Sepasang kakinya sudah mengayun keluar dari balik pintu kaca toko. Seraya mengarahkan irisnya pada sesosok tubuh yang tengah berkacak pinggang dengan satu tangan lain masih menempelkan ponselnya di telinga. Laisa memilih untuk mendaratkan bokongnya pada bangku taman yang tersedia di teras toko. Ia melirik pada arloji kecil yang melingkar di pergelangan tangan. Lalu kembali menatap ke arah Nanta yang masih mengobrol dengan lawan bicaranya di seberang saluran. Sudah lima menit berlalu ia memperhatikan Nanta yang sesekali menganggukkan kepala. "Siapa, sih?" interogasi Laisa saat Nanta kembali mengantongi ponselnya. "Tiffany," jujur Nanta seraya meraih helm untuk kemudian ia berikan pada gadisnya. "Ngapain dia?" Laisa menerima helm itu. "Mau minta LPJ kegiatan bulan lalu, tapi baru saya g

