KTA'S 17 - Black Fog

2204 Kata
Andrean menyimak air muka yang seolah selalu tampak terbasuh sejuknya embun-embun yang bermunculan saat fajar tiba, tanpa mengetahui angkuh dari gelapnya malam yang melintas begitu saja dan tanpa memedulikan cahaya temaram yang sesaat lagi hendak padam. Nanta melepas kemejanya yang hanya menyisakan kaos oblong lantas duduk di tepi ranjang. "Papa tau dari mana kalo Nanta nunggak bayar sewa kosan?" tanyanya. "Perlu Papa jelaskan?" Andrean berbalik tanya. Sungguh, ini membuat Nanta harus kian rapat-rapat menyembunyikan jengahnya. Ia hanya mengedikkan bahu sebagai respon pertanyaan Andrean. "Maaf, Pa. Kalo suatu hari Nanta harus melepaskan Laisa. Karena Nanta sadar dan seharusnya memang sejak dulu Nanta sadar bahwa jalan kami memang berbeda," ucap Nanta berharap Andrean akan mengerti. "Ya. Papa tau," respon Andrean menepuk bahu Nanta. "Oh iya, nanti biar Nanta ganti biaya sewa kos yang udah Papa bayarin ke Bu Mira." Ia tersenyum. "Nggak perlu. Anggap aja ini hadiah dari Papa buat kamu, ya." Nanta menggeleng. "Nanta tetep bakal ganti, Pa. Makasih banyak udah mau bantu Nanta." Perkataan Nanta membuat Andrean mendesah berat. "Papa udah anggap kamu seperti anak Papa sendiri. Jadi, nggak perlu kamu ganti." Nanta menatap Andrean dalam. Ia kembali mengawang andai Bapak seperti sosok Andrean. Ah, rupanya benar bahwa cinta pada orang tua bukanlah cinta sejati. Sebab, seorang anak tak pernah bisa memilih siapa yang ingin ia jadikan sebagai orang tuanya, dan begitupun sebaliknya. Meski orang tua memiliki dua pilihan yang senantiasa dapat menjadi salah satu kehendaknya, yaitu antara memilih untuk melahirkan sesosok anak atau tidak. "Mau ngopi, Pa? Nanta dapet oleh-oleh kopi Toraja dari Bang Johan," tawarnya seraya berjalan pada kotak kecil berisi makanan instan yang ia taruh di atas rak buku. Lantas mengambil sebungkus bubuk hitam berukuran sedang dengan aromanya yang khas. "Boleh. Papa udah lama nggak nyobain kopi buatan kamu." Dengan senang hati Andrean menerima tawaran itu. Nanta berlalu menuju dapur. Selang lima menit ia kembali dengan membawa dua cangkir kopi hitam dan satu toples kecil gula pasir. Lalu duduk tepat di depan Andrean. "Kopinya nggak Nanta kasih gula. Biar Papa sendiri yang kasih gula sesuai selera," jelasnya. Andrean hanya tersenyum. Tak lama hening menyelubung. Namun detik berikutnya sambil menuangkan sepucuk sendok gula ke dalam seduhan kopi ia kembali bersuara. "Gimana?" Dan sorot matanya tertuju pada Nanta. "Soal?" tanya Nanta kurang mampu memahami arah pertanyaan Andrean. "Soal kamu. Apa yang sudah membebanimu, Nan?" Andrean memperjelas pertanyaannya. Nanta diam sejenak seraya menghela napasnya singkat. Bagi dirinya yang kerap terpenjara oleh isi pikirannya sendiri, rasanya tidak ada yang perlu ia ceritakan pada siapapun. Rasanya lebih baik masalah itu ia pendam sedalam-dalamnya. Dalam lamunannya ia menggeleng. Andrean paham arti gelengan kepala itu, yang memiliki arti tersendiri bagi Nanta dan batinnya. "Kalau bisa kita rasakan lebih, hidup itu seperti secangkir kopi dengan sedikit gula. Sepahit-pahitnya hidup, pasti memiliki kadar manisnya sendiri. Entah itu dari sebuah kenangan atau masa depan." Andrean membuka suara lantas menyesap kopinya pelan. Nanta mengangkat wajah. Ia menatap Andrean dengan kedua sudut bibir yang terangkat, meski sedikit. Ada rasa panas di kedua bola matanya, membuatnya seolah tengah di hadapkan dengan setumpuk bara di atas perapian. Ia menghela panjang, berupaya menguraikan resahnya. Namun, untuk ke sekian kalinya semua itu tertahan seakan ada penadah yang selalu menghalangi tetesan hujan dari atap rumah. Ia menyesap kopi yang masih mengepulkan asapnya ke udara. Pahit. Sepertinya cocok untuk menggambarkan bagaimana hari-harinya ke depan. Hingga setidaknya ia dapat menyiapkan diri. "Kamu sudah tau soal pertunang-." Kata-kata Andrean terputus. "Laisa dengan Panji?" tanya Nanta cepat. "Iya." "Udah, Pa." Nanta menggenggam cangkir yang terasa mencucuh telapak tangannya. Ia merunduk merasa tidak berdaya untuk kembali menatap Andrean. "Maaf, Papa nggak bisa mencegahnya." Tangan Andrean terulur menggapai punggung Nanta untuk mengusapnya. "Tapi kamu tetap Papa anggap sebagai anak laki-laki Papa sendiri." Andrean berusaha menabahkan. Nahas, hati Nanta tidak pernah mampu selapang itu untuk menerima perpisahan. "Laisa udah tau, Pa?" Pertanyaan Nanta dijawab dengan gelengan kepala Andrean. Nanta merasakan isi dadanya seolah berhambur selayaknya daun-daun gugur. "Kenapa nggak Papa kasih tau?" "Itu permintaan eyangnya." "Jadi ...." Bibir Nanta kembali mengatup. Ia tak sanggup lagi melanjutkan kata-katanya. "Kamu harus tetap datang, Nan." Andrean setengah memohon. Meski ia pun tahu bagaimana pilunya seorang Nanta untuk menahan cabikan sembilu di dalam dadanya. Namun, pemuda itu merespon dengan seulas garis tipis di bibirnya yang terangkat seraya mengangguk. Obrolan berakhir kala sinar matahari kembali menjemput peraduannya, lantas menarik bayang-bayang menuju hari yang kian petang. Lampu temaram tampak terpaksa menyala dengan sisa sinarnya. Ia berjalan mengantarkan Andrean sampai gerbang besi kecil yang hanya setinggi batas pinggangnya. "Hati-hati di jalan, Pa," ucap Nanta usai mencium punggung tangan Andrean. "Ya." Andrean menepuk kepala Nanta pelan seraya menyayanginya seperti anak sendiri. "Kamu baik-baik di sini, ya. Jaga kepercayaan orang tuamu," pesan Andrean sebelum berlalu masuk ke dalam mobil dan duduk di belakang setir kemudinya. Nanta hanya mampu mengangguk. Ia mematung dengan mata terus terarah pada laju mobil yang kian menjauh. Menghilang di balik perempatan jalan menuju gerbang komplek tepat samping tembok pembatas kampus utama. Kakinya kembali bergerak memasuki pelataran rumah kos. Tertunduk dan menghela berat. Dengan langkah lesunya ia terus melangkah, hingga ada satu bayangan yang menyentuh kakinya membuat Nanta berhenti. Ia mengangkat kepala lantas menatap sosok yang tengah berdiri di ambang pintu utama. Seutas garis bibirnya terangkat disusul dengan satu tangannya menyodorkan sekaleng minuman soda. "Ke atap, yuk," ajaknya. Nanta mengekornya. Berjalan di bawah remang lampu pijar yang menerangi tangga menuju lantai tiga. Teddy duduk di tepi balkon lalu menyandarkan punggungnya pada tembok pembatas di belakangnya. "Lo ada rencana lanjut kuliah di luar negeri?" tanyanya membuka obrolan. Kepala Nanta menggeleng tampak tidak berminat. "Saya malah punya rencana buat berhenti kuliah aja," jawabnya membuat Teddy segera memalingkan wajah ke arahnya. "Gila, lo. Nanggung amat, kita cuma tinggal tiga semester lagi," komentarnya tidak setuju. "Saya nggak pernah mau ada di sini, Ted." "Iya. Gue paham. Terus lo mau berhenti gitu aja?" Hening. Nanta mengambil jeda sejenak. Tatapannya ia lepas pada panorama horison di kejauhan sana. Memandang sisa mega merah yang perlahan lenyap ditelan gulita sang malam. "Saya nggak berhenti. Cuma mau cari jalan lain yang benar-benar saya kehendaki." "Oke. Gue hargai apa yang lo mau. Tapi saran gue, tuntasin yang sekarang lagi lo jalani. Soal apa yang lo mau cari, itu bisa nyusul, kok." Benar. Teddy memang benar. Namun bagaimana mungkin ia berdiri di atas oak berduri. Tubuhnya merebah pada lantai dingin yang merengkuhnya bersama udara. Mengabaikan sekaleng soda yang semula berada dalam genggamannya. "Gimana Tiffany?" Ia mengalihkan pembicaraan. Teddy meliriknya dengan malas. "Tau deh. Dia orangnya ideologis banget." "Ideologis gimana?" "Dia terlalu teguh sama pendiriannya." "Maksudnya?" "Dia memilih mencintai daripada dicintai." "Terus kamu sendiri?" Teddy mengedikkan bahu. "Gue terlanjur menaruh rasa sama dia," jujurnya lesu. "Tapi dia, justru terlanjur nyaman sama orang itu." "Kamu tau siapa orangnya?" Teddy menggeleng pelan. "Gue aja tau dari lo. Selama ngobrol tadi siang pun, dia nggak pernah ngomongin orang itu." "Lo sendiri tau?" Teddy balik bertanya. "Nggak." Nanta mengawang. Pikirannya seolah terbang mengikuti pesawat yang melintas di atas kepalanya. Untuk kedua kalinya hening hadir seolah memberi jeda pada obrolan mereka. *** Suara ketukan pintu mendominasi ruang jurnalistik yang sunyi. Pandangan Nanta pada layar monitor teralihkan ke arah pintu yang hanya terbuka sedikit. Seonggok tubuh muncul dari sana, melenggang santai melewati beberapa meja dan berhenti tepat di samping Nanta. "Pak Samir dari kemarin nyariin lo, Nan. Lo udah ketemu?" tanyanya sambil menarik bangku samping Nanta lantas mendaratkan bokongnya. "Belum," jawab Nanta singkat. "Temuin, gih. Mumpung lagi ada di ruangannya," titahnya. Nanta tidak lantas segera menurut. Ia memutar tubuhnya hingga berhadapan lawan bicaranya. "Fan," panggilnya. "Iya." Gadis itu menyahut tanpa menolehkan kepalanya ke arah Nanta. "Boleh saya tanya sesuatu sama kamu?" Nanta melanjutkan. "Soal?" Ruangan sunyi menempatkan Nanta pada saat-saat yang tepat untuknya menanyakan hal yang cukup lama ia simpan. "Soal kamu yang terlanjur nyaman sama orang itu." "Orang mana?" Tiffany mengernyit. Menahan sebongkah unit yang berdebar di dalam tubuhnya dalam diam. Ia pun merasakan darahnya berdesir cepat ke seluruh tubuh. "Orang yang kamu ceritain waktu kita ngobrol di teras rumahmu tempo lalu." "Oh." Tiffany diam sejenak. "Kenapa emangnya?" "Boleh saya tau siapa orangnya?" "Buat apa?" Nanta diam. Tidak mungkin ia menjawab kalau hanya ingin tahu saja. "Cuma pengen tau?" tanya Tiffany seolah mampu membaca isi kepala Nanta. Nanta menggeleng. "Udah, lah. Nggak penting. Lagian doi juga udah punya cewek." Tiffany mengibaskan tangannya. "Udah punya?" Nanta mengulang dengan penuh tanda tanya. Tiffany mengangguk. "Kenapa nggak coba cari yang lain?" tanya Nanta lagi. Tiffany mendesah panjang. Ia membalikkan tubuhnya hingga berhadapan dengan Nanta. "Kenapa sih, Nan? Emangnya penting banget?" Nanta mengangguk dengan mantap. "Ya penting dong." Ucapannya membuat Tiffany kembali menautkan kedua alisnya. "Segitu pentingnya sampe lo nanya-nanya?" "Iya." Nanta bangkit dari duduknya. "Ya udah. Saya mau ketemu Pak Samir dulu. Kasian dia, nunggu saya kayak nunggu jodoh. Lama." Ia terkekeh. Tanpa sadar Tiffany ikut tertawa. *** Dari jendela luar tampak sosok laki-laki tua tengah duduk berhadapan bersama mahasiswinya, dengan tangan memegang sebuah paper dan mata yang tersorot serius pada lembar-lembar kertas itu. "Permisi, Pak." Tangan Nanta mendorong kenop pintu lantas masuk ke ruangan. Rasa sejuk menyentuh permukaan kulitnya yang sempat terpapar teriknya matahari jam sepuluh pagi. Mahasiswi itu ikut menoleh berbarengan dengan kepala Pak Samir yang bergerak mengarah pada Nanta. "Akhirnya kamu datang juga, ya." Pak Samir berkomentar dan Nanta hanya tersenyum menanggapi komentarnya. Mata Nanta sekilas tertuju pada mahasiswi yang masih duduk berhadapan dengan Pak Samir. "Silakan duduk." Pak Samir mempersilakan sebelum tatapannya tertuju pada sesosok gadis di hadapannya. "Laisa, materi yang kamu tuliskan sudah lebih baik dari sebelumnya. Dan selebihnya masih ada koreksian dari saya yang nanti akan saya kirim melalui email, ya," ujar Pak Samir dan selama itu tatapan Nanta belum juga teralihkan dari gadisnya. "Hanya sedikit revisian lagi, setelah itu kamu bisa mengajukan beasiswa program S2 di kampus yang kamu tuju," tambah Pak Samir yang lantas diangguki oleh Laisa. Nanta tidak terkejut mendengar penuturan Pak Samir. Ia sudah tahu itu meski jarang sekali membahasnya. "Untuk revisiannya akan segera saya kirim dalam minggu ini," ujar Laisa. "Kalau begitu saya permisi," pamitnya kemudian. Pak Samir mempersilakan. Sepeninggal Laisa perhatiannya tertuju penuh pada Nanta. "Bapak ada rekomendasi universitas yang cocok untuk kamu melanjutkan program S2. Itu pun kalau kamu bersedia," ujar Pak Samir tanpa membuka basa-basi Pak Samir. Nanta terkekeh. "Saya belum terpikirkan sampai sejauh sana, Pak. Bahkan untuk semester depan saya berniat untuk mengambil cuti selama dua semester." Tanpa bertanya kenapa, Pak Samir mengarahkan kedua netranya pada Nanta dengan menaruh penuh perhatian. Seakan menerawang jauh berusaha menerobos ruang pikir Nanta yang selalu dikuncinya rapat-rapat. "Saya mau ikut kegiatan kerelawanan," dalih Nanta kemudian. Pak Samir mengangguk-angguk. "Tapi Bapak harap kamu mau mencoba untuk lanjut ke program S2." Nanta sejenak berpikir. "Untuk kelanjutannya nanti saya beri tahu Bapak lagi. Mungkin saya butuh waktu untuk mempertimbangkannya," putusnya kemudian. Pak Samir diam. Mengambil jeda sebelum kembali berbicara. "Ini. Rekomendasi universitas dari saya. Bapak harap bisa kamu pertimbangkan baik-baik, ya." Lantas tangannya menyodorkan beberapa lembar kertas pada Nanta. "Terima kasih banyak, Pak. Akan saya pertimbangkan sebaik mungkin." Seutas senyum Nanta tujukan pada Pak Samir. "Apa ada hal lain yang mau Bapak bicarakan lagi? Kebetulan dua puluh menit lagi saya harus masuk kelas." Pak Samir mengangguk. "Ya, dan Bapak yakin kamu mau menerima tawaran ini tanpa harus pikir panjang lagi." "Tawaran apa?" Nanta tampak tertarik. "Menjadi relawan literasi di pesisir pantai untuk merangkul anak-anak kurang mampu agar tetap bisa belajar setara dengan mereka yang sekolah secara formal." Pak Samir menatap Nanta yang terlihat tengah menimbang-nimbang. "Bagaimana?" Kepala Pak Samir sedikit menunduk untuk dapat membaca keputusan yang akan Nanta ambil melalui sorot matanya. "Saya pertimbangkan dulu ya, Pak. Insyaallah, secepatnya saya beri keputusan pada Bapak," ujar Nanta. Pak Samir mengangkat sebelah alisnya. "Memangnya apa lagi yang harus kamu pertimbangkan? Ini kesempatan bagus." "Ada beberapa pekerjaan yang memang harus segera saya selesaikan dalam waktu dekat, Pak." Nanta berdalih lagi, meski sebenarnya ada perang antara jiwanya dengan semesta yang mestinya segera ia redakan. Pak Samir mengangguk kembali. Berusaha mengerti dan menerima alasan yang Nanta berikan. "Baik. Bapak tunggu keputusan kamu," ucapnya penuh harap. "Kalau begitu saya permisi lebih dulu, Pak. Masih ada kelas yang harus saya ikuti." Nanta membungkuk sopan. "Iya, silakan." Pak Samir menjulurkan tangannya untuk mempersilakan. Nanta beranjak meninggalkan Pak Samir seorang diri di ruangannya. Namun tatkala tangannya bergerak menutup pintu kembali, desir darahnya seakan membeku pada satu titik yang kini tengah berdiri di depannya. "Kamu kenapa harus ambil cuti?" tanya gadisnya dengan sorot mata penuh keseriusan. Ia tampak tidak main-main dengan pertanyaannya. Sayangnya Nanta membungkam. Menatap Laisa dengan kening berkerut seolah dipenuhi segudang tanda tanya. "Tadi aku dengar obrolan kamu sama Pak Samir," ucap Laisa. Nanta masih mengatupkan kedua bibirnya. "Ternyata masih ada banyak hal yang belum aku tau." Laisa mendesah. Nanta meraih pergelangan tangan Laisa. Membawanya menepi dari keramaian ruang jurusan dan berhenti tepat di bawah tangga yang sepi. "La. Nggak semuanya, kan, harus saya ceritain ke kamu? Karena bagi saya, barangkali hal itu justru menambah beban kamu." "Liat, Nan. Apa aku pernah ngerasa terbebani selama aku sama kamu?" Laisa menunjukkan wajahnya. Memang, yang Nanta lihat pun sebuah raut penuh rasa tulus. Selayaknya pohon yang memberi teduhnya pada seorang gembala yang letih. Selayaknya oase yang memberikan airnya pada tanaman-tanaman di Padang kering. Namun, bagaimana semua itu bisa Laisa berikan, sementara dirinya pun tengah berhadapan dengan asap hitam yang hendak merenggutnya? Tangan Nanta terangkat menyentuh puncak kepala Laisa dan mengusapnya penuh rasa sayang.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN