
"Sejauh mana kamu tau tentang Oma?" Tanpa sadar Laisa bertanya dengan nada ketus.
Nanta justru diam dan kembali membungkam sepasang bibirnya. Ia baru tersadar dengan beberapa pengunjung yang menatapnya, menonton adegan cek-cok antara dirinya dengan Laisa. Sementara gadisnya tampak tidak begitu peduli.
"Kamu seharusnya ingat kalau kebahagiaan nggak akan pernah bisa dibeli oleh kekayaan harta."
"Oke. Mungkin bisa kita bahas nanti setelah pulang." Tatapan Nanta mengedar pada pengunjung toko yang masih mencuri-curi pandang dengan rasa penasaran.
"Aku nggak peduli." Laisa mendekap kedua tangannya ke d**a dengan erat.
"Saya cuma nggak yakin kalo Oma bakalan suka dengan hadiah yang saya beri." Nanta berusaha menekankan suaranya.
Laisa mengembuskan napasnya. "Gimana kamu aja, deh," serahnya mengangkat kedua tangan. Lantas berlalu begitu saja menuju pintu.
"La." Nanta gegas menyusul ayunan langkah gadisnya. Berusaha meraih pergelangan lengannya saat Laisa hendak menghentikan taksi yang melintas.
"Oke," putusnya.
"Oke apa?" Laisa masih menatapnya dengan netranya yang tegas.
"Saya coba," ucap Nanta. "Nggak peduli Oma akan suka atau nggak. Karena yang pasti saya nggak suka hal yang sia-sia."
Laisa berdecih kemudian melipat kedua tangannya di d**a. "Belum juga dicoba udah bilang sia-sia."
"Apa boleh buat." Nanta mengedikkan bahu. Lalu melangkahkan kakinya kembali masuk ke toko.
"Oke, kita lihat aja nanti. Oma bakal suka atau nggak. Dan kalo Oma suka atau seenggaknya nyimpan bunga pemberian kamu, kamu harus bayar ke aku dengan seperangkat mahar dibayar tunai," oceh Laisa seraya membuntuti langkah Nanta.
Nanta menghentikan langkahnya lantas berbalik menatap gadisnya. "Itu taruhan?" tanyanya memastikan.
"Iya." Laisa mengangguk dengan mantap.
"Kalau ternyata Oma nggak suka?" Ditatapnya Laisa dengan lekat.
"Aku yang akan bayar seperangkat mahar itu ke kamu," jawab gadisnya tampak tidak main-main.
Nanta terpaku. Sekujur tubuhnya seolah kembali membeku. "Kamu bercanda, kan?" Ia kembali memastikan.
"Aku serius." Laisa menegaskan.
"Jangan main-main, La," peringat Nanta.
"Aku nggak main-main." Laisa membalasnya penuh penekanan.
Namun kepala Nanta menggeleng tidak percaya. Ia kembali berbalik dan melanjutkan langkahnya.
"Kok kamu nggak percaya sama kata-kata aku, sih?" tanya Laisa lagi berusaha mengejar.
Nanta memilih abai.
"Nan, hal kayak gini nggak mungkin aku buat sebagai permainan." Laisa masih tetap meyakinkan.
"Iya." Nanta pasrah. "Menurut kamu bagus yang mana?" tanyanya mengalihkan pembicaraan sambil memilih bentuk bunga anyelir di hadapannya.
Laisa menghela napas. Lantas menunjuk bunga yang sedang Nanta pegang dengan arah bola matanya. "Tuh, yang kamu pegang. Oma suka warna itu."
"Kalo kamu suka yang mana?"
"Kamu mau ngerayu?"
"Ya, masa ngerayu pacar sendiri nggak boleh, sih?" Nanta mendengus.
Laisa menyerah. Ia berlalu menghampiri sederet tumbuhan kaktus yang tak jauh dari tempat Nanta berdiri. "Aku suka ini," unjuknya. "Buat di kamar kayaknya bagus, deh." Kemudian tampak mengawang.
"Ya udah ambil."
Laisa tersenyum semringah. "Oke."
Nanta pun tak luput untuk menyimpulkan senyumannya. Tak lama ponsel di saku celananya terasa bergetar. Membuatnya mesti mengambil jarak yang cukup dengan gadisnya. Ada nomor bapak tertera di layar ponselnya.
Dengan penuh pengertian Laisa mengiakan. Membiarkan lelakinya keluar lebih dulu dari toko. Sementara, ia mengayunkan kaki menuju kasir.