“Nan.” Teddy melongokkan kepala pada jendela yang terbuka lebar sementara daun pintu malah tertutup rapat. Bocah itu lantas berdecak melihat seonggok tubuh yang masih terlentang di atas tempat tidur menikmati mimpi-mimpi yang akan tetap semu dengan sarung yang dibiarkan melinngkar di tubuhnya.“Lah, Si Cunguk masih tidur.” Ia menggerutu lantas kembali menarik kepalanya keluar dan gegas menyambar pintu. Menerobos masuk begitu saja seakan sudah tidak lagi memerlukan kata permisi. Serta entah sejak kapan dan apa yang menjadi alasan ia memanggil Nanta dengan sebutan ‘Cung’ yang berarti cunguk. Mungkin sejak pertama kali ia menemui Nanta di balik gedung fakultas dengan penampilannya seperti ata-mata kelas teri. “Bangun, Nan.” Teddy mengguncangkan tubuh Nanta yang tertelungkup di atas kasurnya.

