"Panji." Oma memanggil pemuda itu untuk berdiri di sisinya juga di sisi wanita tua yang tak lain adalah neneknya. "Laisa, Sayang," lanjut Oma meminta Laisa untuk mendekat. Kepala Laisa justru tertoleh pada sosok Nanta yang masih berdiri di sampingnya. Menatap lelaki itu dengan tanda tanya yang seakan memenuhi isi kepalanya. Bahkan tidak hanya dirinya, tampak dari raut yang tengah menatap lurus penuh perhatian pada kedua sosok itu, para tamu undangan yang datang pun seolah-olah menaruh pertanyaan yang sama. "Sudah, La. Kita selesai. Tugas saya sudah selesai," ucap Nanta membuat Laisa mematung. Lantas berpaling menatap Andrean, ia merunduk sebelum pamit dan hanya menyisakan segaris lengkung manis diingatan gadisnya yang sekarang sudah bukan lagi. Nanta beranjak meninggalkan tempatnya ber

